26 Juli 2010

LEPASKAN


Suatu hari ada seekor keledai milik seorang petani yang jatuh ke dalam sumur yang dalam dan kering. Binatang tersebut menangis dengan nyaring selama beberapa jam sementara itu sang petani tersebut mencoba mencarikan jalan keluarnya. Akhirnya, dia memutuskan bahwa keledai itu sudah terlalu tua, sumur itu juga perlu ditutup, dan menolong keledai tersebut merupakan suatu usaha yang sia-sia belaka. Sehingga dia mengundang tetangganya untuk datang ke lokasi guna membantunya mengubur keledai tersebut di dalam sumur untuk menghentikan kesengsaraannya.

Mereka semuanya memegang sekop dan mulai menimbunkan tanah ke dalam sumur. Pada awalnya, keledai tersebut menyadari apa yang sedang terjadi dan lagi-lagi menangis dengan begitu memilukan. Tidaklama kemudian, semua orang menjadi tercengang karena keledai tersebut tiba-tiba diam. Setelah beberapa sekop kemudian, petani tersebut melongok ke dalam sumur dan begitu terpana atas apa yang dilihatnya. Keledai tersebut melakukan suatu hal yang memukau atas setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya. Keledai tersebut melepaskannya dengan menggoyangkan badannya dan lalu melangkah naik ke atas tanah yang telah jatuh tersebut !


Setiap kali mereka menjatuhkan tanah ke atas binatang tersebut, ia akan melepaskannya dan melangkah ke atasnya. Tidak lama kemudian, semua orang terperangah begitu sang keledai memenangkan perjuangan tersebut dengan melangkahi tepi sumur dan meloncat keluar !

Seperti keledai tersebut, kehidupan ini juga akan senantiasa membuat tubuhmu kotor juga, segala macam kotoran. Cara untuk keluar dari sumur tersebut adalah melepaskannya sambil melangkah naik ke atas. Setiap kemunduran adalah seperti kotoran yang dilemparkan ke atas punggung kita. Setiap kesulitan yang kita hadapi merupakan suatu batu loncatan. Kita hanya dapat keluar dari sumur yang paling dalam sekalipun hanya dengan tanpa berhenti, dengan tanpa putus asa ! Lepaskan dan melangkah ke atas !

Apa yang sepertinya akan menimbun keledai tersebut sebenarnya merupakan suatu berkah baginya, dengan cara yang dia gunakan untuk mengatasi kemalangannya. Ini merupakan suatu kunci misteri kehidupan ini. Jika kita menghadapi masalah, tanggapilah secara positif dan jangan menjadi panik serta terlarut dalam kegetiran, kemalangan yang akan membenamkan kita biasanya di dalamnya terdapat potensi yang dapat bermanfaat dan memberikan berkah buat kita !

Semuanya tergantung pada kita sendiri agar selalu ingat untuk mengembangkan kemampuan diri kita guna memaafkan, melupakan, dan melangkah terus pada tujuan kita. Kita harus terus mengembangkan keyakinan, harapan, dan kemampuan kita untuk mengasihi tanpa syarat apapun. Ini merupakan peralatan yang akan membantu kita "melepaskannya dan melangkah ke atas" keluar dari sumur-sumur di mana akhirnya kita akan menemukan jati diri kita.

















LEPASKAN KESEDIHANMU !!

BEBASKAN DIRIMU !!

