
Banyak hal sepele yang bisa kita lakukan di sekolah dan kampus untuk iku mengurangi efek pemanasan global. Salah satunya, mengurangi pemakaian kertas. Kita ambil contoh yang di gunakan untuk skripsi mahasiswa tingkat sarjana.
Sebuah skripsi rata-rata membutuhkan kertas HVS A4 setebal 100 halaman (di teknik kimia bisa 500 halaman lebih). Pada umumnya kertas itu digunakan satu sisi. Sisibaliknya kosong. Satu biah skripsi biasanya digandakan empat kali, untuk nahasiswa bersngkutan, dosen pembimbing, dosen penguji, dan arsip kampus. Kadanag penggandaan atau lebih dari empat. Artinya, sebuah skripsi butuh 400 lembar kertas kosong. Itu belum termasuk kebutuhan kertas untuk draft pada saat dikoreksi atau kebutuhan untuk proposl skripsi.
Jika di Indonesia tiap tahun ada 4,5 juta mahasiswa, berarti ada 3,6 juta rim kertas HVS terpakai. Mari kita hitung berapa banyak pohon di tebang untuk kebutuhan kertas sejumlah itu. Berdasarkan perhitungan www.howstuffworks.com satu batang pohon pinus berumur lima tahun dengan diameter 30 cm dan tinggi 18 meter hanya menghasilkan 168 rim kertas HVS ukuran A4 dengan berat gramatur kertas (berat/m2) 70 gram. Berarti setiap tahun mahasiswa Indonesia secara tidak lansung menebang 21.428 Pohon pinus untuk kebutuhan skripsi.
Gamabaran ini saja bisa menunjukan kepada kita betapa banyak pohon yang harus ditebang untuk menunjang kepada pendidikan kita. Jika semua civitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, sepakat untuk menggunakan kedua sisi kertas untuk skripsinya, maka kita bisa menghemat kebutuhan separuhnya
Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan teknologi digital yang semakin maju. Untuk proposal skripsi, misalnya kita bisa menggunakan flash disk, bukan kertas HVS. Jika semua tahap koreksi dengan menggunakan filedalam bentuk digital, kita bisa menghemat kertas dalam jumlah yang cukup signifikan.
Cara itu bisa dilakukan oleh dosen saat member materi kuliah. Dosen biasanya member materi kuliah dalam bentuk fotokopian di kertas HVS. Tak jarang,yang di fotokopi adalah materi presentasi dengan huruf yang masih besar-besar sehingga membutuhkan banyak kertas. Apalagi jika dosen memberikan materi dalam bentuk file digital (soft copy), tentu aka nada lebih banyak lagi kertas yang di hemat.
Untuk mengurangi pemakaian kenderaan bermotor, pihak kampus pun bisa menerapkan kebijakan hari bebas kenderaan bermotor di lingkungan kampus. Lebih-lebih buat kampus yang memiliki fasilitas angkutan kampus, baik gratis maupun yang berbayar. Kebijakan ini bisa diterapkan untuk mengurangi gas knalpot, paling tidak yang berasal dari kenderaan bermotor pribadi ciivitas akedemika.
Pendidik lingkunagan juga bisa dimasukan sebagai kebijakan kampus saat program orientasi mahasiswa baru. Seperti yang sudah biasa dilakukan fakultas pertanian atau fakultas farmasi yang mengajak mahasiwa baru menanam pohon atau tanaman obat keluarga (TOGA). Selain berguna utnu kuliah ini bisa membuat lingkungan kampus terasa lebih sejuk.
Dalam urusan sampah, lingkungan kampus atau sekolah, tempat orang-orang terdidik, mestinya juga bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Tempat sampah sebaiknya disediakan dalam jumlah yang cukup, terutama di tempat-tempat yang berpotensi menghasilkan banyak sampah seperti kantin. Lebih ideal lagi jika disediakan tempat yang berbeda untuk sampah organic dan nonorganic. Sampah nonorganic selanjutnya bisa diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang, sementara sampah organic bisa di jadikan pupuk kompos.
Untuk lingkungan kampus atau sekolah, kesadaran terhadap pembagian sampah ini mestinya tidak menjadi masalah. Siswa atau mahasiswa tentu tidak sulit dibuat sadar terhadap lingkungan maupun batasan organic dan nonorganik lewat bulletin, ceramah, kegiatan ekstrkurikuler, atau yang lain.
