Tampilkan postingan dengan label Energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energy. Tampilkan semua postingan

08 Mei 2013

Minyak Bumi Bukan Berasal Dari Fosil ?


Kebijakan pemerintah soal bahan bakar minyak (BBM) selalu saja ditunggu dengan harap-harap cemas, begitupun penetapan kuota produksi negara-negara penghasil minyak (OPEC), yang berdampak pada fluktuasi harga BBM di pasar internasional selalu diamati dengan penuh kekhawatiran.

Pesimistis dalam dunia perminyakan secara tidak sadar memang telah dibangun dari awalnya. Kita semua percaya bahwa minyak bumi adalah bahan bakar fosil, hampir setiap hari “fakta” ini disebut dalam berbagai media massa. Lalu siapa sebenarnya yang pertama mengajukan teori (tepatnya hipotesis) yang kadung dipercaya semua orang ini? Adalah Mikhailo V. Lomonosov, seorang cendekiawan besar Rusia, yang pada 1757 mengajukan sebuah hipotesis bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa makhluk hidup. 

Berdasarkan hipotesis ini, berarti minyak mentah akan terbentuk sangat lambat, karena berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang telah mati, melewati jutaan tahun terkubur di bawah batuan,  mengalami  tekanan dan suhu yang luar biasa, lalu mengubahnya menjadi minyak mentah.

Industri minyak bumi modern lahir 145 tahun yang lalu di Titusville, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) ketika Edwin Drake sukses melakukan pemboran pertama minyak bumi di AS. Kala itu hampir tidak ada yang mengkhawatirkan berapa lama lagi perut bumi menyediakan minyaknya untuk dambil? Tetapi sejak produksi minyak di AS memuncak sekitar 1970, sejumlah ahli geologi, ahli ekonomi dan analis industri mulai mempertimbangkan sebuah pertanyaan, berapa lama lagi pasokan minyak bumi dunia bisa memenuhi permintaan yang terus meningkat? Banyak kalangan memprediksi, produksi minyak global akan mencapai puncaknya beberapa tahun ke depan.
Konsekuensi dari hipotesis “bahan bakar fosil” tentunya menyisakan pertanyaan-pertanyaan pesimis seperti itu. Berapa banyak minyak mentah yang masih tersisa di dalam perut bumi? Dan kapan habisnya?

Menurut National Geographic, jumlah minyak mentah yang tersisa di bumi diprediksi sekitar 1,2 triliun barrel. Walaupun ladang minyak baru banyak ditemukan, tetapi pasokan saat ini tidak sebanding dengan penemuan-penemuan ladang tersebut. Berdasarkan gambaran konsumsi saat ini, berarti perkiraan 1,2 triliun barrel minyak bumi akan habis dalam tempo 44 tahun.

Benarkah masa kejayaan energi tak terbarukan ini akan segera berakhir ? Akankah tak akan tersisa lagi tetesan minyak di jebakan kerak bumi ? Ataukah akan segera berakhir ? Ataukah ini hanya isu -isu yang sengaja dihembuskan untuk melambungkan harga "emas hitam" ini ?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita mesti meninjau ulang hipotesis biogenik Lomonosov yang dibuat hampir 250 tahun yang lalu itu. Beberapa ilmuwan mulai mempertanyakan pandangan tradisional ini. Pada abad ke-19 hipotesis  ini untuk pertama kalinya ditolak seorang naturalis dan geolog Jerman kenamaan, Alexander von Humboldt, dan ahli kimia termodinamik Prancis, Louis Joseph Gay-Lussac, kemudian mereka mengajukan dalil alternatif yang menyatakan bahwa minyak bumi adalah materi primordial (purba) yang memancar dari tempat yang sangat dalam, dan tak ada hubungannya dengan materi biologis dari permukaan bumi.








08 Oktober 2011

DUNIA TANPA MINYAK ?



Di seluruh dunia, dengan sedikit pengecualian, terdapat kecenderungan bahwa permasalahan sosial dan ekonomi justru banyak timbul di Negara negara pemilik sumberdaya minyak dan gas serta sumberdaya mineral, yang disebut juga sektor ekstraktif. Pertumbuhan pendapatan di negaranegara “kaya sumber daya alam” ini justru lebih rendah ketimbang di negara-negara “miskin sumberdaya alam”. Selain itu, sektor ekstraktif selalu diasosiasikan dengan indikasi sosial, politik, dan lingkungan yang buruk seperti korupsi, kekerasan, pelanggaran hak azasi manusia, lemahnya penegakan hukum, serta rusaknyalingkungan. Semua ini berdampak sangat buruk pada pertumbuhan pendapatan dan indicator pembangunan berkelanjutan lainnya.

Nigeria, contohnya. Minyak bumi menguasai 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB), 70% dari pendapatan pemerintah, serta 95% ekspor, menjadikannya sangat tergantung terhadap minyak bumi. Pada saat yang sama, menurut Transparency International, sebuah lembaga antikorupsi terkemuka di dunia, Nigeria berada di ranking teratas dari 90 negara dengan pemerintah yang terkorup sedunia. Indonesia, dengan minyak menguasai 10% PDB, 25% pendapatan negara, dan 80% ekspor, berada di urutan ke lima dari pemerintah terkorup di dunia menurut Transparency Internasional.

Seperti dengan air, minyak ternyata tidak dapat bersatu dengan demokrasi. Tidak kurang dari penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia (misalnya oleh Michael Ross, seorang visiting scholar dari Universitas Princeton yang melakukan penelitian di Bank Dunia) memperlihatkan adanya kecenderungan korelasi antara pemerintah yang opresif dengan kekayaan sektor ekstraktifnya. Ross menemukan bahwa di negara-negara kaya minyak, gas, dan mineral, aplikasi pajak yang rendah dan pendapatan yang tinggi, dibarengi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang rendah dan struktur tenaga kerja yang belum terspesialisasi menyebabkan masyarakat kurang menghargai institusi perwakilan rakyat.

Pendapatan negara yang besar memberikan kemampuan kepada pemerintah untuk menghindari tekanan kaum demokrat dan menahan munculnya kelas menengah yang kritis. Chaudri menemukan bahwa pada sekitar tahun 1970-an, program pembangunan di Timur Tengah dilakukan secara eksplisit mendepolitisasi masyarakatnya. “Di semua kasus”, lanjutnya, “Pemerintah di negara-negara ini dengan sengaja menghancurkan lembaga-lembaga madani serta melahirkan lembaga lembaga pemerintah yang memfasilitasi tujuan politis dari negara”. Di negara-negara Afrika dan Timur Tengah, masalah ini juga diperburuk dengan kenyataan bahwa pendapatan yang besar dari sektor ekstraktif ini justru dipergunakan untuk menekan rakyatnya sendiri. Pendapatan dari minyak dipergunakan untuk membangun kekuatan bersenjata untuk memberangus inisiatif apapun yang mengancam pemerintahnya.

Penggunaan energi minyak, gas, dan batubara memang membawa dampak yang serius baik terhadap lingkungan maupun sosial. Minyak, gas, dan sumberdaya mineral seperti mengandung kutukan. “Paradox of plenty”, yang juga dipergunakan sebagai judul buku oleh Terry Lynn Karl , memperlihatkan hubungan antara minyak, gas, dan mineral dengan pembangunan negara. “Seperti tikus mati di lumbung padi”. Apa yang sebenarnya terjadi?

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, keadaannya juga tidak banyak berbeda. Seperti lagu Koes Plus di tahun 70-an, Indonesia memang terlena dengan “kolam susu”, negeri gemah ripah loh jinawi dengan sumberdaya alam yang kaya, di mana “kayu dan batu jadi tanaman”. Ekstraksi minyak dimulai dengan nasionalisasi Royal Dutch Shell, serta Caltex yang saat ini merupakan usaha patungan antara Chevron dan Texaco dengan Pertamina menjadi penanaman modal asing besar berikutnya. Setelah itu, minyak menjadi andalan perekonomian Indonesia. Pada kurun waktu 10 tahun saja dari tahun 1970 ke 1980, penerimaan bersih ekspor migas (ekspor dikurangi impor) meningkat seratus kali lipat dari sekitar $92 juta menjadi sekitar $9 miliar. Padahal, minyak merupakan sumberdaya yang tidak terbarukan. Walaupun Indonesia merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries, OPEC), pangsanya dalam total produksi global hanya 0.6%. Dengan deposit sekitar 10 triliun barrel minyak, kapasitas ekstraksi yang saat ini mencapai 500 juta barrel ber tahun akan menghabiskannya pada jangka waktu 20 tahun. Gas alam memiliki jangka waktu yang panjang, sekitar 30 tahun, sementara batu bara sekitar 50-an tahun.