15 Juli 2010

KOTORAN JADI BAHAN BAKAR


Siapa sangka kotoran ternak bisa jadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Lewat proses fermentasi, limbah yang baunya amat merangsang itu dapat diubah menjadi biogas. Energi biogas ini punya kelebihan yang nyata ketimbang energi nuklir atau batubara. Selain itu, biogas tak memiliki polusi yang tinggi. Dengan begini, sanitasi lingkungan pun makin terjaga.
Sejak terjadinya krisis energi pada 1973, masalah energi menjadi topik utama dunia. Negara-negara maju mulai berlomba-lomba mencari terobosan baru dalam menghasilkan energi alternatif yang jauh lebih murah ketimbang minyak dan gas. Mereka pun menerapkan kebijakan diversifikasi energi. Tentunya ketergantungan pada energi tak terbarukan tadi makin berkurang. Ini wajar saja, sebab setiap krisis yang terjadi selalu memberikan efek pada kenaikan harga BBM. Plus ketersediannya yang kurang memadai.
“Salah satu energi alternatif tadi, biogas. Energi ini punya masa depan yang cerah. Kita punya banyak bahan baku energi itu,” ungkap Daru Mulyono dari Direktorat Teknologi Budi Daya Pertanian, BPPT. Sayangnya, pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas ini kalah ngetop ketimbang pupuk tanaman dari kotoran itu.
Padahal dengan teknologi biogas, kandungan zat-zat alami yang terdapat pada kotoran ternak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Jadi tak takut lagi ribut-ribut soal pasokan energi yang kurang. Pasalnya, biogas ini bisa dipakai untuk apa saja. Sebut saja mulai dari untuk memasak, lampu penerangan, transportasi hingga keperluan lain yang perlu energi. Bila biogas telah diaplikasikan secara luas, isu kekurangan pasokan energi bisa dihindari. Bahkan sanitasi lingkungan pun makin meningkat.
Biogas biasanya dikenal sebagai gas rawa atau lumpur. Gas campuran ini didapat dari proses perombakan kotoran ternak menjadi bahan organik oleh mikroba dalam kondisi tanpa oksigen. Proses ini populer disebut anaerob. Selama proses fermentasi itu berjalan, biogas pun terbentuk. (lihat gambar proses aliran pembentukan Biogas).
Dari proses fermentasi ini, akan dihasilkan campuran biogas yang terdiri atas, metana (CH4), karbon dioksida, hidrogen, nitrogen dan gas lain seperti H2S. metana yang dikandung biogas ini jumlahnya antara 54 – 70 %, sedang karbon dioksidanya anatara 27 – 43 %. “Gas-gas lainnya memiliki persentase hanya sedikit saja,” ujar Daru. Selama proses itu, lanjut Daru, mikroba yang bekerja butuh makanan. Di dalam makanan itu terdiri atas karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus biokimia, nutrisi tadi akan diuraikan. Dari sini, akan dihasilkan energi untuk tumbuh. Dari proses pencernaan anaerobik ini akan dihasilkan gas metan. Bila unsur-unsur dalam makanan tadi tak berada dalam kondisi yang seimbang alias kurang, bisa dipastikan produksi enzim untuk menguraikan molekul karbon komplek oleh mikroba akan terhambat. untuk menjamin semuanya berjalan lancar, unsur-unsur nutrisi yang dibutuhkan mikroba harus tersedia secara seimbang.. Dalam pertumbuhan mikroba yang optimum biasanya dibutuhkan perbandingan unsur C : N : P sebesar 100 : 2,5 : 0,5.
Beres masalah keseimbangan nutrisi, masih ada beberapa faktor lain yang perlu dicermati. Faktor-faktor ini pun berpotensi sebagai pengganggu jalannya proses fermentasi. “Ada beberapa senyawa yang bisa menghambat (proses) penguraian dalam suatu unit biogas. Untuk itu, saat menyiapkan bahan baku untuk produksi biogas, bahan-bahan pengganggu seperti antiobiotik, desinfektan dan logam berat harus diperhatikan seksama,” terang Daru.
Gas metan hasil fermentasi ini akan menyumbang nilai kalor yang dikandung biogas. Besarnya antara 590 – 700 K.cal/m3. Nilai kalor biogas sumber utamanya memang dari gas metan itu. Plus sedikit dari H2 serta CO, sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi apa-apa dalam soal nilai panas tadi.
Dalam hal tingkat nilai kalor yang dimiliki biogas punya keunggulan yang signifikan ketimbang sumber energi lainnya, seperti coalgas (586 K.cal/m3) ataupun watergas (302 K.cal/m3). Nilai kalor biogas itu kalah oleh gas alam (967 K.cal/m3). Bahkan, menurut D. Wibowo dalam makalahnya Gas Bio Sebagai Suatu Sumber Energi Alternatif, setiap kubik biogas setara dengan setengah kilogram gas alam cair (liquid petroleum gases), setengah liter bensin dan setengah liter minyak diesel. Biogas pun sanggup membangkitkan tenaga listrik sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour (kwh). (yuli setiawan, dikutip dari DAUR)

06 Juli 2010

Kenapa Fokus Dan Kinerja Karyawan berkurang (Safety Focus)


NASA mempublikasikan sebuah studi tentang salah satu peyebab berkurangnya kemampuan fokus dan kinerja karyawan.

