16 Oktober 2010

berbagi berkat dengan "berkat bangsa"

ku tatap jam dinding itu, waktu menunjukan pukul 16.55 WIB, aku lansung bergegas untuk bersiap pergi dari meja bersekat ini. Sudah hampir 3 bulan aku berkerja di posisi ku yang baru, tetapi telah memberiku perasaan jenuh sepanjang hari. Kususun semua perkakas ku kedalam tas hitam ku dan menyusun kertas kertas gambar proyek ke meja agar terlihat rapih. Kuteguk air putih yang tersisa dan menunggu waktu menunjuk pukul 17.00 WIB walau aku tahu jam dinding itu kecepatan bergerak dalam 5 menit, tapi aku tak bisa tinggalkan ruangan berlantai 2 ini selama si boss masih bercumbu dengan notebook nya, karena aku berpikir dia tidak suka aku pulang cepat.
Pak Jasman, sesepuh di perusahaan ku ini mengingatkan ku untuk mampir di green mart untuk mengangkut barang barang sembako yang sudah disumbangkan segelintir karyawan nasrani untuk sebuah panti asuhan. Aku menganggukan kepala ku, aku sangat lelah saat itu karena perkerjaan yang menumpuk dan tak terselesaikan saat hari itu. Di green mart, kuangkut semua karung beras, botol kecap dan kardus mie instan ke dalam mobil avanza merah. Dalam kelelahan dan kejenuhan aku pergi meluncur di jalan jalan panjang itu. Sahabat ku Ega sudah menunggu di tempat kediaman pak jasman, kami sudah berjanjian untuk ikut berkunjung bersama dalam pemberian "berkat" itu. Dalam suasana gelap karena mentari sudah kembali pulang dalam perkerjaannya, mentari sudah berganti shift dengan bulan disertai bintang-bintang aku tetap saja belum sempatkan istirahat apalagi untuk makan malam padahal saat itu perut ku sudah LAL (low alarm level). Tidak ada percakapan yang bermakna dalam perjalanan kami hingga kemacetan jalan memperlambat lajunya avanza merah itu. Sekedar diskusi akan kurang banyaknya rekan rekan kerja yang ikut andil dalam kegiatan sumbangan ini dan diskusi itu tak juga menghasilkan kesimpulan. Dalam kebingungan jalan jalan gelap, akhirnya kami sampai dalam sebuah yayasan yang bernama berkat bangsa, nama yang membuat ku merenung .. apa arti nama itu ?. Gedung Kecil beralamat sumbawa no.14 itu layak pakai sebagai rumah keluarga, bukan rumah panti karena ukurannya yang sangat kecil. Tidak ada mobil beparkir dalam rumah itu dan yang hanya terlihat kumpulan pakaian pakaian yang terjemur beserta mesin cuci yang sangat sederhana. Sapaan "syaloom!!" keluar dari pak jasman dan seketika itu aku melihat puluhan anak dan remaja sedang bersiap menyantap makan malamnya ... dan kami disambut oleh ibu asuh mereka yang belum ku ketahui namanya. Sambil menunggu mereka selesai makan malam, pak jasman dan ega bercakap ringan dengan ibu asuh itu, aku melangkah ke jendela untuk melihat para anak dan remaja itu menyantap makan malam yang sederhana itu, hanya dengan lauk tempe goreng sambal, sayur dan nasi putih secukupnya. Sangat berbeda dengan yang sering aku santap. Mereka duduk dan makan bersama, dan remaja itu juga memnyuapkan makanan kepada para balita yang belum lihai dalam mengatur santapannya. Dalam ruangan yang penuh dengan sepatu dan buku buku sekolah. Setelah mereka selesai makan, berhamburan mereka keluar dan menyalami saya, ega dan pak jasman. Dari remaja hingga balita berebut menyalami selayaknya aku adalah orang yang terhormat ataupun di idolakan. Saat ku buka bagasi mobil avanza, mereka pun berebut mengambil barang barang sembako tersebut. Sebelum ibu asuh itu mengajka kami masuk, kuliahat si gadis kecil menyapu ruangan itu bersama dengan lainnya, tanpa perintah maupun teguran dari pengasuh. Setelah gadis kecil itu selesai mengerjakan pembersihannya, si ibu asuh itu mengajak kami untuk masuk dan