Transportasi merupakan sektor pengkonsumsi minyak terbesar dengan 40,1% dari total. Sektor industri 36,15%, sementara rumah tangga 23,75%.4 Pembangkit listrik mengkonsumsi 9 persen saja. Sebagai akibat dari meningkatnya pendapatan dan urbanisasi, konsumsi minyak akan meningkat lebih banyak lagi. Meningkatnya permintaan akan minyak juga mengakibatkan dampak lingkungan dan sosial yang besar pada proses ekstraksi dan pembakarannya. Dampak sosialnya — seperti terdokumentasikan pada beberapa kasus di dunia di atas — sangat memprihatinkan. Pada banyak kasus, ekstraksi sumberdaya minyak hampir tidak memperhatikan hak hak masyarakat lokal dan asli, dan justru merusak kerekatan sosial dan kekuatan budaya lokal di daerah itu. Polusi hidrokarbon yang diakibatkan oleh ekstraksi minyak meningkatkan resiko kanker pada masyarakat yang tinggal bertetangga dengan ladang minyak. Sementara itu, penggunaan bahan-bakar fosil pada umumnya menyebabkan banyak permasalahan lingkungan seperti pencemaran udara, hujan asam, serta pemanasan global. Padahal, karena proses ekstraksinya hampir selalu bergantung pada teknologi asing, maka penyerapan tenaga lokal sanga tterbatas adanya. Bersamaan dengan itu, karena produk akhirnya sebagian besar diekspor, maka sangat sedikit manfaat ekonomi yang didapatkan dari minyak secara nasional, apalagi secara lokal. Jalan keluarnya telah banyak diketahui. Secara teknis, dampak lingkungan dan sosial dari proses ekstraksi sebetulnya bisa diminimisasi. “Pengembangan masyarakat” seperti yang didefinisikan oleh industry minyak sendiri dapat membantu meningkatkan penerimaan masyarakat atas adanya industri ekstraktif di daerahnya, walaupun sangat terbatas sekali.

Permintaan akan bahan-bakar fossil jelas harus dikurangi. Penggunaan energi harus jauh lebih efisien dari saat ini, sementara sumber-sumber yang terbarukan harus diperbesar perannya. Pada sektor transportasi, banyak upaya yang dapat dilakukan — dari pengendalian ke pencegahan pencemaran ke penggantian bahan bakar kepada yang lebih bersih. Pendekatan yang lebih sistemik — dari perencanaan kota yang lebih baik dan lebih terintegrasi, penggunaan kendaraan umum, serta penggunaan kendaraan tanpa motor — juga sudah banyak diketahui.

Di samping cara-cara yang teknis, kemauan politik yang diikuti dengan tatapraja yang baik (good governance) ternyata sangat dibutuhkan di Indonesia. Bahan bakar fosil tidak boleh dijadikan tulang punggung pembangunan ekonomi di Indonesia. Masa depan Indonesia justru ditentukan oleh pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber energy yang terbarukan serta sumberdaya manusia yang handal. Masih ada kehidupan sesudah minyak habis, kalau kita membuatnya. Kalau tidak, pada saat minyak habis, habislah kita semua ….

sumber : life after oil - booklet

02 September 2011

MENAMBANG BENSIN DARI MIKROALGA







Andai cadangan minyak bumi dari makin menipis, lalu bagaimana dengan nasib bumi kita ? Itu sebabnya banyak Negara saling berpacu untuk menemukan BBM terbarukan. Biosolar dari tanaman jarak pagar boleh menjadi yang paling muktakhir. Dibelakangnya, mikroalga atau ganging mikro siap masuk gelanggang.

Mikrolga, kalau anda belum pernah mendengar namanya, adalah isitilah umm bagi organism fotosintetik akuatik bersel satu, alias mikroskopis. Dia memang tidak berdaun atau berakar, namun keberadaanya krusial di muka bumi ini. Walau kecil, dia berjasa menghasilkan setengah dari oksigen di atmosfer dari hasil olahannya terhadap gas rumah kaca, seperti karbomonoksida. Wajib kita berterima kasih kepadanya.

Bukan Cuma itu, si hijau kecil ini juga diketahui menjadi baham pembuatan obat dan suplemen seperti spirulina. Kandungan Omega-3 yang terdapat pada ikan salmon juga berasal dari mikroalga yang jadi santapan siang ikan salmon. Kelak perannya di bumi bakal bertambah, yakni sebagai bahan bakar kenderaan.

Studi soal mikroalga sudah dimulai sejak 1970-an di amerika serikat. Tepatnya oleh departemen Energi AS lewat Aquatic Species Program yang mencari species perairan yang berpotensi menghasilkan minyak pengganti BBM dari fossil. Maklum saja, ketika itu harga minyak bumi sedang melambung dan pasokannya langka.

Para peneliti dalam program tersebut melirik mikroalga. Usut punya usut, ternyata si hijau kecil ini bisa memproduksi dan meyimpan minyak 50% lebih dari massa tubuhnya. Dan bila di-reaksikan dengan alcohol seperti etanol dan methanol, ia mampu menghasilkan zat yang mirip dengan diesel (petrosolar). Karena solar yang satu ini berasal dari makhluk hidup maka dinamakanlah biosolar.

Memang ada beberapa tumbuhan lain yang mampu menghasilkan minyak, tapi biaya dan waktu yang dibutuhkan akan lebih besar dan lebih lama. Sedangkan mikroalga “bandel”, ia bisa tumbuh di jenis perairan apa pun, baik tawar ataupun tidak. Makanannya pun mudah, hanya zat-zat hara, limbah, dan gas karbondioksida. Makin banyak CO2 yang diserap, makin cepat ia mengonversi limbah.

Hebatnya lagi, makin banyak limbah yang dikonversi menjadi biomassa, makin banyak pula kandungan minyak pad alga itu. Saking efisiennya, tercatat bahwa mikroalga mampu menghasilkan minyak 10-30 kali lebih banyak dari pada tanaman berat.

DIBUAT KELAPARAN

Apa boleh buat, kenyataan sering berbicara lain. Solar yang dipakai sekarang tetap hasil sintetis dari bahan bakar fosil dan bukan sepenuhnya dari mikroalga. Penyebabnya, biaya produksi solar berbahan mikroalga jauh lebih tinggi.

Mikroalga yan ingin dipergunakan di industry, ternyata tidak bisa ditumbuhkan di perairan terbuka. Ia akan kalah bersaing dengan mikroorganisme liar lain dan rentan terhadap virus. Paling cocok ditumbuhkan dalam fotobioreaktor, reactor berbentuk tabung yang digunakan mereaksikan organism dengan bantuan cahaya.


Dengan sistem tertutup seperti itu, maka produksinya juga harus dikendalikan secara penuh. Pemberian makanan – seperti nitrogen tereduksi misalnya – juga harus terjamin kualitas dan kuantitasnya. Kita juga tidak boleh memberikan limbah yang tidak memenuhi syarat.

Pemberian nitrogen – tereduksi sebenarnya juga tidak murah. Masalahnya, nitrogen-tereduksi dapat ditemukan dari pupuk kimia yang proses pembuatannya sangat memakan energy. Apalagi sisa pupuk yang kalau teroksidasi oleh udara bebas bisa menjadi oksida nitrat (N2O) yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.

Agar si mikroalga bisa memproduksi minyak dalam jumlah tinggi, ia harus dibuat kelaparan terlebih dahulu, karena saat itulah sebagian biomassanya akan berubah menjadi minyak. Tetapi pada saat yang bersamaan pertumbuhannya akan berhenti. Gambarannya seperti kita mengambil uang pokok tabungan di bank dan bukan bunganya.

Sekitar pertengahan decade 1990-an, penelitian mikroalga dihentikan karena harga minyak bumi kembali normal. Tetapi belakangan ia kembali dilirik lantaran isu-isu lingkungan kembali di santer terdengar seperti pemanasan global dan konflik geopolitik yang sekarang sedang memanas.

Para peneliti kembali menyisingkan lengan baju, salah satunya, Prof. James Liao dan tim dari Univ California Los Angeles (UCLA). AS. Sejak 2008, James bersama tim-nya telah melakukan penelitian kembali dan dalam laporan penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Biotechnology, 6 maret 2011, ia menjabarkan tentang mengubah protein dari mikroalga menjadi bensin. Juga tentang cara mengembangbiakan mikroalga tanpa asupan pupuk.

