Tampilkan postingan dengan label Enviromental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Enviromental. Tampilkan semua postingan

27 Maret 2011

Mengubah Bumi dengan 60 Menit


Refleksi Earth Hour 26 Maret 2011

Pemanasan Global (global warming) telah menjadi isu yang mendunia. Untuk itu berbagai upaya dan kegiatan dilakukan instansi dan dunia yang berbau lingkungan akibat ketakutan ataupun kesadaran guna menyelamatkan bumi, dan sebagai salah satu langkah bijak untuk kelestarian tempat manusia hidup. Peringatan satu jam untuk bumi yaitu sebuah gerakan yang digagas oleh WWF (World Wide Fund for Nature, juga dikenal sebagai World Wildlife Fund), organisasi konservasi terbesar di dunia, berupa inisiatif global yang mengajak individu, praktisi bisnis, pemerintah, dan sektor publik lainnya di seluruh dunia untuk turut serta mematikan lampu (hanya) dalam 1 jam, pada hari Sabtu, 26 Maret 2010 pukul 20.30 – 21.30 (waktu setempat).

Memasuki bulan April 2011 mendatang, penduduk dunia juga kembali akan memperingati Hari Bumi. Gagasan Hari Bumi tersebut muncul ketika seorang senator Amerika Serikat, Gaylorfd Nelson menyaksikan betapa rusak dan tercemarnya bumi oleh ulah manusia, maka ia mengambil prakarsa bersama dengan LSM untuk mencanangkan satu hari bagi ikhtiar penyelamatan bumi dari kerusakan.

Ide mematikan lampu di Earth Hour bertujuan untuk mengurangi kadar pemanasan global yang salah satunya disumbang oleh penggunaan perangkat listrik sehari-hari yang ada di rumah kita. Selain itu, dengan mematikan listrik, diharapkan konsumsi energi listrik di seluruh dunia dapat sedikit ditekan sehingga menghemat energi yang ada di dunia.

Ke depan, diharapkan kampanye ini mengangkat dan memancing semangat kepemimpinan di semua sektor agar bisa diadaptasi oleh pemerintahan dan korporasi di negara-negara partisipan untuk secara signifikan memasukkan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai bagian dari kebijakan yang mereka miliki supaya penurunan emisi gas rumah kaca bisa dilakukan secara komprehensif.

Berdasarkan hitungan dari data WWF dilaporkan bahwa, kegiatan kecil mematikan lampu selama satu jam di wilayah Jakarta akan menghemat 10 persen dari konsumsi listrik rata-rata per jamnya atau sekitar 300 megawatt. Daya itu cukup untuk mengistirahatkan satu pembangkit listrik dan mampu menyalakan 900 desa. Dengan dukungan penuh masyarakat, program itu juga mampu mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta. Mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton. Menyelamatkan lebih dari 284 pohon, karena 1 pohon bisa menghirup CO2 sebanyak 1 ton sepanjang hidupnya dan menghasilkan O2 bagi 568 orang.

Dalam peringatan Earth Hour tahun 2008, tercatat lebih dari 30 negara, termasuk Indonesia menjadi salah satu negara peserta yang turut beraksi dan turut berpartisipasi. Pemadaman listrik sebagai bentuk kesadaran akan energi dan pemanasan global juga dilakukan di sejumlah ikon kota besar dunia. Di antaranya Burj Dubai, Canadian National Tower Toronto, Moscow's Federation Tower, Quirinale Roma, Kediaman Resmi Presiden Italia Giorgio Napolitano, Auckland Sky Tower Australia, Opera House Sidney, dan Table Mountain di Cape Town.

Pada tanggal 28 Maret 2009, ratusan juta orang di lebih dari 4000 kota besar dan kecil di 88 negara di seluruh dunia mematikan lampunya mendukung Earth Hour dan menjadikan tahun 2009 menjadi gerakan lingkungan terbesar dalam sejarah.

