30 Juni 2010

Bagaimana Tuhan berkerja ?


Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam.Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka,dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu. Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala,bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya. Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan "begitu kejam" melepaskan anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti Ia setia, Ia mengasihi kita, dan Ia selalu berjaga-jaga bagi kita.

10 Differences Between A Winner And A Loser


To help you and your team develop a winning mindset, here are ten differences between a winner and a loser which have helped countless high achievers stay ahead:








  1. A winner makes mistakes and says, “I was wrong”. A loser says, “It wasn’t my fault”.
  2. A winner credits his good luck for winning even though it wasn’t luck. A loser credits his bad luck for losing, but it wasn’t luck.
  3. A winner works harder than a loser and has more time. A loser is always ‘too busy’, too busy staying a failure.
  4. A winner goes through a problem and a loser goes around it.
  5. A winner shows he’s sorry by making up for it. A loser says he’s sorry but he does the same thing next time.
  6. A winner knows what to fight for and what to compromise on. A loser compromises on what he should not and fights for what isn’t worth fighting for. Every day is a battle for life and it is very important that we are fighting for the right things and not wasting our time with trivia.
  7. A winner says, “I’m good, but not as good as I ought to be”. A loser says, “Well, I’m not as bad as a lot of other people”. A winner looks up to where he is going. A loser looks down at those who’ve not yet achieved the position he has.
  8. A winner respects those who are superior to him and tries to learn from them. A loser resents those who are superior to him and tries to find fault.
  9. A winner is responsible for more than his job. A loser says, “I only work here”.
  10. A winner says, “There ought to be a better way of doing it”. A loser says, “Why change it - that’s the way it’s always been done”.
http://www.ldl.co.uk/uk-sales-marketing-consultants.htm

18 Juni 2010

BERANI !!


Apa sebenarnya kelemahan orang indonesia ?
Berikut ini adalah pandangan Ibu Sri Mulyani Idrawati yang saya kutip dari hasil wawancaranya dengan majalah Intisari di Kantor Menko Perekonomian yang dipublikasikan bulan September 2009. Ketika itu, beliau masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia dan Menteri Keuangan RI.
Orang Indonesia mudah disentuh, mudah dimotivasi, tapi lemah dalam delivery. Jadi niat itu gampang, tapi menghitungnya secara cermat, melaksanakan setiap tahap dengan seluruh upaya, mengambil resikonya, bahkan berkorban untuk itu, Indonesia lemah.
Mengapa?
Karena selama ini orang Indonesia dibesarkan oleh pendidikan yang tidak menghargai proses. Negara ini sangat didominasi oleh hasil. karena itu negara ini belum mampu menjadi negara industri. Satu dua jenius ada, tapi mereka membutuhkan sistem pendukung yang diisi oleh orang-orang yang berdedikasi terhadap proses. Makanya, reformasi saya (di Dep Keu) bukan untuk kelihatan keren di depan. Tapi lebih pada mengubah pola pikir.
Risiko dan takut berkorban dihadapi tidak saja oleh orang orang sekaliber Sri Mulyani. Kita semua menghadapinya setiap hari. Apakah kita termasuk tipikal orang indonesia yang dia maksud ? Andaikan kita mengangguk (walaupun dengan ragu) jangan jangan kelemahan kita hanya pada satu hal : BERANI
Berani bermimpi, tetapi beranikah kerja keras mengubah cita-cita menjadi fakta ? beranikah kita menghitung harga yang harus di bayar, berani mengambil risiko dan berani berkorban untuk itu.

sumber : intisari september 2009