duduk bersama dalam ruangan itu. Ega, sahabat ku adalah seorang guru sekolah minggu duduk bersama pak jasman untuk memberikan wejangan bersama adik adik kecil itu. Aku mengambil posisi sudut ruangan agar bisa berdiskusi dengan si ibu asuh itu. Kulihat sekeliling ruangan, terpampang photo photo kebersamaan mereka dalam mengarungi kehidupan yang mereka yang tidak memiliki maupun mengenal orang tua mereka. Seiring ega dan pak jasman bercerita kepada adik adik kecil itu, aku mengamati satu persatu mereka yang ditinggal sepi oleh dunia sekuler, mereka yang ditinggal pergi oleh orang tua mereka, mereka yang tak kenali siapa orang tua mereka. Aku bercakap cakap dengan ibu asuh siapa saja gerangan mereka ? dan kenapa sang takdir menitipkan mereka di panti asuhan ini dan kenapa mereka terabaikan oleh mereka penguasa penguasa pemberi janji sejahtera. ibu itu menjawab satu persatu semua tanda tanya ku... sebutlah seorang adik kecil yang berusia 3 tahun bernama cinta eklesia, yang harus ditinggal pergi ibunya yang menjadi TKW di malaysia untuk menembus ayahnya yang dipenjara. Sebut juga jonatan, bocah berdarah palembang dan manado itu, ayahnya pergi dipanggil Tuhan di masa kecilnya dan ibunya menikah lagi dan meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas. Kulihat lagi seorang gadis remaja yang manis itu yang serius mendengarkan wejangan ega dan pak jasman, dia tak mengenal siapa orang kandungnya dan awalnya dia diadopsi oleh keluarga yang tidak memiliki keturunan, seketika telah lahir seorang anak dari dari darah daging keluarga itu, gadis kecil itu diperlakukan buruk dan dan tdak di sekolahkan lagi, hingga akhirnya gadis kecil itu dilarikan tetangganya dan ditampung oleh dinas sosial itu, dan dinas sosial itu menitipkan ke panti ini.
Dan ibu asuh it juga menceritakan kesulitan adik adik kecil dalam mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Mahalnya buku buku paket ynag dijualkan pihak sekolah dan buku itu hanya harus dibeli melalui sekolah, apakah buku paket itu memiliki ilmu pasti dibanding buku buku yang bisa disumbangkan oleh para pemerhati.... memang aneh pendidikan di negeri ini, pantas saja ada slogan "orang miskin dilarang sekolah". Tanpa bantuan biaya kesehatan dari negara, panti ini kesulitan ketika harus melakukan biaya pengobatan karena biaya yang mahal dan tiada dana cash yang dimiliki. Tidak ada opini dan solusi yang bisa ku utarakan untuk menanggapi pernyataan itu. Kunjungan itu pun di sudahi dengan doa yang dibawakan oleh salah satu adik kecil itu. Dia masih bocah ingusan, tapi rangkaian kata dan kata dalam doanya adalah dari hatinya, dia tidak menolak ketika dia dianjurkan untuk berdoa penutup, padahla rekan rekan kerja ku dan kawan kawan ku agak sukar untuk disuruh membawakan doa. Sebelum kami memasuki mobil, sekali lagi mereka berebut salam sambil mengucapkan "Tuhan berkati Oom !!", tertegun aku mendengar perkataan itu. Dalam perjalanan pulang ucapan itu terus terngiang dalam telinga ku ....."Tuhan berkati Oom !!"
Sepanjang hidup ku, para sahabat dan keluarga ku selalu menggunakan kata yang trend "GBU" yang lebih singkat dan ngetren pakai bahasa inggris. Tetapi ucapan mereka "Tuhan berkati Oom !!" sambil menyalam dan meletakan ke dahinya, aku merasa perkataan itu keluar dari hati mereka
tiada kata yang bisa diucapkan, tiada rasa yang bisa kunyatakan, tapi ada doa yang bisa kupanjatkan... bertahanlah adik adik ku .... dalam syukur aku rebahkan badan ku ... dan bertanya kembali " apa arti nama berkat bangsa itu ?" .. ketika mata hendak tertutup menyambut tidur ku ... sekali lagi kudengar dalam telinga ku ...
Tuhan berkati Oom !