Isu ini sangat menarik, karena sejauh ini belum ada satupun skema Industri BBM terbarukan yang mampu menggunakan bahan baku protein. Biasanya, bakteri yang diberi makan protein tidak akan mendegradasi protein itu menjadi BBM, melainkan menjadi protein tubuhnya sendiri.

TUMBUH CEPAT

Bakteri yang bisa mensintesis bensin sebenarnya sudah berhasil dibuat sejak tiga tahun silam oleh kelompok peneliti yang sama. Dengan memanfaatkan kemajuan bioteknologi, mereka berhasil merekayasa jalur metabolism bakteri E. Coli hingga bakteri tersebut mampu mensekresi alcohol seperti Isobutanol, 2 metil-1-butanol dan 3-metil-1-butanol.

Ketiga alcohol itu memiliki sifat yang sangat menyerupai bensin, sehingga dapat dipakai dalam mesin kendaraan tanpa perlu dicampur dengan petrobensin, dan tidak akan mengganggu performa mesin. Ini berbeda jauh dengan bioethanol (bensin dari alcohol) yang terbuksi korosif dan kandungan energinya 30% dari petrobensin.

Masalahnya, E Coli yang telah termutasi itu membutuhkan asupan makanan. Ada 3 kelompok besar makanan baginya yaitu : kalbohidrat, lipid dan protein. Kalau member makan bakteri tersebut menggunakan kalbohidrat atau lemak, maka ia akan rebutan dengan manusia dan timbul krisis pangan di bumi. Berbeda kalau makananya protein. Alam bunya sumber protein yang tidak kita konsumsi yakni mikoralga.

Hampir setengah badan is hijau kecil ini memang merupakan protein. Sebagian besar protein ini bertindak sebagai “mesin –mesin” fotosinstesis intraseluler. Karena tumbuhnya sangat cepat ( dua kali lipat dalam 24 jam) produktivitas sintesi proteinnya juga lebih tinggi dari tumbuhan dan hewan. Apalagi kalau diinduksi untuk menghasilkan minyak, maka mereka akan terus tumbuh tak terhingga dan memproduksi semakin banyak protein. Seperti ledakan penduduk saja.

Strategi inilah yang dipakai kelompok James dan tim. Mikroalga akan dipanen dan kandungan biomassanya (pati, gula sederhana, lemak dan protein) akan dihidrolisis. Hidrolisat –hidrolisat atau saripati akan diberikan kepada si E. Coli agar dicerna untuk berbagai kepentingan sel, termasuk pembuatan bio-bensin

Sayangnya, ketika sari protein diberikan, E Coli justru mengubahnya menjadi asam amino yang berguna untuk protein tubuhnya sendiri. Melihat hal ini James dan tim-nya segera memutar akal mencoba menghilangkan gen pengkode enzim dalam bakteri tersebut. Dengan cara itu akhirnya sang bakteri takluk dan memproduksi biobensin.

SIAP UNTUK DIKEMBANGKAN

Untuk pengembangan skala industry, factor biaya sangatlah sensitive. Dan setidaknya ada dua hal yang masih berpotensi membengkakkan biaya di level industry. Pertama adalah masalah kultivasi dan pemanenan mikroalga skala besar. Kedua adalah masalah ekstraksi dan purifikasi biobensin dari medium.

SUMBER : MAJALAH INTISARI EDISI SEPTEMBER 2011

01 Februari 2011

Perpres Panas Bumi Belum Rampung



Sekretariat Kabinet mengembalikan lagi draf rancangan peraturan presiden mengenai penugasan kepada PT PLN (Persero) membeli listrik panas bumi ke kantor Kementerian Koordinator Perekonomian.Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui, draf perpres panas bumi dikembalikan lagi untuk dibahas antarsektor. "Ada hal yang perlu dibenahi. Perlu harmonisasi sekali lagi," katanya di Jakarta, kemarin.Terkait hal tersebut, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Luluk Sumiarso mengatakan, pihaknya siap membahas lagi rancangan perpres tersebut. "Kami tunggu undangan Menko," ujarnya.

Pembahasan rancangan perpres itu akan melibatkan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, dan PT PLN (Persero). Perpres tersebut akan menugaskan PLN membeli harga listrik panas bumi sesuai dengan harga lelang yang dilakukan pemda, tanpa bernegosiasi lagi.

Saat ini terdapat sebanyak 15 proyek pembangkit listrik panas bumi berdaya total 1.625 megawatt (MW) tengah menunggu penerbitan perpres tersebut. Ke-15 proyek tersebut sudah terdapat harga listrik melalui lelang yang dilakukan pemerintah daerah. Penyelesaian proyek ditargetkan tahun 2015.

Selain ke-15 proyek itu, saat ini terdapat 11 proyek lainnya yang tengah dalam proses tender di pemerintah daerah. Saat ini baru terdapat tujuh PLTP dengan kapasitas terpasang 1.189 MW yang sudah beroperasi, sementara potensi tenaga listrik panas bumi di Indonesia diperkirakan mencapai sedikitnya 28.000 MW.

Siap Beli
Sementara itu, manajemen PLN mengaku siap membeli listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang dikembangkan oleh swasta (independent power producer/IPP). Namun, pembeliam tersebut harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, terutama dalam hal harga yang wajar dan sesuai dengan prinsip good corporate governance (GCG).

"Selama ini, PLN diminta menandatangani power purchase agreement (PPA) dengan pengembang sesuai harga hasil pelelangan pemerintah daerah tanpa negosiasi lagi. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh PLN karena ketentuan mengharuskan adanya klarifikasi dan negosiasi. PLN tidak bisa menandatangani PPA dengan harga hasil pelelangan yang tidak melibatkan PLN," ujar Manajer Senior Komunikasi Korporat Bambang Dwiyanto dalam keterangan persnya.

Menurut Bambang, dalam pembelian listrik dari PLTP swasta, PLN menerapkan setidaknya dua opsi. Pertama, opsi negosiasi business to business (B to B), di mana PLN mengajak calon pengembang yang telah memiliki wilayah kerja pertambangan (WKP) untuk melakukan negosiasi harga jual-beli listrik berdasarkan kondisi dan syarat-syarat yang disepakati bersama.
Kedua, opsi penugasan pemerintah. Yaitu, apabila pemerintah menerbitkan regulasi atau penetapan pemerintah yang memberikan penugasan kepada PLN agar menerima hasil tender WKP dengan pemerintah daerah.

Disadur dari : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=271761

06 Oktober 2010

Urgensi Audit Energi di Indonesia


Pernyataan Direktur Utama PT PLN (persero), Dahlan Iskan, seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis, 26 Agustus 2010, tentang rencana BUMN penyedia listrik itu untuk mengimpor batu bara sebanyak 9 juta ton pada 2011 agar listrik tetap menyala menguatkan pendapat pakar energi dari UGM, Prof Dr Tumiran, beberapa waktu lalu tentang urgensi bagi pemerintah untuk mengaudit penggunaan energi terhadap PLN guna menekan biaya produksi dan penaikan tarif dasar listrik.

Beliau menduga karena selama ini tidak ada informasi mengenai penggunaan energi oleh PLN, bisa jadi penggunaan energi oleh PLN belum efisien. Artinya, jumlah energi yang masuk dengan keluaran yang dapat dihasilkan PLN belum sebanding. Kalau audit energi itu dilakukan, barangkali PLN dapat menekan biaya produksi sehingga subsidi pemerintah yang selama ini menguras anggaran sampai Rp56 triliun per tahun dapat dikurangi.

Anggaran subsidi dapat dihemat jika PLN melakukan efisiensi, terutama dalam hal penggunaan energi. Pada akhirnya, penaikan tarif listrik bisa ditekan sehingga tak harus membebani masyarakat terlalu tinggi.
Tumiran juga menyarankan PLN untuk mengonversi energi dengan menggalakkan penggunaan batu bara dan gas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meyakini potensi cadangan gas Indonesia masih bisa bertahan 59 tahun lagi mencapai 170 Tscf (tera standard cubic feet), sedangkan batu bara mempunyai cadangan sebesar 5 x 109 tce (ton coal equivalent).

Di antara dua sumber energi itu, batu bara memang merupakan yang terekonomis karena biaya investasinya per 1 kwh sekitar Rp500 atau Rp600. Gas membutuhkan investasi sekitar Rp900 per kwh. Adapun jika ditinjau dari rasio cadangan (reserve to production ratio-R/P), batu bara mempunyai R/P tertinggi, yaitu sekitar 50 tahun, disusul gas dan minyak bumi yang masing-masing mempunyai R/P sekitar 30 tahun dan 10 tahun.