Sejak 2009 dan 2010, kampanye 60 menit atau satu jam untuk bumi tersebut menjadi kampanye lingkungan hidup terbesar dalam sejarah karena berhasil meraih 1,5 miliar pendukung dari 4.616 kota di 128 negara. Peringatan satu jam untuk bumi yang dikenal dunia sebagai “Earth Hour” ini bermula dari kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney, Australia dengan tujuan mengurangi gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5 persen pada tahun 2007. Kabar tentang keberhasilan Earth Hour perdana di Australia itu kemudian terdengar di seluruh dunia, sehingga menarik banyak negara lain untuk kemudian turut serta dalam Earth Hour 2008.

Mereka mengajak individu, praktisi bisnis, pemerintah, dan sektor publik lainnya di seluruh dunia untuk mematikan lampu dan perangkat listrik lainnya selama 60 menit dalam waktu bersamaan serempak diseluruh dunia. Ketika itu reaksi positif dan antusias masyarakat sebagai kesadaran akan bahaya pemanasan global, 2,2 juta warga mematikan lampu di rumah, kantor, dan gedung lainnya untuk menghemat listrik serta menurunkan polusi karbon.

Di Indonesia, sejumlah kota besar di pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali turut berpartisipasi dalam kampanye Earth Hour tersebut.

Kita perlu belajar dari negeri China, setelah membukukan pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan dan menjadi salah satu Negara berkembang pesat yang “ditakuti” Negara maju, kini mengembangkan listrik tenaga angin dan menuju Negara ketiga terbesar listrik tenaga angin menggeser Spanyol setelah Amerika Serikat dan Jerman pada tahun 2010.

Niat China mengubah sebagian energi mereka yang sebelumnya merupakan Negara berkembang pesat dengan ketergantungan pada batubara (saat ini masih diperkirakan 70 persen) menjadi energy ramah lingkungan didukung keputusan pemerintahnya mengadopsi ketentuan hukum baru yang mewajibkan kebutuhan industri-industri diperoleh dari sumber energi terbarukan.

Earth Hour sebenarnya bukanlah tentang pengurangan energi selama 60 menit, namun sebagai aksi ekspresi bahwa hal kecil yang dilakukan dalam skala besar dapat memberi perubahan pada dunia. Earth Hour tidak bisa berhenti di 1 jam saja, melainkan diharapkan bisa diadaptasi oleh pemerintahan di negara-negara partisipan dan publik yang telah berkomitmen menjadi partisipan. Tujuan utama kampanye tersebut yaitu untuk melanjutkan target efisiensi energi dan perubahan gaya hidup di kota-kota besar di dunia dengan konsumsi listrik tinggi, dan berusaha mengaitkannya dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang lebih bersih dan berdampak minimal pada lingkungan.

Pada intinya, kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di earth hour saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti: menggunakan kendaraan umum atau bersepeda untuk bepergian, hemat air, menanam pohon, dan lain-lain.

Mari bersama-sama kita ikut berpartisipasi dalam event “ Earth Hour” ini untuk menjaga Bumi kita tercinta dan menanamkan pembelajaran pada masyarakat bahwa di Indonesia listrik bukanlah barang murah dan pentingnya listrik yang mempunyai dampak pada pemanasan global.

Oleh: Andi Iqbal Burhanuddin
sumber : http://www.fajar.co.id/read-20110325230923-mengubah-bumi-dengan-60-menit

15 Maret 2011

Ledakan PLTN jepang



Suatu ledakan disertai kepulan asap putih hari ini terlihat di kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepang, yang rusak setelah dilanda gempa bumi dan tsunami Jumat kemarin. Pihak berwenang Jepang mengantisipasi bahwa PLTN yang rusak berpotensi menimbulkan bocornya radioaktif.
ledakan ini terjadi akibat sistem pendingin tidak dapat bekerja normal sehingga terjadi akumulasi hidrogen dalam jumlah tinggi. Sejumlah bahan radioaktif pun terlepas ke lingkungan dan mengancam kawasan tersebut. Perlu upaya keras untuk mengatasi bencana ini dengan dukungan internasional, khususnya dari IAEA dan negara-negara pengguna nuklir lainnya.Baik badan pengawas nuklir, Bapeten, dan badan atom nasional, memastikan ledakan PLTN tersebut radiasinya tidak akan mencapai Indonesia. Sebab radiasi nuklir dari PLTN, hanya berjarak hingga dua puluh kilometer dari pusat ledakan.