06 Oktober 2010

Urgensi Audit Energi di Indonesia


Pernyataan Direktur Utama PT PLN (persero), Dahlan Iskan, seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis, 26 Agustus 2010, tentang rencana BUMN penyedia listrik itu untuk mengimpor batu bara sebanyak 9 juta ton pada 2011 agar listrik tetap menyala menguatkan pendapat pakar energi dari UGM, Prof Dr Tumiran, beberapa waktu lalu tentang urgensi bagi pemerintah untuk mengaudit penggunaan energi terhadap PLN guna menekan biaya produksi dan penaikan tarif dasar listrik.

Beliau menduga karena selama ini tidak ada informasi mengenai penggunaan energi oleh PLN, bisa jadi penggunaan energi oleh PLN belum efisien. Artinya, jumlah energi yang masuk dengan keluaran yang dapat dihasilkan PLN belum sebanding. Kalau audit energi itu dilakukan, barangkali PLN dapat menekan biaya produksi sehingga subsidi pemerintah yang selama ini menguras anggaran sampai Rp56 triliun per tahun dapat dikurangi.

Anggaran subsidi dapat dihemat jika PLN melakukan efisiensi, terutama dalam hal penggunaan energi. Pada akhirnya, penaikan tarif listrik bisa ditekan sehingga tak harus membebani masyarakat terlalu tinggi.
Tumiran juga menyarankan PLN untuk mengonversi energi dengan menggalakkan penggunaan batu bara dan gas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meyakini potensi cadangan gas Indonesia masih bisa bertahan 59 tahun lagi mencapai 170 Tscf (tera standard cubic feet), sedangkan batu bara mempunyai cadangan sebesar 5 x 109 tce (ton coal equivalent).

Di antara dua sumber energi itu, batu bara memang merupakan yang terekonomis karena biaya investasinya per 1 kwh sekitar Rp500 atau Rp600. Gas membutuhkan investasi sekitar Rp900 per kwh. Adapun jika ditinjau dari rasio cadangan (reserve to production ratio-R/P), batu bara mempunyai R/P tertinggi, yaitu sekitar 50 tahun, disusul gas dan minyak bumi yang masing-masing mempunyai R/P sekitar 30 tahun dan 10 tahun.

Sayangnya, seperti diungkap dalam awal tulisan ini, PLN bakal kesulitan mendapatkan pasokan batu bara sesuai dengan kebutuhan pembangkit yang mencapai sekitar 40 juta ton per tahun. Pada masa mendatang, pasokan itu diprediksikan kian sulit karena spesifikasi batu bara yang dibutuhkan adalah batu bara yang berkalori tinggi. Batu bara jenis itu, selain pasokannya terbatas, pun terbilang mahal sehingga menggantungkan pembangkit pada batu bara impor hanya akan membuat keuangan PLN kian tertekan. Maka, mau tidak mau, PLN harus memprioritaskan pembangunan pembangkit yang menggunakan gas maupun sumber energi lainnya seperti mikrohidro, geotermal, maupun energi terbarukan lainnya.

Pilihan yang rasional adalah pembangkit berbahan bakar gas. Energi terbarukan seperti energi surya, meskipun ramah lingkungan, membutuhkan biaya untuk investasi cukup besar. Energi air dan energi panas bumi (geotermal), meskipun mempunyai potensi cukup besar, memerlukan pertimbangan matang untuk pengembangannya karena sumber energi ini berada jauh dari pengguna.

Pemerintah perlu didorong untuk memprioritaskan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas karena dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit listik 10.000 Mw tahap I maupun II komposisi pembangkit berbahan bakar gas sangat minim. Untuk sekitar 94 lokasi proyek 10.000 Mw tahap II, dari komposisi energi primer, hingga 2014 penggunaan gas hanya 16%. Komposisi terbesar malah panas bumi dengan 39%, disusul batu bara 33% dan air 12%.

Kaji ulang
Komposisi penggunaan energi primer tersebut patut dikaji ulang dengan memberikan porsi lebih besar bagi penggunaan gas mengingat batu bara dan panas bumi dalam jangka pendek tidak bisa dijadikan andalan. Khusus untuk panas bumi, meskipun diyakini sebagai energi yang ramah lingkungan, penggunaannya masih sangat terkendala karena cadangannya berada di daerah yang jauh dari konsumen dan daya beli sebagian konsumen panas bumi masih di bawah keekonomian pengembangan lapangan geotermal.

Pilihan penggunaan gas kian rasional karena selain masih tersedianya cadangan sebesar 170 Tscf, pasokan gas akan diperkuat dengan cadangan gas metana batu bara (CBM) yang berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencapai 453,3 triliun standar kaki kubik. Pemerintah telah menargetkan cadangan CBM di Indonesia akan menjadi energi yang bisa dipakai secara luas mulai 2011.