Dalam majalah EHS Magazine, dikutip sebuah Studi NASA terhadap kinerja para operator telegraph key yang menunjukkan beberapa hasil yaitu:





  • Pada suhu 26 C, para operator membuat kesalahan 5 kali dalam satu jam dan 19 kesalahan setelah 3 jam
  • Pada suhu 32C, para operator membuat 9 kesalahan per jam dan 27 kesalahan setelah 3 jam
  • Pada suhu 35 C, para operator membuat 60 kesalahan per jam dan 138 kesalahan setelah 3 jam

Walaupun kesalahan kesalahan operator tersebut tidak terlalu signifikan, namun lingkungan kerja degan suhu panas tadi akan menghasilkan kesalahan yang setara dengan jenis pekerjaan sejenis.

Studi lain dihasilkan juga oleh Gopinthan et al2, mengenai efek dehidrasi terhadap mental dan pengambilan keputusan yang berujung ada peningkatan angka kecelakaan kerja. Dinyatakan dalam studi tersebut bahwa dehidrasi pada angka 2% saja sudah dapat menyebabkan penurunan fungsi dan kuantitas pada berat tubuh, penglihatan, ingatan jangka pendek, konsentrasi, dan kemampuan berhitung . Bahkan pada angka 4 % dehdrasi, dapat mengurangi sebanyak 23 % reaksi tubuh ketika bekerja.

Pada suhu 35 C, tubuh membebaskan suhu panas melalui pengeluaran keringat yang berasal dari pemompaan 48% darah di dalam tubuh menuju kulit. Kondisi tersebutlah yang menyebabkan dehidrasi dan pengurangan asupan darah hingga setengahnya menuju organ tubuh, otot dan otak yang pada akhirnya menjadi penyebab pula dari beberapa kondisi seperti vertigo, berkurangnya kemampuan fokus dan kinerja, tubuh menjadi lemah, sakit kepala, sakit pada organ tubuh, hingga hilangnya kesadaran.

Tampaknya berbagai upaya seperti menyediakan asupan air ntuk karyawan dan menyediakan kondisi sejuk bagi karyawan melalui ruangan yang sejuk hingga penyediaan pakaian yang dapat mengatasi suhu panas, dan pelatihan ntuk mencegah dan mengatasi dehidrasi, menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi yang menyebabkan fokus dan kinerja karyawan berkurang.

Anda punya cara lain untuk mencegah dehidrasi tersebut ?. Info dan pengalaman Anda akan sangat berharga bagi rekan rekan lainnya