Kepala Bapeten AS Natio Lasman menjelaskan pemerintah Jepang telah mengumumkan dampak radiasi akibat ledakan pembangkit listrik tenaga Nuklir di Fokushima, Daichi hanya bersifat lokal. Partikel radiasi sebaranyannya hanya menembus jarak 20 kilometer dari pusat ledakan. Arah angin saat ledakan terjadi ke arah utara dan barat. Yikni ke arah Rusia dan China.

Jadi menurut AS Natio Lasaman, wilayah seperti Sulawesi Utara dan Papua yang menghadap arah Jepang juga aman dari partikle radiasi. Namun pemantauan dari Sulawesi Utara terus dilakukan.

Senada Bapeten, staff ahli Badan Tenaga Atom Nasional Wawan Purwanto juga menyatakan hal yang sama. Sementara itu isu yang beredar melalui pesan singkat blackberry massanger dan juga milis bahwa air hujan di Indonesia mengandung radiasi berbahaya yang bisa menyebabkan kanker atau penyakit lain juga tidak bisa dipertanggung jawabkan karena radiasi nuklir tidak mencapai Indonesia.

20 Januari 2010

SEKOLAH DAN KAMPUS HIJAU


Banyak hal sepele yang bisa kita lakukan di sekolah dan kampus untuk iku mengurangi efek pemanasan global. Salah satunya, mengurangi pemakaian kertas. Kita ambil contoh yang di gunakan untuk skripsi mahasiswa tingkat sarjana.
Sebuah skripsi rata-rata membutuhkan kertas HVS A4 setebal 100 halaman (di teknik kimia bisa 500 halaman lebih). Pada umumnya kertas itu digunakan satu sisi. Sisibaliknya kosong. Satu biah skripsi biasanya digandakan empat kali, untuk nahasiswa bersngkutan, dosen pembimbing, dosen penguji, dan arsip kampus. Kadanag penggandaan atau lebih dari empat. Artinya, sebuah skripsi butuh 400 lembar kertas kosong. Itu belum termasuk kebutuhan kertas untuk draft pada saat dikoreksi atau kebutuhan untuk proposl skripsi.