Sayangnya, seperti diungkap dalam awal tulisan ini, PLN bakal kesulitan mendapatkan pasokan batu bara sesuai dengan kebutuhan pembangkit yang mencapai sekitar 40 juta ton per tahun. Pada masa mendatang, pasokan itu diprediksikan kian sulit karena spesifikasi batu bara yang dibutuhkan adalah batu bara yang berkalori tinggi. Batu bara jenis itu, selain pasokannya terbatas, pun terbilang mahal sehingga menggantungkan pembangkit pada batu bara impor hanya akan membuat keuangan PLN kian tertekan. Maka, mau tidak mau, PLN harus memprioritaskan pembangunan pembangkit yang menggunakan gas maupun sumber energi lainnya seperti mikrohidro, geotermal, maupun energi terbarukan lainnya.

Pilihan yang rasional adalah pembangkit berbahan bakar gas. Energi terbarukan seperti energi surya, meskipun ramah lingkungan, membutuhkan biaya untuk investasi cukup besar. Energi air dan energi panas bumi (geotermal), meskipun mempunyai potensi cukup besar, memerlukan pertimbangan matang untuk pengembangannya karena sumber energi ini berada jauh dari pengguna.

Pemerintah perlu didorong untuk memprioritaskan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas karena dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit listik 10.000 Mw tahap I maupun II komposisi pembangkit berbahan bakar gas sangat minim. Untuk sekitar 94 lokasi proyek 10.000 Mw tahap II, dari komposisi energi primer, hingga 2014 penggunaan gas hanya 16%. Komposisi terbesar malah panas bumi dengan 39%, disusul batu bara 33% dan air 12%.

Kaji ulang
Komposisi penggunaan energi primer tersebut patut dikaji ulang dengan memberikan porsi lebih besar bagi penggunaan gas mengingat batu bara dan panas bumi dalam jangka pendek tidak bisa dijadikan andalan. Khusus untuk panas bumi, meskipun diyakini sebagai energi yang ramah lingkungan, penggunaannya masih sangat terkendala karena cadangannya berada di daerah yang jauh dari konsumen dan daya beli sebagian konsumen panas bumi masih di bawah keekonomian pengembangan lapangan geotermal.

Pilihan penggunaan gas kian rasional karena selain masih tersedianya cadangan sebesar 170 Tscf, pasokan gas akan diperkuat dengan cadangan gas metana batu bara (CBM) yang berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencapai 453,3 triliun standar kaki kubik. Pemerintah telah menargetkan cadangan CBM di Indonesia akan menjadi energi yang bisa dipakai secara luas mulai 2011.

Apabila gas menjadi pilihan utama untuk pembangkit, pemerintah harus membereskan pekerjaan rumah utamanya, yakni memenuhi komitmen penyediaan gas bagi PLN. Sejauh ini, PLN kerap kesulitan mendapatkan pasokan gas. Pada tahun ini saja realisasi penggunaan gas hanya 20% di bawah rencana tahunan perusahaan (RKAP). PLN kekurangan gas sekitar 1 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).
Sejak 2000 sebenarnya PLN sudah menunggu gas untuk PLTGU Muara Tawar, PLTGU Tambaklorok, dan PLTGU Grati, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan pasokan gasnya sehingga terpaksa sampai saat ini dioperasikan dengan BBM. Bila gasnya tersedia, tentu PLN akan memakainya secara maksimal, termasuk untuk pembangkit minyak (BBM) yang bisa dimodifikasi menjadi pakai gas. Akibat kekurangan pasokan gas, PLN menanggung kerugian sekitar Rp3 triliun per tahun karena beberapa pembangkitnya 'salah makan'.

Jika saja komitmen gas ini terpenuhi, setidaknya dalam lima tahun ke depan akan ada efisiensi di tubuh PLN sekitar Rp15 trilun. Pemerintah juga bisa menekan kerugian akibat penjualan gas keluar negeri yang selama ini jorjoran dilakukan sekitar Rp33 triliun.

Guna mendorong penggunaan gas yang terjangkau bagi PLN, pemerintah patut merespons dua usulan PT Pertamina (persero) beberapa waktu lalu, yakni, pertama, pengurangan pendapatan pemerintah dari pemanfaatan gas. Usulan itu kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah dengan menerbitkan kebijakan insentif gas domestik (IGD). Kedua, konsep relokasi subsidi dari BBM ke gas. Usulan-usulan tersebut belum direspons pemerintah.
Sayangnya, pemerintah sendiri masih terus menghitung harga yang pas untuk dalam negeri. Rencana pengalihan subsidi itu pun tampaknya tidak digubris karena pemerintah dalam penetapan harga jual gas tetap berpegang pada mekanisme pasar. Pemerintah tidak akan memberikan subsidi pada pelaku usaha, termasuk PLN, dalam mendapatkan harga gas.

Pekerjaan rumah lainnya adalah penyediaan infrastruktur. Problem pemipaan masih menjadi penghambat kegiatan penyaluran gas yang ada di Indonesia. Perlu disadari bahwa penyaluran gas hasil eksplorasi tidak bisa disalurkan melalui mobil tanki ataupun peralatan lainnya. Proses penyaluran gas selalu dengan menggunakan pipa. Padahal, sisem pemipaan di Indonesia sejauh ini sangat buruk dan tidak lengkap.

Oleh Eriko Sutarduga, Anggota Komisi VI DPR

15 Juli 2010

KOTORAN JADI BAHAN BAKAR


Siapa sangka kotoran ternak bisa jadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Lewat proses fermentasi, limbah yang baunya amat merangsang itu dapat diubah menjadi biogas. Energi biogas ini punya kelebihan yang nyata ketimbang energi nuklir atau batubara. Selain itu, biogas tak memiliki polusi yang tinggi. Dengan begini, sanitasi lingkungan pun makin terjaga.
Sejak terjadinya krisis energi pada 1973, masalah energi menjadi topik utama dunia. Negara-negara maju mulai berlomba-lomba mencari terobosan baru dalam menghasilkan energi alternatif yang jauh lebih murah ketimbang minyak dan gas. Mereka pun menerapkan kebijakan diversifikasi energi. Tentunya ketergantungan pada energi tak terbarukan tadi makin berkurang. Ini wajar saja, sebab setiap krisis yang terjadi selalu memberikan efek pada kenaikan harga BBM. Plus ketersediannya yang kurang memadai.
“Salah satu energi alternatif tadi, biogas. Energi ini punya masa depan yang cerah. Kita punya banyak bahan baku energi itu,” ungkap Daru Mulyono dari Direktorat Teknologi Budi Daya Pertanian, BPPT. Sayangnya, pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas ini kalah ngetop ketimbang pupuk tanaman dari kotoran itu.
Padahal dengan teknologi biogas, kandungan zat-zat alami yang terdapat pada kotoran ternak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Jadi tak takut lagi ribut-ribut soal pasokan energi yang kurang. Pasalnya, biogas ini bisa dipakai untuk apa saja. Sebut saja mulai dari untuk memasak, lampu penerangan, transportasi hingga keperluan lain yang perlu energi. Bila biogas telah diaplikasikan secara luas, isu kekurangan pasokan energi bisa dihindari. Bahkan sanitasi lingkungan pun makin meningkat.
Biogas biasanya dikenal sebagai gas rawa atau lumpur. Gas campuran ini didapat dari proses perombakan kotoran ternak menjadi bahan organik oleh mikroba dalam kondisi tanpa oksigen. Proses ini populer disebut anaerob. Selama proses fermentasi itu berjalan, biogas pun terbentuk. (lihat gambar proses aliran pembentukan Biogas).
Dari proses fermentasi ini, akan dihasilkan campuran biogas yang terdiri atas, metana (CH4), karbon dioksida, hidrogen, nitrogen dan gas lain seperti H2S. metana yang dikandung biogas ini jumlahnya antara 54 – 70 %, sedang karbon dioksidanya anatara 27 – 43 %. “Gas-gas lainnya memiliki persentase hanya sedikit saja,” ujar Daru. Selama proses itu, lanjut Daru, mikroba yang bekerja butuh makanan. Di dalam makanan itu terdiri atas karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus biokimia, nutrisi tadi akan diuraikan. Dari sini, akan dihasilkan energi untuk tumbuh. Dari proses pencernaan anaerobik ini akan dihasilkan gas metan. Bila unsur-unsur dalam makanan tadi tak berada dalam kondisi yang seimbang alias kurang, bisa dipastikan produksi enzim untuk menguraikan molekul karbon komplek oleh mikroba akan terhambat. untuk menjamin semuanya berjalan lancar, unsur-unsur nutrisi yang dibutuhkan mikroba harus tersedia secara seimbang.. Dalam pertumbuhan mikroba yang optimum biasanya dibutuhkan perbandingan unsur C : N : P sebesar 100 : 2,5 : 0,5.
Beres masalah keseimbangan nutrisi, masih ada beberapa faktor lain yang perlu dicermati. Faktor-faktor ini pun berpotensi sebagai pengganggu jalannya proses fermentasi. “Ada beberapa senyawa yang bisa menghambat (proses) penguraian dalam suatu unit biogas. Untuk itu, saat menyiapkan bahan baku untuk produksi biogas, bahan-bahan pengganggu seperti antiobiotik, desinfektan dan logam berat harus diperhatikan seksama,” terang Daru.
Gas metan hasil fermentasi ini akan menyumbang nilai kalor yang dikandung biogas. Besarnya antara 590 – 700 K.cal/m3. Nilai kalor biogas sumber utamanya memang dari gas metan itu. Plus sedikit dari H2 serta CO, sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi apa-apa dalam soal nilai panas tadi.
Dalam hal tingkat nilai kalor yang dimiliki biogas punya keunggulan yang signifikan ketimbang sumber energi lainnya, seperti coalgas (586 K.cal/m3) ataupun watergas (302 K.cal/m3). Nilai kalor biogas itu kalah oleh gas alam (967 K.cal/m3). Bahkan, menurut D. Wibowo dalam makalahnya Gas Bio Sebagai Suatu Sumber Energi Alternatif, setiap kubik biogas setara dengan setengah kilogram gas alam cair (liquid petroleum gases), setengah liter bensin dan setengah liter minyak diesel. Biogas pun sanggup membangkitkan tenaga listrik sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour (kwh). (yuli setiawan, dikutip dari DAUR)

