04 September 2011

KADERISASI KEDAI KOPI

Kedai kopi kini tidak hanya dijadikan sebagai tempat menikmati kopi namun juga mampu menjelma sebagai tempat ajang nongkrong sejumlah kalangan. Anak muda dan dewasa meramaikan sejumlah kedai kopi yang saat ini sedang menjamur di perkotaan. Kedan kopi bahkan bisa menjadi basecamp berbagai komunitas di perkotaan. Inilah yang menjadi kelebihan kedai kopi. Daya tarik untuk mengunjunginya juga menjadi gaya hidup khususnya anak muda atau mahasiswa. KADERISASI Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi atau pendidikan. Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah “sekolah-sekolahan” atau “meeting at class” , melainkan dalam pengertian luas. Salah satu tugas seorang pemimpin sebagai subyek kaderisasi adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya. DISKUSI & SHARING Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih. Biasanya komunikasi antara mereka tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut. Sharing atau berbagi adalah bentuk prilaku yang saling member dan menerima setiap beban dan berkat kepada semua personal yang terlibat dalam lingkaran emosi tersebut. Dalam sharing tercipta ikatan emosi dan batin yang tidak beli maupun di-utangkan, karena ikatan ini adalah ikatan sukarela karena adanya pengorbanan dalam mempertahankan hubungan. NONGKRONG DI KEDAI KOPI Dalam kedai kopi, tidak melibatkan aturan dialog yang formal seperti yang kita ikuti dalam seminar atau pelatihan di kelas. Di kedai kopi, aroma diskusinya adalah persamaan derajat walau subjek dan objek kaderisasi tersebut berasal dari kelas atau jabatan yang berbeda. Diskusi di kedai kopi menelanjangi watak pelaku dan pendengar sehingga terciptanya sharing atau care sesama tanpa ada judgement. Suasana santai terjalin dan kejujuran timbul dalam diskusi tersebut. Sejarah menyatakan, grup lawak WARKOP DKI ( alm. DONO, alm KASINO, dan INDRO) lahir dari sebuah kedai kopi dekat dengan stasiun PRAMPORS FM, ide lawak mereka yang ber-content Intelektual dan Kritis berasal dari bincang bincang kedai Kopi. Sejarah kemerdekaan Indonesia, yang di awali dengan pertemuan “rengas dengklok” adalah sebuah kedai tempat rutin berkumpulnya atau “base camp” para aktifis pemuda indonesia. Dalam diskusi ciptakan bentuk mediasi, kedai kopi menyediakan suasana yang rileks dan sharing meng-eratkan ikatan batin. Ketiga faktor tersebut membidani sejumlah ide dan kreatifitas komunitas.

02 September 2011

MENAMBANG BENSIN DARI MIKROALGA







Andai cadangan minyak bumi dari makin menipis, lalu bagaimana dengan nasib bumi kita ? Itu sebabnya banyak Negara saling berpacu untuk menemukan BBM terbarukan. Biosolar dari tanaman jarak pagar boleh menjadi yang paling muktakhir. Dibelakangnya, mikroalga atau ganging mikro siap masuk gelanggang.

Mikrolga, kalau anda belum pernah mendengar namanya, adalah isitilah umm bagi organism fotosintetik akuatik bersel satu, alias mikroskopis. Dia memang tidak berdaun atau berakar, namun keberadaanya krusial di muka bumi ini. Walau kecil, dia berjasa menghasilkan setengah dari oksigen di atmosfer dari hasil olahannya terhadap gas rumah kaca, seperti karbomonoksida. Wajib kita berterima kasih kepadanya.

Bukan Cuma itu, si hijau kecil ini juga diketahui menjadi baham pembuatan obat dan suplemen seperti spirulina. Kandungan Omega-3 yang terdapat pada ikan salmon juga berasal dari mikroalga yang jadi santapan siang ikan salmon. Kelak perannya di bumi bakal bertambah, yakni sebagai bahan bakar kenderaan.

Studi soal mikroalga sudah dimulai sejak 1970-an di amerika serikat. Tepatnya oleh departemen Energi AS lewat Aquatic Species Program yang mencari species perairan yang berpotensi menghasilkan minyak pengganti BBM dari fossil. Maklum saja, ketika itu harga minyak bumi sedang melambung dan pasokannya langka.

Para peneliti dalam program tersebut melirik mikroalga. Usut punya usut, ternyata si hijau kecil ini bisa memproduksi dan meyimpan minyak 50% lebih dari massa tubuhnya. Dan bila di-reaksikan dengan alcohol seperti etanol dan methanol, ia mampu menghasilkan zat yang mirip dengan diesel (petrosolar). Karena solar yang satu ini berasal dari makhluk hidup maka dinamakanlah biosolar.

Memang ada beberapa tumbuhan lain yang mampu menghasilkan minyak, tapi biaya dan waktu yang dibutuhkan akan lebih besar dan lebih lama. Sedangkan mikroalga “bandel”, ia bisa tumbuh di jenis perairan apa pun, baik tawar ataupun tidak. Makanannya pun mudah, hanya zat-zat hara, limbah, dan gas karbondioksida. Makin banyak CO2 yang diserap, makin cepat ia mengonversi limbah.

Hebatnya lagi, makin banyak limbah yang dikonversi menjadi biomassa, makin banyak pula kandungan minyak pad alga itu. Saking efisiennya, tercatat bahwa mikroalga mampu menghasilkan minyak 10-30 kali lebih banyak dari pada tanaman berat.

DIBUAT KELAPARAN

Apa boleh buat, kenyataan sering berbicara lain. Solar yang dipakai sekarang tetap hasil sintetis dari bahan bakar fosil dan bukan sepenuhnya dari mikroalga. Penyebabnya, biaya produksi solar berbahan mikroalga jauh lebih tinggi.