Jika di Indonesia tiap tahun ada 4,5 juta mahasiswa, berarti ada 3,6 juta rim kertas HVS terpakai. Mari kita hitung berapa banyak pohon di tebang untuk kebutuhan kertas sejumlah itu. Berdasarkan perhitungan www.howstuffworks.com satu batang pohon pinus berumur lima tahun dengan diameter 30 cm dan tinggi 18 meter hanya menghasilkan 168 rim kertas HVS ukuran A4 dengan berat gramatur kertas (berat/m2) 70 gram. Berarti setiap tahun mahasiswa Indonesia secara tidak lansung menebang 21.428 Pohon pinus untuk kebutuhan skripsi.
Gamabaran ini saja bisa menunjukan kepada kita betapa banyak pohon yang harus ditebang untuk menunjang kepada pendidikan kita. Jika semua civitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, sepakat untuk menggunakan kedua sisi kertas untuk skripsinya, maka kita bisa menghemat kebutuhan separuhnya
Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan teknologi digital yang semakin maju. Untuk proposal skripsi, misalnya kita bisa menggunakan flash disk, bukan kertas HVS. Jika semua tahap koreksi dengan menggunakan filedalam bentuk digital, kita bisa menghemat kertas dalam jumlah yang cukup signifikan.
Cara itu bisa dilakukan oleh dosen saat member materi kuliah. Dosen biasanya member materi kuliah dalam bentuk fotokopian di kertas HVS. Tak jarang,yang di fotokopi adalah materi presentasi dengan huruf yang masih besar-besar sehingga membutuhkan banyak kertas. Apalagi jika dosen memberikan materi dalam bentuk file digital (soft copy), tentu aka nada lebih banyak lagi kertas yang di hemat.
Untuk mengurangi pemakaian kenderaan bermotor, pihak kampus pun bisa menerapkan kebijakan hari bebas kenderaan bermotor di lingkungan kampus. Lebih-lebih buat kampus yang memiliki fasilitas angkutan kampus, baik gratis maupun yang berbayar. Kebijakan ini bisa diterapkan untuk mengurangi gas knalpot, paling tidak yang berasal dari kenderaan bermotor pribadi ciivitas akedemika.
Pendidik lingkunagan juga bisa dimasukan sebagai kebijakan kampus saat program orientasi mahasiswa baru. Seperti yang sudah biasa dilakukan fakultas pertanian atau fakultas farmasi yang mengajak mahasiwa baru menanam pohon atau tanaman obat keluarga (TOGA). Selain berguna utnu kuliah ini bisa membuat lingkungan kampus terasa lebih sejuk.
Dalam urusan sampah, lingkungan kampus atau sekolah, tempat orang-orang terdidik, mestinya juga bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Tempat sampah sebaiknya disediakan dalam jumlah yang cukup, terutama di tempat-tempat yang berpotensi menghasilkan banyak sampah seperti kantin. Lebih ideal lagi jika disediakan tempat yang berbeda untuk sampah organic dan nonorganic. Sampah nonorganic selanjutnya bisa diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang, sementara sampah organic bisa di jadikan pupuk kompos.
Untuk lingkungan kampus atau sekolah, kesadaran terhadap pembagian sampah ini mestinya tidak menjadi masalah. Siswa atau mahasiswa tentu tidak sulit dibuat sadar terhadap lingkungan maupun batasan organic dan nonorganik lewat bulletin, ceramah, kegiatan ekstrkurikuler, atau yang lain.

Sumber : Majalah IntiSari edisi January 2010

18 September 2009

BUYAT & MINAMATA


MINAMATA. Inilah sebuah teluk dengan kota kecil bernama sama di kawasan Jepang, tempat sebuah tragedi menjadi legenda. Tragedi yang terjadi karena manusia hanya memikirkan keuntungan semata sehingga mengabaikan alam. Kisah duka berawal dari berdirinya Nippon Nitrogen Fertilizer, 1908, cikal bakal Chisso Co Ltd dengan produksi utama pupuk urea. Sama seperti industri lain yang berkembang saat itu, Chisso langsung membuang limbahnya ke alam, ke Teluk Minamata.

Tahun 1956 kecurigaan mulai muncul setelah direktur RS Chisso melaporkan ke Pusat Kesehatan Masyarakat Minamata atas masuknya gelombang pasien dengan gejala sama: kerusakan sistem saraf.
Sayang apa yang kemudian disebut penyakit minamata ini amat lambat penanganannya. Meski para peneliti dari Universitas Kumamoto, 1963, sudah menyebutkan penyebabnya adalah senyawa metil merkuri yang ditemukan pada kerang di teluk itu, dan pada lumpur limbah Chisso, tak ada tindakan berarti. Tak heran bila tahun 1965 gejala meluas pada penduduk di Prefektur Niigata, tetangga Minamata.

Baru 12 tahun kemudian, 1968, Pemerintah Jepang menyadari itu adalah pencemaran dan mengakui bahwa sumbernya adalah senyawa metil merkuri yang dibuang Chisso. Selain pupuk, pabrik ini juga membuat asam asetat, asam asetaldehid, dan vinil klorida, yang memang dibutuhkan dalam industri pupuk. Dalam proses-proses itu, terutama untuk asam asetaldehid, digunakan merkuri sebagai katalisator.
BUYAT, Sebuah teluk yang berada propinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Bisa dikatakan “pasien” berikut setelah Minamata. Dan untuk saat ini yang menjadi “pelaku” diduga adalah PT Newmont yang bergerak dalam pertambangan emas. Pencemaran merkuri di kawasan perairan Sulawesi Utara itu telah diributkan sejak tahun 1990-an, namun kemudian timbul dan tenggelam hingga muncul kembali tahun ini dan menjadi isu hangat dalam beberapa bulan terakhir bahkan mungkin masih akan bergulir hingga tahun depan.