01 Juli 2010

Sel Surya - Energy Matahari


Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sebenarnya sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 1024 joule pertahun. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini. Perkembangan yang pesat dari industri sel surya (solar sel) di mana pada tahun 2004 telah menyentuh level 1000 MW membuat banyak kalangan semakin melirik sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan ini.

Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69% dari total energi pancaran matahari . Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 10 joule pertahun, energi ini setara dengan 2 x 1017 Watt . Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0.1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini .

Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua buah sifat yaitu dapat sebagai gelombang dan dapat sebagai partikel yang disebut dengan photon. Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Einstein pada tahun 1905. Energi yang dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan panjang gelombang λ dan frekuensi photon V dirumuskan dengan persamaan:

E = h.c/ λ

Dengan h adalah konstanta Plancks (6.62 x 10-34 J.s) dan c adalah kecepatan cahaya dalam vakum (3.00 x 108 m/s). Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa photon dapat dilihat sebagai sebuah partikel energi atau sebagai gelombang dengan panjang gelombang dan frekuensi tertentu [3]. Dengan menggunakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, cahaya yang datang akan mampu dirubah menjadi energi listrik.

Hingga saat ini terdapat beberapa jenis solar sel yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti untuk mendapatkan divais solar sel yang memiliki efisiensi yang tinggi atau untuk mendapatkan divais solar sel yang murah dan mudah dalam pembuatannya.

Tipe pertama yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti adalah jenis wafer (berlapis) silikon kristal tunggal. Tipe ini dalam perkembangannya mampu menghasilkan efisiensi yang sangat tinggi. Masalah terbesar yang dihadapi dalam pengembangan silikon kristal tunggal untuk dapat diproduksi secara komersial adalah harga yang sangat tinggi sehingga membuat solar sel panel yang dihasilkan menjadi tidak efisien sebagai sumber energi alternatif. Sebagian besar silikon kristal tunggal komersial memiliki efisiensi pada kisaran 16-17%, bahkan silikon solar sel hasil produksi SunPower memiliki efisiensi hingga 20%[www.sunpowercorp.com]. Bersama perusahaan Shell Solar, SunPower menjadi perusahaan yang menguasai pasar silikon kristal tunggal untuk solar sel.

Jenis solar sel yang kedua adalah tipe wafer silikon poli kristal. Saat ini, hampir sebagian besar panel solar sel yang beredar di pasar komersial berasal dari screen printing jenis silikon poli cristal ini. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan cara membuat lapisan lapisan tipis dari batang silikon dengan metode wire-sawing. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan sekitar 250・50 micrometer. Jenis solar sel tipe ini memiliki harga pembuatan yang lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal. Perusahaan yang aktif memproduksi tipe solar sel ini adalah GT Solar, BP, Sharp, dan Kyocera Solar.

Kedua jenis silikon wafer di atas dikenal sabagai generasi pertama dari solar sel yang memiliki ketebalan pada kisaran 180 hingga 240 mikro meter. Penelitian yang lebih dulu dan telah lama dilakukan oleh para peneliti menjadikan solar sel berbasis silikon ini telah menjadi teknologi yang berkembang dan banyak dikuasai oleh peneliti maupun dunia industri. Divais solar sel ini dalam perkembangannya telah mampu mencapai usia aktif mencapai 25 tahun [1]. Modifikasi untuk membuat lebih rendah biaya pembuatan juga dilakukan dengan membuat pita silikon (ribbon si) yaitu dengan membuat lapisan dari cairan silikon dan membentuknya dalam struktur multi kristal. Meskipun tipe sel surya pita silikon ini memiliki efisiensi yang lebih rendah (13-15%), tetapi biaya produksinya bisa lebih dihemat mengingat silikon yang terbuang dengan menggunakan cairan silikon akan lebih sedikit.

Generasi kedua solar sel adalah solar sel tipe lapisan tipis (thin film). Ide pembuatan jenis solar sel lapisan tipis adalah untuk mengurangi biaya pembuatan solar sel mengingat tipe ini hanya menggunakan kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan baku untuk tipe silikon wafer. Dengan penghematan yang tinggi pada bahun baku seperti itu membuat harga per KwH energi yang dibangkitkan menjadi bisa lebih murah.

Metode yang paling sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan tipis ini adalah dengan PECVD dari gas silane dan hidrogen. Lapisan yang dibuat dengan metode ini menghasilkan silikon yang tidak memiliki arah orientasi kristal atau yang dikenal sebagai amorphous silikon (non kristal). Selain menggunakan material dari silikon, solar sel lapisan tipis juga dibuat dari bahan semikonduktor lainnya yang memiliki efisiensi solar sel tinggi seperti Cadmium Telluride (Cd Te) dan Copper Indium Gallium Selenide (CIGS).

Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa dihasilkan oleh jenis solar sel lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang berasal dari solar sel CIGS [5]. Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah semikonduktor sebagai lapisan solar sel bisa dideposisi pada substrat yang lentur sehingga menghasilkan divais solar sel yang fleksibel. Kedua generasi dari solar sel ini masih mendominasi pasaran solar sel di seluruh dunia dengan silikon kristal tunggal dan multi kristal memiliki lebih dari 84% solar sel yang ada dipasaran

Penelitian agar harga solar sel menjadi lebih murah selanjutnya memunculkan generasi ketiga dari jenis solar sel ini yaitu tipe solar sel polimer atau disebut juga dengan solar sel organik dan tipe solar sel foto elektrokimia. Solar sel organik dibuat dari bahan semikonduktor organik seperti polyphenylene vinylene dan fullerene.

Berbeda dengan tipe solar sel generasi pertama dan kedua yang menjadikan pembangkitan pasangan electron dan hole dengan datangnya photon dari sinar matahari sebagai proses utamanya, pada solar sel generasi ketiga ini photon yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan tersebut melainkan membangkitkan exciton. Exciton inilah yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan efek arus foto (photocurrent) .

Tipe solar sel photokimia merupakan jenis solar sel exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan Graetzel sel atau dye-sensitized solar cells (DSSC) .

Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redok yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat Graetzel sel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing. Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat hargan dan proses pembuatannya yang sangat murah.