sumber : http://www.lorco.co.id/dehidrasi.html

05 Juli 2010

PT. Ecogreen Oleochemicals - Batam Plant



PT. Ecogreen Oleochemicals Batam didirikan pada tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 19 Februari 1994 oleh Presiden Soeharto dengan nama PT. Batamas Megah yang tergabung dalam Divisi Kimia Salim Group. PT.Batamas Megah berubah nama menjadi PT. Ecogreen Oleochemicals pada tahun 2001. Berikut ini dapat dilihat logo dari PT Ecogreen Oleochemicals.
Mengingat bahan baku yang digunakan dalam proses pengolahan itu adalah bahan nabati, maka gambar berbentuk daun digunakan sebagai dasar dari logo tersebut. Bagian yang berbentuk lonjong menggambarkan proses awal berupa bahan baku dan bentuk yang bulat melambangkan produk akhir. Jika ketiga bentuk tersebut disatukan dan dipandang dari atas, akan muncul gambar lain di mana terlihat dua orang duduk berhadapan di meja perundingan. Mereka melambangkan keyakinan Ecogreen Oleochemicals akan terjalinnya hubungan erat dengan para pelanggan dan keterbukaan dalam bekerjasama untuk keuntungan kedua pihak. Warna hijau dipilih untuk menunjukkan pengertian dan kesadaran Ecogreen Oleochemicals terhadap lingkungan hidup.
PT Ecogreen Oleochemicals Batam memproduksi fatty alcohol dengan menggunakan dua proses. Proses produksi fatty alcohol melalui jalur methyl ester dirancang dan dibangun oleh Lurgi GmbH dari Jerman. PT. Ecogreen Oleochemicals Batam dengan proses Lurgi memproduksi fatty alcohol dengan kapasitas 80000 MT/tahun. Pada tahun 2004, dibangun proses produksi fatty alcohol melalui jalur fatty acid yang dirancang dan dibangun oleh Davy dari Inggris. Kapasitas produksi fatty alcohol yang dihasilkan dari proses Davy adalah 24000 MT/tahun. Seluruh proses dalam PT. Ecogreen Oleochemicals dilengkapi dengan Distributed Control System (DCS) Centum XL Yokogawa untuk memastikan produk berkualitas tinggi dan sesuai keinginan konsumen.
Produk yang dihasilkan dari PT Ecogreen Oleochemicals Batam dipasarkan di Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Asia. Kantor pemasaran Ecogreen terletak di Singapura, Jerman, dan Amerika Serikat. Untuk memenuhi standar internasional dari segi lingkungan hidup, PT Ecogreen Oleochemicals yang berada di Batam telah mendapatkan sertifikat ISO 9002 dari SGS Yarsley International Certification Services Ltd. Selain itu, dari segi kualitas,PT Ecogreen pada bulan Januari 1998 telah mendapatkan ISO 14001 dari BVQI.

01 Juli 2010

Sel Surya - Energy Matahari


Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sebenarnya sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 1024 joule pertahun. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini. Perkembangan yang pesat dari industri sel surya (solar sel) di mana pada tahun 2004 telah menyentuh level 1000 MW membuat banyak kalangan semakin melirik sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan ini.

Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69% dari total energi pancaran matahari . Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 10 joule pertahun, energi ini setara dengan 2 x 1017 Watt . Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0.1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini .

Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua buah sifat yaitu dapat sebagai gelombang dan dapat sebagai partikel yang disebut dengan photon. Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Einstein pada tahun 1905. Energi yang dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan panjang gelombang λ dan frekuensi photon V dirumuskan dengan persamaan:

E = h.c/ λ

Dengan h adalah konstanta Plancks (6.62 x 10-34 J.s) dan c adalah kecepatan cahaya dalam vakum (3.00 x 108 m/s). Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa photon dapat dilihat sebagai sebuah partikel energi atau sebagai gelombang dengan panjang gelombang dan frekuensi tertentu [3]. Dengan menggunakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, cahaya yang datang akan mampu dirubah menjadi energi listrik.

Hingga saat ini terdapat beberapa jenis solar sel yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti untuk mendapatkan divais solar sel yang memiliki efisiensi yang tinggi atau untuk mendapatkan divais solar sel yang murah dan mudah dalam pembuatannya.

Tipe pertama yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti adalah jenis wafer (berlapis) silikon kristal tunggal. Tipe ini dalam perkembangannya mampu menghasilkan efisiensi yang sangat tinggi. Masalah terbesar yang dihadapi dalam pengembangan silikon kristal tunggal untuk dapat diproduksi secara komersial adalah harga yang sangat tinggi sehingga membuat solar sel panel yang dihasilkan menjadi tidak efisien sebagai sumber energi alternatif. Sebagian besar silikon kristal tunggal komersial memiliki efisiensi pada kisaran 16-17%, bahkan silikon solar sel hasil produksi SunPower memiliki efisiensi hingga 20%[www.sunpowercorp.com]. Bersama perusahaan Shell Solar, SunPower menjadi perusahaan yang menguasai pasar silikon kristal tunggal untuk solar sel.

Jenis solar sel yang kedua adalah tipe wafer silikon poli kristal. Saat ini, hampir sebagian besar panel solar sel yang beredar di pasar komersial berasal dari screen printing jenis silikon poli cristal ini. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan cara membuat lapisan lapisan tipis dari batang silikon dengan metode wire-sawing. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan sekitar 250・50 micrometer. Jenis solar sel tipe ini memiliki harga pembuatan yang lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal. Perusahaan yang aktif memproduksi tipe solar sel ini adalah GT Solar, BP, Sharp, dan Kyocera Solar.