Apabila gas menjadi pilihan utama untuk pembangkit, pemerintah harus membereskan pekerjaan rumah utamanya, yakni memenuhi komitmen penyediaan gas bagi PLN. Sejauh ini, PLN kerap kesulitan mendapatkan pasokan gas. Pada tahun ini saja realisasi penggunaan gas hanya 20% di bawah rencana tahunan perusahaan (RKAP). PLN kekurangan gas sekitar 1 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).
Sejak 2000 sebenarnya PLN sudah menunggu gas untuk PLTGU Muara Tawar, PLTGU Tambaklorok, dan PLTGU Grati, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan pasokan gasnya sehingga terpaksa sampai saat ini dioperasikan dengan BBM. Bila gasnya tersedia, tentu PLN akan memakainya secara maksimal, termasuk untuk pembangkit minyak (BBM) yang bisa dimodifikasi menjadi pakai gas. Akibat kekurangan pasokan gas, PLN menanggung kerugian sekitar Rp3 triliun per tahun karena beberapa pembangkitnya 'salah makan'.

Jika saja komitmen gas ini terpenuhi, setidaknya dalam lima tahun ke depan akan ada efisiensi di tubuh PLN sekitar Rp15 trilun. Pemerintah juga bisa menekan kerugian akibat penjualan gas keluar negeri yang selama ini jorjoran dilakukan sekitar Rp33 triliun.

Guna mendorong penggunaan gas yang terjangkau bagi PLN, pemerintah patut merespons dua usulan PT Pertamina (persero) beberapa waktu lalu, yakni, pertama, pengurangan pendapatan pemerintah dari pemanfaatan gas. Usulan itu kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah dengan menerbitkan kebijakan insentif gas domestik (IGD). Kedua, konsep relokasi subsidi dari BBM ke gas. Usulan-usulan tersebut belum direspons pemerintah.
Sayangnya, pemerintah sendiri masih terus menghitung harga yang pas untuk dalam negeri. Rencana pengalihan subsidi itu pun tampaknya tidak digubris karena pemerintah dalam penetapan harga jual gas tetap berpegang pada mekanisme pasar. Pemerintah tidak akan memberikan subsidi pada pelaku usaha, termasuk PLN, dalam mendapatkan harga gas.

Pekerjaan rumah lainnya adalah penyediaan infrastruktur. Problem pemipaan masih menjadi penghambat kegiatan penyaluran gas yang ada di Indonesia. Perlu disadari bahwa penyaluran gas hasil eksplorasi tidak bisa disalurkan melalui mobil tanki ataupun peralatan lainnya. Proses penyaluran gas selalu dengan menggunakan pipa. Padahal, sisem pemipaan di Indonesia sejauh ini sangat buruk dan tidak lengkap.

Oleh Eriko Sutarduga, Anggota Komisi VI DPR

04 Oktober 2010

Tuhan berikan yang kubutuhkan



aku meminta kekuatan dan Tuhan memberiku kesukaran untuk membuatku kuat
aku meminta kebijaksanaan dan Tuhan memberiku masalah untuk diselesaikan
aku meminta keberanian dan Tuhan memberiku rintangan untuk diatasi
aku meminta kemakmuran dan Tuhan memberiku otak dan otot untuk berkerja
aku meminta kasih dan Tuhan memberiku orang-orang untuk dilayani

aku tidak menerima itu semua yang aku minta, tetapi aku menerima segala yang aku butuhkan, hiduplah tanpa rasa takut, hadapilah segala rintangan. Ketahuilah, bersama Tuhan Yesus kita mampu mengatasi semua itu ...

bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu ? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, kemana pun engkau pergi
(Yosua 1:9)


03 Oktober 2010

Tuhan Menjawab Doaku


aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku.Tuhan menjawab, TIDAK itu bukan KUsingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

aku meminta kepada Tuhan untuk menyembuhkan kecacatanku. Tuhan menjawab, TIDAK. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku kesabaran. Tuhan menjawab, TIDAK. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

aku meminta Tuhan untuk memberiku kebahagiaan, Tuhan menjawab TIDAK. AKU memberikan berkat, kebahagian tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan, Tuhan menjawab TIDAK. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian Duniawi dan membawamu mendekat padaKU.

aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rohku, Tuhan menjawab TIDAK, kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi AKU akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup. Tuhan menjawab TIDAK, AKU akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan untuk membantuku mengasihi orang lain seperti aku mengasihi diriku sendiri. Tuhan menjawab ....

Anakku, akhirnya kau mengerti....
Hari ini milikmu, jangan di sia-siakan