Pertumbuhan teknologi sel surya di dunia memang menunjukkan harapan akan solar sel yang murah dengan memiliki efisiensi yang tinggi. Sayangnya sangat sedikit peneliti di Indonesia yang terlibat dengan hiruk pikuk perkembangan tentang teknologi sel surya ini. Sudah seharusnya pemerintah secara jeli melihat potensi masa depan Indonesia yang kaya akan sinar matahari ini dengan mendorong secara nyata penelitian di bidang energi surya ini.

sumber : Tulisan ini diambil di Berita Iptek 20 Januari 2006

07 Mei 2010

Mengenal Gas Alam


Gas alam sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa, adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana CH4). Ia dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi dan juga tambang batu bara. Ketika gas yang kaya dengan metana diproduksi melalui pembusukan oleh bakteri anaerobik dari bahan-bahan organik selain dari fosil, maka ia disebut biogas. Sumber biogas dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir sampah, serta penampungan kotoran manusia dan hewan.

Komposisi kimia
Komponen utama dalam gas alam adalah metana (CH4), yang merupakan molekul hidrokarbon rantai terpendek dan teringan. Gas alam juga mengandung molekul-molekul hidrokarbon yang lebih berat seperti etana (C2H6), propana (C3H8) dan butana (C4H10), selain juga gas-gas yang mengandung sulfur (belerang). Gas alam juga merupakan sumber utama untuk sumber gas helium.

Metana adalah gas rumah kaca yang dapat menciptakan pemanasan global ketika terlepas ke atmosfer, dan umumnya dianggap sebagai polutan ketimbang sumber energi yang berguna. Meskipun begitu, metana di atmosfer bereaksi dengan ozon, memproduksi karbon dioksida dan air, sehingga efek rumah kaca dari metana yang terlepas ke udara relatif hanya berlangsung sesaat. Sumber metana yang berasal dari makhluk hidup kebanyakan berasal dari rayap, ternak (mamalia) dan pertanian (diperkirakan kadar emisinya sekitar 15, 75 dan 100 juta ton per tahun secara berturut-turut).

Nitrogen, helium, karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), dan air dapat juga terkandung di dalam gas alam. Merkuri dapat juga terkandung dalam jumlah kecil. Komposisi gas alam bervariasi sesuai dengan sumber ladang gasnya.

Campuran organosulfur dan hidrogen sulfida adalah kontaminan (pengotor) utama dari gas yang harus dipisahkan . Gas dengan jumlah pengotor sulfur yang signifikan dinamakan sour gas dan sering disebut juga sebagai "acid gas (gas asam)". Gas alam yang telah diproses dan akan dijual bersifat tidak berasa dan tidak berbau. Akan tetapi, sebelum gas tersebut didistribusikan ke pengguna akhir, biasanya gas tersebut diberi bau dengan menambahkan thiol, agar dapat terdeteksi bila terjadi kebocoran gas. Gas alam yang telah diproses itu sendiri sebenarnya tidak berbahaya, akan tetapi gas alam tanpa proses dapat menyebabkan tercekiknya pernafasan karena ia dapat mengurangi kandungan oksigen di udara pada level yang dapat membahayakan.

Gas alam dapat berbahaya karena sifatnya yang sangat mudah terbakar dan menimbulkan ledakan. Gas alam lebih ringan dari udara, sehingga cenderung mudah tersebar di atmosfer. Akan tetapi bila ia berada dalam ruang tertutup, seperti dalam rumah, konsentrasi gas dapat mencapai titik campuran yang mudah meledak, yang jika tersulut api, dapat menyebabkan ledakan yang dapat menghancurkan bangunan. Kandungan metana yang berbahaya di udara adalah antara 5% hingga 15%.

Ledakan untuk gas alam terkompresi di kendaraan, umumnya tidak mengkhawatirkan karena sifatnya yang lebih ringan, dan konsentrasi yang diluar rentang 5 - 15% yang dapat menimbulkan ledakan. Pembakaran satu meter kubik gas alam komersial menghasilkan 38 MJ (10.6 kWh).

Gas alam cair (Liquefied natural gas, LNG) adalah gas alam yang telah diproses untuk menghilangkan ketidakmurnian dan hidrokarbon berat dan kemudian dikondensasi menjadi cairan pada tekan atmosfer dengan mendinginkannya sekitar -160° Celcius. LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan ditaruh dalam tangki yang juga dirancang khusus. LNG memiliki isi sekitar 1/640 dari gas alam pada Suhu dan Tekanan Standar, membuatnya lebih hemat untuk ditransportasi jarak jauh di mana jalur pipa tidak ada. Ketika memindahkan gas alam dengan jalur pipa tidak memungkinkan atau tidak ekonomis, dia dapat ditransportasi oleh kendaraan LNG, di mana kebanyakan jenis tangki adalah membran atau "moss".

13 November 2009

Indonesia Sebagai Lumbung Bioenergi Dunia


Sinly Evan Putra dan Ibrahim
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

Perkembangan penelitian di bidang bioenergi, bukanlah barang baru di dunia ini. Penjajakan peluang aplikasi bioenergi untuk di industrialisasi telah lama didengungkan, dan sekarang telah memasuki tahapan produksi secara massal dan siap di komersialisasikan. Diharapkan dalam beberapa tahun mendatang, bioenergi akan menjadi alternatif dan mampu bersaing dengan minyak dan gas bumi (migas) dalam mempertahankan ketahanan energi di dunia.

Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah, mempunyai potensi untuk menjadi lumbung bioenergi dunia. Potensi yang benar-benar tidak dapat diabaikan adalah tersedianya lahan yang luas untuk membudidayakan tanaman-tanaman yang potensial sebagai sumber bahan baku bioenergi. Disini yang dimaksud bioenergi sudah termasuk pemanfaatan biomassa, biodiesel, bioetanol, dan biogas sebagai sumber energi alternatif.

Biomassa
Biomassa merupakan bahan hayati yang biasanya dianggap sebagai sampah dan sering dimusnahkan dengan cara di bakar. Terkadang kita tidak tahu bahwa banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari sisa-sisa makanan atau barang yang kita anggap sebagai sampah. Biomassa tersebut dapat diolah menjadi bioarang, yang merupakan bahan bakar yang memiliki nilai kalor yang cukup tinggi dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, saat ini sedang digencarkan pemanfaatan sampah sebagai bahan baku dalam teknologi biomassa untuk diolah sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Atau batok kelapa sawit yang dijadikan briket yang saat ini pengembangannya mulai dilirik oleh para peneliti.

Biodiesel
Penelitian di bidang biodiesel sejauh ini terus berkembang dengan memanfaatkan beragam lemak nabati dan hewani untuk mendapatkan bahan bakar hayati (biofuel) dan dapat diperbaharui (renewable). Biodiesel merupakan bahan bakar yang memiliki sifat menyerupai minyak diesel/solar. Bahan bakar ini ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan diesel/solar, yaitu bebas sulfur, bilangan asap (smoke number) yang rendah, memiliki cetane number yang lebih tinggi, pembakaran lebih sempurna, memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable) sehingga tidak menghasilkan racun (non toxic).

Pembuatan biodiesel dari minyak nabati dilakukan dengan mengkonversi trigliserida (komponen utama minyak nabati) menjadi metil ester asam lemak, dengan memanfaatkan katalis pada proses metanolisis/esterifikasi. Di Indonesia, potensi bahan baku biodiesel sangat melimpah. Saat ini Indonesia adalah negara penghasil minyak nabati terbesar di dunia, bahan baku minyak nabati meliputi asam lemak dari kelapa sawit, jarak pagar, kelapa, sirsak, srikaya, kapuk, dan alga.

Bioetanol
Untuk menganti premium, alternatifnya adalah gasohol (gasoline-alkohol) yang merupakan campuran antara bensin dan bioetanol. Bioetanol bersumber dari karbohidrat yang potensial sebagai bahan baku seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, dan tebu. Dari beberapa bahan baku tersebut, diketahui bahwa tanaman jagung merupakan pakan unggulan untuk bahan utama bioetanol karena selain dari segi ekonomis tergolong murah, jumlah hasil bioetanol yang dihasilkan jagung ternyata lebih besar diantara tanaman lain.

Setelah bahan baku diatas melalui proses fermentasi, dihasilkanlah etanol. Dan dari etanol dapat dibuat etanol 99,5% atau fuel grade ethanol yang bisa digunakan untuk campuran gasohol. Di dalam etanol, terdapat 35% oksigen yang dapat meningkatkan efisiensi pembakaran mesin dan juga meningkatkan angka oktan seperti zat aditif Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) dan Tetra Ethyl Lead (TEL). Selain itu, etanol juga bisa terurai sehingga dapat mengurangi emisi gas buang berbahaya.