Kedua jenis silikon wafer di atas dikenal sabagai generasi pertama dari solar sel yang memiliki ketebalan pada kisaran 180 hingga 240 mikro meter. Penelitian yang lebih dulu dan telah lama dilakukan oleh para peneliti menjadikan solar sel berbasis silikon ini telah menjadi teknologi yang berkembang dan banyak dikuasai oleh peneliti maupun dunia industri. Divais solar sel ini dalam perkembangannya telah mampu mencapai usia aktif mencapai 25 tahun [1]. Modifikasi untuk membuat lebih rendah biaya pembuatan juga dilakukan dengan membuat pita silikon (ribbon si) yaitu dengan membuat lapisan dari cairan silikon dan membentuknya dalam struktur multi kristal. Meskipun tipe sel surya pita silikon ini memiliki efisiensi yang lebih rendah (13-15%), tetapi biaya produksinya bisa lebih dihemat mengingat silikon yang terbuang dengan menggunakan cairan silikon akan lebih sedikit.

Generasi kedua solar sel adalah solar sel tipe lapisan tipis (thin film). Ide pembuatan jenis solar sel lapisan tipis adalah untuk mengurangi biaya pembuatan solar sel mengingat tipe ini hanya menggunakan kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan baku untuk tipe silikon wafer. Dengan penghematan yang tinggi pada bahun baku seperti itu membuat harga per KwH energi yang dibangkitkan menjadi bisa lebih murah.

Metode yang paling sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan tipis ini adalah dengan PECVD dari gas silane dan hidrogen. Lapisan yang dibuat dengan metode ini menghasilkan silikon yang tidak memiliki arah orientasi kristal atau yang dikenal sebagai amorphous silikon (non kristal). Selain menggunakan material dari silikon, solar sel lapisan tipis juga dibuat dari bahan semikonduktor lainnya yang memiliki efisiensi solar sel tinggi seperti Cadmium Telluride (Cd Te) dan Copper Indium Gallium Selenide (CIGS).

Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa dihasilkan oleh jenis solar sel lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang berasal dari solar sel CIGS [5]. Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah semikonduktor sebagai lapisan solar sel bisa dideposisi pada substrat yang lentur sehingga menghasilkan divais solar sel yang fleksibel. Kedua generasi dari solar sel ini masih mendominasi pasaran solar sel di seluruh dunia dengan silikon kristal tunggal dan multi kristal memiliki lebih dari 84% solar sel yang ada dipasaran

Penelitian agar harga solar sel menjadi lebih murah selanjutnya memunculkan generasi ketiga dari jenis solar sel ini yaitu tipe solar sel polimer atau disebut juga dengan solar sel organik dan tipe solar sel foto elektrokimia. Solar sel organik dibuat dari bahan semikonduktor organik seperti polyphenylene vinylene dan fullerene.

Berbeda dengan tipe solar sel generasi pertama dan kedua yang menjadikan pembangkitan pasangan electron dan hole dengan datangnya photon dari sinar matahari sebagai proses utamanya, pada solar sel generasi ketiga ini photon yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan tersebut melainkan membangkitkan exciton. Exciton inilah yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan efek arus foto (photocurrent) .

Tipe solar sel photokimia merupakan jenis solar sel exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan Graetzel sel atau dye-sensitized solar cells (DSSC) .

Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redok yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat Graetzel sel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing. Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat hargan dan proses pembuatannya yang sangat murah.

Pertumbuhan teknologi sel surya di dunia memang menunjukkan harapan akan solar sel yang murah dengan memiliki efisiensi yang tinggi. Sayangnya sangat sedikit peneliti di Indonesia yang terlibat dengan hiruk pikuk perkembangan tentang teknologi sel surya ini. Sudah seharusnya pemerintah secara jeli melihat potensi masa depan Indonesia yang kaya akan sinar matahari ini dengan mendorong secara nyata penelitian di bidang energi surya ini.

sumber : Tulisan ini diambil di Berita Iptek 20 Januari 2006

MANAJEMEN PENGETAHUAN

Sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas merupakan faktor penting bagi perusahaan baik yang bergerak di bidang jasa maupun non jasa. Apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini, dimana persaingan bisnis yang kian menajam menyadarkan orang bahwa pengetahuan menjadi faktor penting dalam menciptakan keunggulan dibandingkan aset finansial/modal uang. Oleh karena itu, berbagai bidang kegiatan di Indonesia saat ini menghadapi tuntutan untuk melaksanakan manajemen pengetahuan agar tetap dapat bertahan

