01 November 2011

Rajawali Membubung Tinggi

Apa rahasia orang belajar berenang? Bagaimana mungkin dengan berat badan yang tidak ringan, seseorang bisa mengapung di air, bahkan bergerak maju dengan pelbagai gaya? Satu prinsip awal berenang ialah belajar "percaya" pada air. Jika kita "menyerah" pada air, tubuh kita akan menga-pung. Sebaliknya, jika kita "melawan" air, mengencangkan otot-otot sampai kaku, kita malah tenggelam. Itu kuncinya. Memercayakan diri kepada air. Sang rajawali yang membubung tinggi. Rajawali memang suka terbang tinggi, seperti dilukiskan di Perjanjian Lama. Ia terbang dan membuat sarang di ketinggian. Ia bisa melewati gunung ; mengambil puncak pohon aras yang tinggi sekali . Padahal di ketinggian, angin berembus kuat. Bagaimana rajawali dapat terbang dengan begitu ringan dan tenang? Rupanya ia punya cara jitu. Daripada melawan angin, ia memanfaatkannya untuk bergerak bersama tiupan angin. Ia "memercayakan" diri pada dorongan angin untuk maju. Jadi, sebenarnya ia bukan terbang, melainkan melayang di ketinggian. Melayang bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dorongan angin. Tatkala angin kesulitan hidup menghantam, apakah tanggapan kita? Mengeluh, mengaduh, geram, marah, berteriak, menuduh orang lain, menyalahkan Tuhan-itu yang lazim. Kita melawannya dengan kekuatan sendiri. Padahal percuma. Kita akan kelelahan. Terengah-engah dan frustrasi. Kesulitan yang kian besar justru harus menjadi "kendaraan" kita untuk kian berserah, memercayakan diri pada bimbingan Tuhan. Izinkan rencana-Nya membawa kita "melayang" di tengah embusan angin persoalan

08 Oktober 2011

STAY HUNGRY, STAY FOOLISH



Ini adalah teks pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar pada saat wisuda di Stanford University, tanggal 12 Juni 2005.
-----
Saya merasa tersanjung bisa berada disini di acara wisuda anda dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Sejujurnya, saat ini saat paling terdekat saya pada wisuda. Hari ini saya ingin menceritakan tiga kisah dalam kehidupan saya.Hanya itu saja. Bukan hal besar. Hanya tiga kisah.

Kisah pertama tentang menghubungkan titik-titik
Saya keluar dari Reed College setelah enam bulan, dan kembali lagi selama 18 bulan atau lebih sampai saya benar-benar berhenti kuliah. Jadi mengapa saya memutuskan berhenti kuliah?
Berawal sejak sebelum saya dilahirkan ke dunia. Ibu kandungku saat itu masih muda, tidak menikah, lulusan akademi, dan dia memutuskan agar aku diadopsi oleh orang lain. Menurutnya, aku harus didopsi oleh seorang sarjana sehingga segalanya sudah dipersiapkan agar aku diadopsi oleh seorang pengacara dan istrinya. Namun mereka berubah pikiran ingin memiliki anak perempuan setelah aku lahir. Jadi orang tuaku sekarang, pada waktu itu masih dalam daftar tunggu adopsi anak, mendapat telepon tengah malam dari ibu kandungku, dia menanyakan “kami memiliki bayi laki-laki yang tidak diharapkan, apakah anda menginginkannya?” kata mereka: “tentu saja”. Di kemudian hari, ibu kandungku baru tahu kalau ibu angkatku tidak pernah lulus kuliah dan ayahku juga tidak lulus SMA sehingga dia menolak untuk menandatangani surat adopsi dan akhirnya baru mau memberikanku beberapa bulan kemudian setelah orangtuaku berjanji akan menguliahkanku.

Dan 17 tahun kemudian, aku masuk kuliah dan memilih akademi yang hampir semahal Stanford, sehingga orangtuaku menggunakan seluruh tabungannya untuk membayar uang kuliahku. Setelah enam bulan, aku melihat tak ada gunanya kuliah. Aku tidak tahu apa yang kuinginkan dalam hidupku dan berpikir bagaimana kuliah bisa membantuku menemukan jawabannya. Jadi aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja. Saat itu kurasakan sedikit menakutkan tapi jika kuingat kembali, kurasa berhenti kuliah adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat. Begitu aku berhenti, aku tidak mengambil mata kuliah yang tidak kusukai dan memilih mata kuliah yang menurutku menarik.
Segalanya tidak begitu indah pada waktu itu. Aku tidak memiliki kamar di asrama sehingga aku tidur dilantai kamar temanku. Untuk membeli makanan, aku selalu mengembalikan botol minuman demi mendapatkan lima sen dan berjalan sejauh tujuh mil melintasi kota setiap malam Senin untuk mendapatkan makanan yang enak di Kuil Hare Khrisna. Dan aku menyukai itu. Aku melewati banyak hal dengan mengikuti rasa ingin tahu dan intuisiku yang ternyata menjadi sangat berharga dikemudian hari. Akan kuceritakan kisahnya:

Pada waktu itu Reed College menawarkan, mungkin, cara membuat kaligrafi terbaik di negara ini. Melalui setiap poster di kampus, setiap label di gambar, sungguh sangat indah kaligrafi buatan tangannya. Karena aku sudah berhenti kuliah dan tidak diharuskan mengambil kelas reguler, aku memutuskan untuk mengikuti kelas kaligrafi dan belajar bagaimana menbuatnya. Aku belajar contoh tulisan serif dan sanserif, belajar memvariasikan jumlah spasi antara kombinasi huruf yang berbeda, belajar bagaimana membuat tipografi yang bagus. Tipografi yang indah, bersejarah, bernilai seni tinggi, bahkan ilmu pengetahuan tidak dapat memahaminya, dan menurutku sungguh menakjubkan.