Biogas
Peluang pengembangan bioenergi khususnya biogas, juga dimungkinkan untuk berkembang di Indonesia baik untuk aplikasi industri skala kecil dan menengah. Berbagai sampah organik dan limbah-limbah agroindustri merupakan bahan baku yang potensial untuk diolah menjadi biogas melalui pemanfaatan teknologi anaerobik. Pada prinsipnya, teknologi anaerobik adalah proses dekomposisi biomassa secara mikrobiologis dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen).

Secara garis besar bahan baku yang diperlukan adalah biomassa (residu mahluk hidup), mikroorganisme, dan air. Produk utama dari biogas ini adalah gas metana dan pupuk organik. Gas metana telah dikenal luas sebagai bahan baku ramah lingkungan, karena dapat terbakar sempurna sehingga tidak menghasilkan asap yang bepengaruh buruk terhadap kualitas udara. Karena sifatnya tersebut, gas metana merupakan gas yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan mulai dari memasak, hingga penggerak turbin pembangkit listrik tenaga uap.

Penutup
Menilik pada potensi negara Indonesia yang besar terutama untuk ketersediaan bahan baku, sudah sepantasnya negara Indonesia berani memproklamirkan diri sebagai negara lumbung bioenergi dunia. Berbagai tantangan kedepannya dalam pengembangan bioenergi ini, terutama pada aspek modal/investasi, perangkat hukum, pengembangan teknologi, permasalahan hambatan sosial, dan keterbatasan pasar dan penguna, hendaknya menjadi komitmen dan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait untuk mencari solusinya. Diharapkan dalam beberapa dekade ke depan, Indonesia dapat menjadi macan dunia dalam bidang energi. Dalam mencapai harapan tersebut, harus disadari bahwa keberhasilan tidak datang dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil kerja keras dari semua pihak/stakeholders.


27 Oktober 2009

PETROLEOUM : Minyak Di Perut Bumi


Minyak bumi merupakan campuran berbagai macam zat organik, tetapi komponen pokoknya adalah hidrokarbon. Minyak bumi disebut juga minyak mineral karena diperoleh dalam bentuk campuran dengan mineral lain. Minyak bumi tidak dihasilkan dan didapat secara langsung dari hewan atau tumbuhan, melainkan dari fosil. Karena itu, minyak bumi dikatakan sebagai salah satu dari bahan bakar fosil. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak bumi merupakan zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi merupakan zat anorganik yang dihasilkan secara alami di dalam bumi. Namun, pandangan ini diragukan secara ilmiah karena hanya memiliki sedikit bukti yang mendukung.

Minyak bumi adalah campuran komplek hidrokarbon plus senyawaan organik dari Sulfur, Oksigen, Nitrogen dan senyawa – senyawa yang mengandung konstituen logam terutama Nikel, Besi dan Tembaga.
Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkan berkomposisi yang sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, umur lapangan minyak dan juga kedalaman sumur.
Dalam minyak bumi parafinik ringan mengandung hidrokarbon tidak kurang dari 97 % sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.

1. Komponen Hidrokarbon
Perbandingan unsur – unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi. Berdasarkan atas hasil analisa, diperoleh data sebagai berikut :
a. Karbon : 83,0 – 87,0 %
b. Hidrogen : 10,0 – 14,0 %
c. Nitrogen : 0,1 – 2,0 %
d. Oksigen : 0,05 – 1,5 %
e. Sulfur : 0,05 – 6,0 %
Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atas 4 golongan, yaitu



1. Seri Olefin (CnH2n)
Olefin terdiri dari hidrokarbon rantai tak jenuh, yaitu hidrokarbon yang memiliki ikatan rangkap. Olefin tidak secara alami ada pada minyak bumi, namun terbentuk selama pengolahan Contoh olefin adalah etena (etilen), propena, dan butena. Olefin umumnya tidak diinginkan berada dalam produk karena ikatan rangkapnya yang sangat reaktif serta mudah teroksidasi dan terpolimerasi.

2. Seri Parafin (CnH2n+2)
Karakterstik parafin terletak pada kestabilannya yang besar karena dibangun oleh struktur dengan rumus molekul CnH2n+2 yang memiliki ikatan yang jenuh (ikatan tunggal). Contoh parafin adalah metana, etana, heksana, dan heksadekan. Pada temperatur kamar parafin tidak bereaksi dengan asam kromat yang sangat oksidatif, kecuali yang mengandung atom karbon tersier. Namun parafin bereaksi dengan gas klor secara perlahan-lahan pada sinar matahari dan bereaksi dengan klor dan brom jika terdapat katalis. Parafin ringan terkandung dalam semua minyak bumi dan arafin terberat dalam minyak bumi adalah parafin dengan 70 atom C.

3. Seri Naften/Sikloparafin (CnH2n)
Naften dijumpai pada hampir semua minyak mentah. Naften memiliki formula yang sama dengan olefin, namun sifatnya jauh berbeda. Naften adalah senyawa hidrokarbon siklis yang jenuh. Sebelumnya naften dikenal dengan sebutan methylene, contohnya adalah tetramethylene, pentamethylene, dan heksamethylene, sekarang senyawa tersebut disebut siklobutan, siklopentan, dan sikloheksan. Naften tidak memiliki ikatan rangkap sehingga tidak dapat bereaksi secara langsung. Naften juga tidak larut dalam asam sulfat.

4. Seri Aromatik (CnH2n-6)
Seri aromatik disebut juga seri benzen. Seri hidrokarbon ini memiliki sifat aktif yang sangat berbeda dengan parafin dan naften. Aromatik hidrokarbon ini memiliki cincin benzen yang sangat stabil, dapat dioksidasi dan membentuk asam organik. Seri aromatik dapat merupakan produk adisi atau substitusi, bergantung pada kondisi reaksi.
Sebagian minyak mentah di Sumatra dan Kalimantan kaya akan aromatik. Seri ini banyak ditemukan di dalam reformate gasoline secara katalitik.

Crude oil mengandung sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutama senyawaan Sulfur, senyawaan Nitrogen, senyawaan Oksigen, senyawaan Organo Metalik (dalam jumlah kecil/trace sebagai larutan) dan garam – garam anorganik (sebagai suspensi koloidal).

2. Senyawaan Sulfur
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air.

3. Senyawaan Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
4. Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1 – 0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.



Konstituen Metalik
Logam – logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power generator temperatur tinggi, misalnya oil – fired gas turbine, adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu.
Agar dapat diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi dari sumur diangkut ke Kilang menggunakan kapal, pipa, mobil tanki atau kereta api. Didalam Kilang, minyak bumi diolah menjadi produk yang kita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik didihnya (distilasi), dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu (aspal) berada pada dasar kolom fraksinasi.
Setiap trayek titik didih disebut “Fraksi”, misal :
· 0 – 50°C : Gas
· 50 – 85°C : Gasoline
· 85 – 105°C : Kerosin
· 105 – 135°C : Solar
· > 135°C : Residu (Umpan proses lebih lanjut)

Proses Pembentukan Minyak Bumi
Membahas identifikasi minyak bumi tidak dapat lepas dari bahasan teori pembentukan minyak bumi dan kondisi pembentukannya yang membuat suatu minyak bumi menjadi spesifik dan tidak sama antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lainnya. Karena saya adalah seorang chemist, maka pendekatan yang saya lakukan lebih banyak kepada aspek kimianya daripada dari aspek geologi. Pemahaman tentang proses pembentukan minyak bumi akan diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menginterpretasikan hasil identifikasi. Ada banyak hipotesa tentang terbentuknya minyak bumi yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah :



1. Teori Biogenesis (Organik)
Macqiur (Perancis, 1758) merupakan orang yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa minyak bumi berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian M.W. Lamanosow (Rusia, 1763) juga mengemukakan hal yang sama. Pendapat di atas juga didukung oleh sarjana lainnya seperti, New Beery (1859), Engler (1909), Bruk (1936), Bearl (1938) dan Hofer. Mereka menyatakan bahwa: “minyak dan gas bumi berasal dari organisme laut yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu dan membentuk sebuah lapisan dalam perut bumi.”