Kontaminasi merkuri di wilayah perairan dan pantai Sulut menurut pembelaan PT Newmont merupakan limbah dari aktivitas pertambangan emas rakyat, yang kurang mendapat pengawasan pemerintah seperti di Dimembe, Ranoyapo, dan Ratatotok di Kabupaten Minahasa. Diperkirakan sekitar 40 persen merkuri yang dipakai para penambang emas rakyat di kabupaten itu merembes ke laut, melalui pencucian tromol dan pada proses pemanggangan batuan.


Siapapun yang menjadi pelaku pencemaran laut ini baik di teluk buyat dan teluk minamata tetap dampak pencemaranya sangat buruk terhadap masyarakat sekitar perairan atau pesisir pantai. Senyawa metil merkuri akan tertimbun dalam ginjal, otak janin, otot, dan hati. Namun, sebagian besar metil merkuri akan berakumulasi di otak. Karena tingkat penyerapannya tinggi ke dalam tubuh, maka senyawa beracun ini bisa menyebabkan berbagai penyakit termasuk kanker hingga mengakibatkan kecacatan dan kematian. Masuknya merkuri dalam tubuh memang akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bila melampaui ambang batas.

Sampai di sistem saraf, berakibat tidak bisa mengendalikan anggota badan dan tubuh. Karena rahang sulit digerakkan, pasien mengalami gangguan bicara dan mengunyah. Gangguan terjadi pada panca indera mulai dari telinga berdenging sampai tuli, pandangan kabur hingga buta, tidak peka rasa suhu dan bau. Akumulasi merkuri pada dosis tinggi ditunjukkan dengan munculnya rona biru pada gusi hingga gigi tanggal. Gangguan juga terjadi pada fungsi organ seperti ginjal dan kerusakan sistem detoksifikasi hati. Bila senyawa itu mengendap di otak mengakibatkan gangguan daya ingat, reaksi emosi histeria seperti lekas marah dan rasa malu berlebihan, depresi dan susah tidur, tertawa dan ketakutan tanpa sebab. Pada stadium lanjut pasien akan pingsan, gila, hingga menemui ajal.

Penyakit ini juga akan menurun dari ibu yang terkontaminasi merkuri. Hingga melahirkan bayi cacat, karena mengalami kerusakan DNA. Kecacatan bayi yang terjadi seperti gangguan keseimbangan dan gerak motorik, serta rendah tingkat kecerdasannya. Bahkan ada yang lahir tanpa anggota badan, atau bentuk kepala tidak beraturan.

JEPANG, sungguh belajar banyak dari tragedi Minamata. Dengan mengubah paradigma industri mereka dan berusaha mencari solusi untuk itu.

Pertama, manusia tak hanya menjadi pelaku kejahatan terhadap alam tetapi sekaligus menjadi korban kejahatannya sendiri.

Kedua, memacu pertumbuhan ekonomi dengan industri massal dan konsumsi berlebihan, hanya akan menghasilkan limbah yang massal pula. Karena itu, Jepang berupaya mengembangkan industri hijau yang tidak lagi mencari untung sebesar-besarnya tetapi menjalankan bisnis yang beretika dan berkelanjutan. Untuk itu, Pemerintah Jepang amat ketat memberlakukan syarat pengolahan limbah.