Mikroalga yan ingin dipergunakan di industry, ternyata tidak bisa ditumbuhkan di perairan terbuka. Ia akan kalah bersaing dengan mikroorganisme liar lain dan rentan terhadap virus. Paling cocok ditumbuhkan dalam fotobioreaktor, reactor berbentuk tabung yang digunakan mereaksikan organism dengan bantuan cahaya.


Dengan sistem tertutup seperti itu, maka produksinya juga harus dikendalikan secara penuh. Pemberian makanan – seperti nitrogen tereduksi misalnya – juga harus terjamin kualitas dan kuantitasnya. Kita juga tidak boleh memberikan limbah yang tidak memenuhi syarat.

Pemberian nitrogen – tereduksi sebenarnya juga tidak murah. Masalahnya, nitrogen-tereduksi dapat ditemukan dari pupuk kimia yang proses pembuatannya sangat memakan energy. Apalagi sisa pupuk yang kalau teroksidasi oleh udara bebas bisa menjadi oksida nitrat (N2O) yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.

Agar si mikroalga bisa memproduksi minyak dalam jumlah tinggi, ia harus dibuat kelaparan terlebih dahulu, karena saat itulah sebagian biomassanya akan berubah menjadi minyak. Tetapi pada saat yang bersamaan pertumbuhannya akan berhenti. Gambarannya seperti kita mengambil uang pokok tabungan di bank dan bukan bunganya.

Sekitar pertengahan decade 1990-an, penelitian mikroalga dihentikan karena harga minyak bumi kembali normal. Tetapi belakangan ia kembali dilirik lantaran isu-isu lingkungan kembali di santer terdengar seperti pemanasan global dan konflik geopolitik yang sekarang sedang memanas.

Para peneliti kembali menyisingkan lengan baju, salah satunya, Prof. James Liao dan tim dari Univ California Los Angeles (UCLA). AS. Sejak 2008, James bersama tim-nya telah melakukan penelitian kembali dan dalam laporan penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Biotechnology, 6 maret 2011, ia menjabarkan tentang mengubah protein dari mikroalga menjadi bensin. Juga tentang cara mengembangbiakan mikroalga tanpa asupan pupuk.

Isu ini sangat menarik, karena sejauh ini belum ada satupun skema Industri BBM terbarukan yang mampu menggunakan bahan baku protein. Biasanya, bakteri yang diberi makan protein tidak akan mendegradasi protein itu menjadi BBM, melainkan menjadi protein tubuhnya sendiri.

TUMBUH CEPAT

Bakteri yang bisa mensintesis bensin sebenarnya sudah berhasil dibuat sejak tiga tahun silam oleh kelompok peneliti yang sama. Dengan memanfaatkan kemajuan bioteknologi, mereka berhasil merekayasa jalur metabolism bakteri E. Coli hingga bakteri tersebut mampu mensekresi alcohol seperti Isobutanol, 2 metil-1-butanol dan 3-metil-1-butanol.

Ketiga alcohol itu memiliki sifat yang sangat menyerupai bensin, sehingga dapat dipakai dalam mesin kendaraan tanpa perlu dicampur dengan petrobensin, dan tidak akan mengganggu performa mesin. Ini berbeda jauh dengan bioethanol (bensin dari alcohol) yang terbuksi korosif dan kandungan energinya 30% dari petrobensin.

Masalahnya, E Coli yang telah termutasi itu membutuhkan asupan makanan. Ada 3 kelompok besar makanan baginya yaitu : kalbohidrat, lipid dan protein. Kalau member makan bakteri tersebut menggunakan kalbohidrat atau lemak, maka ia akan rebutan dengan manusia dan timbul krisis pangan di bumi. Berbeda kalau makananya protein. Alam bunya sumber protein yang tidak kita konsumsi yakni mikoralga.

Hampir setengah badan is hijau kecil ini memang merupakan protein. Sebagian besar protein ini bertindak sebagai “mesin –mesin” fotosinstesis intraseluler. Karena tumbuhnya sangat cepat ( dua kali lipat dalam 24 jam) produktivitas sintesi proteinnya juga lebih tinggi dari tumbuhan dan hewan. Apalagi kalau diinduksi untuk menghasilkan minyak, maka mereka akan terus tumbuh tak terhingga dan memproduksi semakin banyak protein. Seperti ledakan penduduk saja.

Strategi inilah yang dipakai kelompok James dan tim. Mikroalga akan dipanen dan kandungan biomassanya (pati, gula sederhana, lemak dan protein) akan dihidrolisis. Hidrolisat –hidrolisat atau saripati akan diberikan kepada si E. Coli agar dicerna untuk berbagai kepentingan sel, termasuk pembuatan bio-bensin

Sayangnya, ketika sari protein diberikan, E Coli justru mengubahnya menjadi asam amino yang berguna untuk protein tubuhnya sendiri. Melihat hal ini James dan tim-nya segera memutar akal mencoba menghilangkan gen pengkode enzim dalam bakteri tersebut. Dengan cara itu akhirnya sang bakteri takluk dan memproduksi biobensin.

SIAP UNTUK DIKEMBANGKAN

Untuk pengembangan skala industry, factor biaya sangatlah sensitive. Dan setidaknya ada dua hal yang masih berpotensi membengkakkan biaya di level industry. Pertama adalah masalah kultivasi dan pemanenan mikroalga skala besar. Kedua adalah masalah ekstraksi dan purifikasi biobensin dari medium.

SUMBER : MAJALAH INTISARI EDISI SEPTEMBER 2011