2. Teori Abiogenesis (Anorganik)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain 2).
Dari sekian banyak hipotesa tersebut yang sering dikemukakan adalah Teori Biogenesis, karena lebih bisa. Teori pembentukan minyak bumi terus berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi dan teknik analisis minyak bumi, sampai kemudian pada tahun 1984 G. D. Hobson dalam tulisannya yang berjudul The Occurrence and Origin of Oil and Gas menyatakan bahwa : “The type of oil is dependent on the position in the depositional basin, and that the oils become lighter in going basinward in any horizon. It certainly seems likely that the depositional environment would determine the type of oil formed and could exert an influence on the character of the oil for a long time, even thought there is evolution” 2).
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme).
Dalam proses ini, terjadi kebocoran kecil yang memungkinkan satu bagian kecil karbon yang tidak dibebaskan kembali ke atmosfir dalam bentuk CO2, tetapi mengalami transformasi yang akhir-nya menjadi fosil yang dapat terbakar. Bahan bakar fosil ini jumlahnya hanya kecil sekali. Bahan organik yang mengalami oksidasi selama pemendaman. Akibatnya, bagian utama dari karbon organik dalam bentuk karbonat menjadi sangat kecil jumlahnya dalam batuan sedimen.
Pada mulanya senyawa tersebut (seperti karbohidrat, protein dan lemak) diproduksi oleh makhluk hidup sesuai dengan kebutuhannya, seperti untuk mempertahankan diri, untuk berkembang biak atau sebagai komponen fisik dan makhluk hidup itu. Komponen yang dimaksud dapat berupa konstituen sel, membran, pigmen, lemak, gula atau protein dari tumbuh-tumbuhan, cendawan, jamur, protozoa, bakteri, invertebrata ataupun binatang berdarah dingin dan panas, sehingga dapat ditemukan di udara, pada permukaan, dalam air atau dalam tanah.
Apabila makhluk hidup tersebut mati, maka 99,9 % senyawa karbon dan makhluk hidup akan kembali mengalami siklus sebagal rantai makanan, sedangkan sisanya 0,1 % senyawa karbon terjebak dalam tanah dan dalam sedimen. Inilah yang merupakan cikal bakal senyawa-senyawa fosil atau dikenal juga sebagai embrio minyak bumi. Embrio ini mengalami perpindahan dan akan menumpuk di salah satu tempat yang kemungkinan menjadi reservoar dan ada yang hanyut bersama aliran air sehingga menumpuk di bawah dasar laut, dan ada juga karena perbedaan tekanan di bawah laut muncul ke permukaan lalu menumpuk di permukaan dan ada pula yang terendapkan di permukaan laut dalam yang arusnya kecil.
Embrio kecil ini menumpuk dalam kondisi lingkungan lembab, gelap dan berbau tidak sedap di antara mineral-mineral dan sedimen, lalu membentuk molekul besar yang dikenal dengan geopolimer. Senyawa-senyawa organik yang terpendam ini akan tetap dengan karakter masing-masing yang spesifik sesuai dengan bahan dan lingkungan pembentukannya. Selanjutnya senyawa organik ini akan mengalami proses geologi dalam perut bumi. Pertama akan mengalami proses diagenesis, dimana senyawa organik dan makhluk hidup sudah merupakan senyawa mati dan terkubur sampai 600 meter saja di bawah permukaan dan lingkungan bersuhu di bawah 50°C.
Pada kondisi ini senyawa-senyawa organik yang berasal dan makhluk hidup mulai kehilangan gugus beroksigen akibat reaksi dekarboksilasi dan dehidratasi. Semakin dalam pemendaman terjadi, semakin panas lingkungannya, penam-bahan kedalaman 30 - 40 m akan menaik-kan temperatur 1°C. Di kedalaman lebih dan 600 m sampai 3000 m, suhu pemendaman akan berkisar antara 50 - 150 °C, proses geologi kedua yang disebut katagenesis akan berlangsung, maka geopolimer yang terpendam mulal terurai akibat panas bumi.
Komponen-komponen minyak bumi pada proses ini mulai terbentuk dan senyawa–senyawa karakteristik yang berasal dan makhluk hidup tertentu kembali dibebaskan dari molekul. Bila kedalaman terus berlanjut ke arah pusat bumi, temperatur semakin naik, dan jika kedalaman melebihi 3000 m dan suhu di atas 150°C, maka bahan-bahan organik dapat terurai menjadi gas bermolekul kecil, dan proses ini disebut metagenesis.
Setelah proses geologi ini dilewati, minyak bumi sudah terbentuk bersama-sama dengan bio-marka. Fosil molekul yang sudah terbentuk ini akan mengalami perpindahan (migrasi) karena kondisi lingkungan atau kerak bumi yang selalu bergerak rata-rata se-jauh 5 cm per tahun, sehingga akan ter-perangkap pada suatu batuan berpori, atau selanjutnya akan bermigrasi membentuk suatu sumur minyak. Apabila dicuplik batuan yang memenjara minyak ini (batuan induk) atau minyak yang terperangkap dalam rongga bu-mi, akan ditemukan fosil senyawa-senyawa organik. Fosil-fosil senyawa inilah yang diten-tukan strukturnya menggunaan be-berapa metoda analisis, sehingga dapat menerangkan asal-usul fosil, bahan pembentuk, migrasi minyak bumi serta hubungan antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lain dan hubungan minyak bumi dengan batuan induk.


Written by R1CKY
Monday, 23th March 2009
12:36 AM

28 September 2009

Bioetanol, sumber energi baru dan alternatif tulang punggung ekonomi



Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dibuat dengan bahan baku bahan bergula seperti tebu, nira aren, bahan berpati seperti jagung, dan ubi-ubian, bahan berserat yang berupa limbah pertanian masih dalam taraf pengembangan di negara maju.
Bioetanol bersifat multi-guna karena dicampur dengan bensin pada komposisi berapapun memberikan dampak yang positif. Pencampuran bioetanol absolut sebanyak 10 % dengan bensin (90%), sering disebut Gasohol E-10. Gasohol singkatan dari gasoline (bensin) plus alkohol (bioetanol). Etanol absolut memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara proporsional memiliki ON 92 atau setara Pertamax.
Sumber dari Agroinfo 2005, setiap tahunnya terdapat sekitar 365 ribu ton ethanol yang dihasilkan oleh pabrik gula di seluruh Indonesia. Jumlah ini sudah mendekati 2% dari kebutuhan bensin di Indonesia setiap tahunnya yang berkisar 20 juta kiloliter. Kalau dilihat angka ini, sebenarnya target pemerintah untuk mensubtitusi 2% bioethanol pada tahun 2010 bukanlah pekerjaan yang sulit. Seperti juga bio diesel, seharusnya pemerintah dapat membuat target yang lebih besar lagi agar konsumsi BBM jenis bensin dapat lebih ditekan sehingga impor BBM yang menggerogoti APBN dapat dikurangi


Apa kendala pengembangan industri bioethanol? Saat ini yang menjadi kendala pengembangan bioetanol antara lain ketersediaan lahan, keterbatasan pasar atau penggunanya. Ada pula kemungkinan hambatan sosial dalam pengembangan tanaman sinkong dan tebu yaitu dalam membangun rasa saling percaya antara petani jarak dengan pengusaha sebagai pengolah biji jarak. Meskipun tanaman ubi dan tebu sangat potensial dikembangkan sebagai energi terbarukan dengan harga murah, dapat ditanam di lahan kritis, dan dapat meningkatkan pendapatan petani, tapi belum semua pihak menyadari potensi tersebut.
Kompetisi bahan baku atau peningkatan kesejahteraan petani ? Tanpa dibarengi dengan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, industri bioetanol akan berkompetisi secara langsung dengan pengguna tebu/molases, ubikayu, jagung dan bahan baku lainnya. Pada kondisi kritis ini, industri bioetanol lebih sensitif terhadap peningkatan harga dibandingkan dengan industri pangan, karena biaya produksi 1 liter bioetanol hampir sama dengan harga 1 kg produk industri pangan. Padahal 1 liter etanol memerlukan 2 kg bahan baku setara 2 kg produk industri pangan. Jadi, industri bioetanol pasti akan kalah bersaing dan mencari bahan baku alternatif yang lebih murah
Penggunaan dan komersialiasi bioetanol di Indonesia mungkin tidak dapat dilihat dalam waktu dekat. Hal ini antara lain disebabkan karena belum adanya aturan hukum yang jelas dalam industri ini dan standar penggunaan bahan-bahan untuk biodiesel dan bioetanol sehingga menyulitkan produsen biodiesel dan bioetanol untuk memperoleh pembiayaan dan menjalankan bisnisnya. Selain itu, kurangnya jaringan distribusi dan infrastruktur menyulitkan pemasaran bioetanol di pasar domestik. Sebagai konsekuensi, sebagian besar bioetanol yang diproduksi di Indonesia sekarang digunakan untuk pasar ekspor.