Ketiga, mereka amat concern tehadap keamanan pangan, sungai, dan lautnya. Tak heran bila banyak produk pangan ekspor dari Indonesia, sering ditolak hanya karena tercampur sehelai rambut. Indonesia memang harus belajar banyak dari Minamata. Soalnya dalam berbagai pernyataannya belakangan ini, banyak menteri ekonomi di Kabinet Persatuan Nasional yang mengabaikan lingkungan demi investasi.Padahal bila laut dan sungai tercemar, ekonominya sendiri bakal ikut guncang. Tak percaya? Coba saja ekspor udang, ikan, dan kerang dari Teluk Jakarta atau Pantai Kenjeran. Begitu ketahuan tercemar merkuri, apa tidak habis kita?.

Produksi masal dan konsumsi masal membuat hidup lebih nyaman tetapi juga menghasilkan limbah masal yang mengorbankan lingkungan dan kesehatan, dikelilingi oleh asap, pupuk kimia, pengawet makanan dan bahan beracun lainnya. Kita tidak boleh mementingkan kehidupan materialis tanpa memperhatikan hubungan antar bangsa. Penyakit Minamata & Buyat menunjukkan bahwa manusia menyebabkan terjadinya masalah sekaligus menjadi korban dari masalah yang dibuatnya sendiri.

Penyakit Minamata & Buyat juga mengajarkan kebersamaan dengan alam bahwa kita dapat hidup karena adanya alam semesta, membina hubungan dengan manusia, sungai, laut dan membutuhkan makanan yang aman, perlu mengurangi limbah rumah tangga dan industri serta berupaya melakukan daur ulang untuk mengatasi berbagai masalah global.

ALAM adalah Sahabat yang paling setia yang diciptakan Sang Khalik untuk Manusia. Maka mari kita jaga kelestariannya. Marilah kita rendah hati seperti Laut. Laut itu luas dan kaya tetapi dia paling rendah di Bumi.
Damai di hati Damai di Bumi. Lestarilah Indonesiaku !!

***
Created by RICKY DWITAMA
Friday, 27 January 2006-01-27
4:24 AM

07 September 2009

Climate Change Raises Environmental Technology


The environmental industry worldwide is increasing fast again since two years ago with 12 per cent per year. The highest increase are in water and clean energies. Water counts for 34 per cent of the total markets and clean energies for 13 per cent, waste for 28 per cent and noise reduction for 2 per cent. Water and clean energies are on the global agenda again.

The vulnerable environment of earth, water, air and energy, as well as the soaring world population, demands more efficient and safe technologies to deal with waste, hazardous materials, cleaning and so on. More and more attention is put on the sustainable development, which causes no or lessdamages to environment. Environmental industry, together with other industries such as food, water, energy, sustainability, is indispensable for the constitution of a high-quality living space in the 21st Century.

Environment affects directly the health of people and the production of food. A society with advanced medical technology and food industry has big concern for environmental protection. The private spending and governmental investment will proportionally increase. Meantime the innovation and industrial basis in other Life Science industries will facilitate the development of environmental industry. As a result, the market for environmental technologies, clean energies, water and so on has shown a great increase, and the stock of the related companies rise sharply.

Markets for environmental Industry can be divided into four segments according to technology: End-of-pipe, Additive, Integrated and Zero emission. The primary technologies use conventional chemical and physical methods to meet the minimal requirement of waste.

The market totals 676 bn US$ in 2005 and still makes up the largest part of the whole industry. The second stage is additive technology. This stage serves as a bridge for the transformation from the traditional industry to the new nano-bio-neural-info based industry and has already taken 12 per cent of the market volume. Integrated new technologies on molecular scale will significantly promote the efficiency of dissolving the waste, eliminating the toxicoid and restoring the environment. However, the market volume is only 24 bn US$ in 2005. The ideal of environmental technology is zero-emission. In spite of some experiments of specific branches, the market is just at the start.

Although Asia has by far the largest growth rate in the worldwide environmental industry, especially in Japan and Korea, Europe will still lead in the technology development. The strong environmental consciousness and limited territory will stimulate European countries to adopt the most up-to-date innovations. USA will be a close competitor because of their gigantic industry scale and advanced Life Science technologies and nanotechnologies.

Sumber :

Portal Insinyur Kimia (BKK PII)

http://kolom.pacific.net.id/ind/artikel