Konsep manajemen pengetahuan ini meliputi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI) dalam tujuannya untuk mencapai organisasi perusahaan yang semakin baik sehingga mampu memenangkan persaingan bisnis. Perkembangan teknologi informasi memang memainkan peranan yang penting dalam konsep manajemen pengetahuan. Hampir semua aktivitas kehidupan manusia akan diwarnai oleh penguasaan teknologi informasi, sehingga jika berbicara mengenai manajemen pengetahuan tidak lepas dari pengelolaan

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya SDM yang memiliki Pengetahuan (Knowledge), Gagasan (Idea), Keahlian (Skill) serta Pengalaman (Experience) untuk dapat membentuk SDM yang superior yang menjadi aset penting bagi perusahaan. Keempat unsur tersebut di atas merupakan modal yang tidak akan habis/hilang begitu saja. Berbeda dengan unsur finansial yang akan habis jika tidak dikelola baik dengan menggunakan keempat unsur tersebut. Kemauan untuk belajar, bertanya, mencoba, mengemukan ide/ pedan menumbuhkan rasa percaya diri kita. Jadi, keempat unsur tersebut pada dasarnya saling berhubungan satu sama lain dimana intinya adalah peningkatan informasi.


Komponen selanjutnya dalam penerapkan manajemen pengetahuan ini adalah Teknologi Informasi. Bagi banyak perusahaan terkemuka, TI telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan merupakan infrastruktur yang penting bagi perusahaan itu dalam memberikan nilai tambah atau keuntungan kompetitif. Kebutuhan bisnis yang kian meningkat seperti tuntutan untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, mempercepat penyampaian produk atau layanan ke pasar, dan meningkatkan layanan kepada pelanggan.

Sebagai contoh, untuk mengelola pengetahuan dapat dimulai dari pengelolaan dokumen perusahaan. Penerapan konsep pengelolaan dokumen secara elektronis akan sangat membantu dalam distribusi, penelusuran, pegontrolan serta pengarsipan dokumen yang ada di dalam suatu perusahaan. Di samping itu akan mencegah membengkaknya biaya penyimpanan fisik dokumen, lamanya pencarian kembali dokumen, serta duplikasi dokumen yang tidak perlu. Tentu saja untuk pengelolaan tersebut diperlukan perangkat lunak (software)

Masalah pokok yang kemudian timbul dalam mengelola pengetahuan adalah perilaku. Perilaku berkaitan dengan disiplin atau kebiasaan.

Masih banyak orang yang tidak mempraktekkan disiplin secara baik. Di tengah krisis yang melanda masyarakat kita, sangat diperlukan adanya manajemen pengetahuan masing-masing individunya untuk disiplin dalam semua aspek perilaku dan tindakan. Jadi, manajemen pengetahuan mungkin dapat juga di mulai dari Self Management atau Manajemen Diri.

Memang untuk disiplin diri sendiri harus dimulai dari kesadaran diri tiap manusia. Jika setiap orang dapat mengatur dengan baik manajemen diri itu maka lama-lama kesadaran disiplin itu sendiri akan tumbuh dan membudaya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kehidupan yang efektif dan efisien dapat dilakukan mulai dari hal-hal kecil, seperti budaya antri serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas, menghemat pemakaian peralatan kantotr, termasuk juga didalamnya menerapkan pemakaian kertas bekas maupun kertas buram

Ringkasnya, Inti dari Manajemen Pengetahuan adalah peningkatan informasi dan pengetahuan organisasi secara sistematis untuk meningkatkan efektivitas perusahaan. Dengan didukung oleh SDM yang berkualitas (Knowledge, Idea, Experience, Skill) serta teknologi yang tepat guna ditambah dengan Budaya (Culture) yang baik, maka peningkatan produktifitas (productivity), dan kecakapan/kemampuan (competence) akan tercapai sehingga tercipta perusahaan yang baik yang dapat memenangkan persaingan bisnis dalam dunia yang dinamis

sumber : unknown