Sumber : Majalah IntiSari edisi January 2010
Sebuah skripsi rata-rata membutuhkan kertas HVS A4 setebal 100 halaman (di teknik kimia bisa 500 halaman lebih). Pada umumnya kertas itu digunakan satu sisi. Sisibaliknya kosong. Satu biah skripsi biasanya digandakan empat kali, untuk nahasiswa bersngkutan, dosen pembimbing, dosen penguji, dan arsip kampus. Kadanag penggandaan atau lebih dari empat. Artinya, sebuah skripsi butuh 400 lembar kertas kosong. Itu belum termasuk kebutuhan kertas untuk draft pada saat dikoreksi atau kebutuhan untuk proposl skripsi.
Jika di Indonesia tiap tahun ada 4,5 juta mahasiswa, berarti ada 3,6 juta rim kertas HVS terpakai. Mari kita hitung berapa banyak pohon di tebang untuk kebutuhan kertas sejumlah itu. Berdasarkan perhitungan www.howstuffworks.com satu batang pohon pinus berumur lima tahun dengan diameter 30 cm dan tinggi 18 meter hanya menghasilkan 168 rim kertas HVS ukuran A4 dengan berat gramatur kertas (berat/m2) 70 gram. Berarti setiap tahun mahasiswa Indonesia secara tidak lansung menebang 21.428 Pohon pinus untuk kebutuhan skripsi.
Gamabaran ini saja bisa menunjukan kepada kita betapa banyak pohon yang harus ditebang untuk menunjang kepada pendidikan kita. Jika semua civitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, sepakat untuk menggunakan kedua sisi kertas untuk skripsinya, maka kita bisa menghemat kebutuhan separuhnya
Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan teknologi digital yang semakin maju. Untuk proposal skripsi, misalnya kita bisa menggunakan flash disk, bukan kertas HVS. Jika semua tahap koreksi dengan menggunakan filedalam bentuk digital, kita bisa menghemat kertas dalam jumlah yang cukup signifikan.
Cara itu bisa dilakukan oleh dosen saat member materi kuliah. Dosen biasanya member materi kuliah dalam bentuk fotokopian di kertas HVS. Tak jarang,yang di fotokopi adalah materi presentasi dengan huruf yang masih besar-besar sehingga membutuhkan banyak kertas. Apalagi jika dosen memberikan materi dalam bentuk file digital (soft copy), tentu aka nada lebih banyak lagi kertas yang di hemat.
Untuk mengurangi pemakaian kenderaan bermotor, pihak kampus pun bisa menerapkan kebijakan hari bebas kenderaan bermotor di lingkungan kampus. Lebih-lebih buat kampus yang memiliki fasilitas angkutan kampus, baik gratis maupun yang berbayar. Kebijakan ini bisa diterapkan untuk mengurangi gas knalpot, paling tidak yang berasal dari kenderaan bermotor pribadi ciivitas akedemika.
Pendidik lingkunagan juga bisa dimasukan sebagai kebijakan kampus saat program orientasi mahasiswa baru. Seperti yang sudah biasa dilakukan fakultas pertanian atau fakultas farmasi yang mengajak mahasiwa baru menanam pohon atau tanaman obat keluarga (TOGA). Selain berguna utnu kuliah ini bisa membuat lingkungan kampus terasa lebih sejuk.
Dalam urusan sampah, lingkungan kampus atau sekolah, tempat orang-orang terdidik, mestinya juga bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Tempat sampah sebaiknya disediakan dalam jumlah yang cukup, terutama di tempat-tempat yang berpotensi menghasilkan banyak sampah seperti kantin. Lebih ideal lagi jika disediakan tempat yang berbeda untuk sampah organic dan nonorganic. Sampah nonorganic selanjutnya bisa diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang, sementara sampah organic bisa di jadikan pupuk kompos.
Untuk lingkungan kampus atau sekolah, kesadaran terhadap pembagian sampah ini mestinya tidak menjadi masalah. Siswa atau mahasiswa tentu tidak sulit dibuat sadar terhadap lingkungan maupun batasan organic dan nonorganik lewat bulletin, ceramah, kegiatan ekstrkurikuler, atau yang lain.
Sumber : Majalah IntiSari edisi January 2010