Bahkan aku tidak berharap melakukan ini akan menjadi pekerjaanku.Tetapi, 10 tahun kemudian, ketika kami merancang desain pertama computer Macintosh, harapan itu ada. Dan kami merancang computer Mac pertama dengan tipografi yang sangat indah. Jika saja aku tidak berhenti kuliah, aku tidak mungkin mengikuti kelas kaligrafi di kampus, dan personal computer mungkin tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja itu merupakan hal yang mustahil menggabungkan titik-titik jika kita pikir pada waktu itu. Tetapi hal itu menjadi sangat, sangat jelas jika kita pikir sekarang.
Terlebih, anda tidak bisa menghubungkan titik-titik degan memandang ke depan; anda hanya bisa menghubungkannya jika mengingatnya kembali. Jadi anda harus percaya kalau titik-titik itu akan terhubung dimasa depan entah bagaimana caranya. Anda harus percaya pada sesuatu – keberanian anda, takdir, kehidupan, karma, atau apapun. Pendekatan ini tak pernah mengecewakanku dan membuat segala perubahan dalam hidupku.

Kisah keduaku tentang cinta dan kehilangan
Aku sungguh beruntung − aku menemukan apa yang kucintai dalam hidupku dari awal. Woz dan aku memulai perusahaan Apple di garasi orangtuaku pada saat usiaku 20 tahun. Kami bekerja keras, dan dalam waktu 10 tahun Apple sudah berkembang mulai dari hanya kami berdua yang menjalankannya di garasi hingga menjadi perusahaan senilai $ dua milyar dengan lebih dari 4000 karyawan. Kami baru saja merilis kreasi terbaik kami − Macintosh − setahun sebelumnya, dan aku baru saja berulang tahun ke-30 ketika aku dipecat. Bagaimana bisa kau dipecat padahal kau yang mendirikannya? Well, seiring Apple berkembang, kami mempekerjakan seseorang yang kukira sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan bersamaku selama setahun pertama dan berikutnya sehingga segalanya berjalan baik. Tetapi kemudian visi kami tentang masa depan berbeda dan bahkan kami menjadi tidak cocok. Dewan direksipun berpihak padanya. Jadi saat aku berusia 30 aku keluar dari perusahaan. Apa yang sudah menjadi fokusku dalam hidup telah lenyap dan hancur.

Selama beberapa bulan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa telah mengecewakan pegusaha generasi sebelumnya − karena aku telah menjatuhkan tongkat estafet yang telah diwariskan padaku. Sehingga, aku mememui David Packard dan Bob Noyce untuk meminta maaf karena telah mengacaukan segalanya. Aku sungguh merasa gagal dan ingin kabur dari permasalahan. Tetapi kemudian segalanya menjadi jelas untukku − aku masih mencintai apa yang kulakukan. Kejadian di Apple tidak merubah apapun. Aku pernah ditolak, tapi aku tetap mencintai apa yang kulakukan dan aku memutuskan untuk memulainya dari awal lagi.
Aku tidak mengetahuinya waktu itu, tetapi ternyata dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Beban menjadi sukses digantikan perasaan santai karena menjadi pemula lagi, yang merasa tidak yakin tentang apapun. Hal itu membebaskan aku untuk memasuki salah satu masa kreatif dalam hidupku.

Selama lima tahun ke depan, aku mulai menjalankan perusahan bernama NeXT dan Pixar, kemudian jatuh cinta dengan wanita luar biasa yang akan menjadi istriku kelak. Pixar mulai menciptakan film animasi computer pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Secara tak terduga, Apple membeli NeXT sehingga aku kembali ke Apple dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT adalah pencerahan karya Apple terkini. Di lain pihak, Laurene dan aku memiliki keluarga yang bahagia.

Aku sangat yakin segala hal yang terjadi padaku tidak akan pernah terjadi kalau aku tidak dipecat dari Apple. Hal tersebut merupakan pil pahit, tapi aku kira aku memang membutuhkannya. Terkadang hidup mengejutkanmu. Jangan pernah kehilangan kepercayaan. Aku yakin hal yang terus membuatku ingin maju adalah aku mencintai apa yang kulakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, baik untuk pekerjaanmu maupun pasanganmu. Pekerjaanmu akan mengisi bagian besar dalam hidupmu, dan satu-satunya cara mencapai kepuasan hidup adalah percaya bahwa apa yang kamu lakukan adalah karya.besar dan satu-satunya cara untuk melakukan karya besar adalah mencintai apa yang kau lakukan. Jika kau masih belum menemukannya, tetaplah mencari.jangan pernah diam di satu tempat. Begitu kata hatimu berbicara, kau akan tahu bahwa kau telah menemukannya. Dan, seperti hubungan yang luar biasa, segalanya akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi seiring waktu berjalan. Tetaplah mencari sampai kau menemukannya. Jangan pernah berhenti.

Kisah ketigaku tentang kematian
Ketika aku berusia 17 tahun, aku membaca sebuah ungkapan seperti ini: “jika kau menjalani harimu seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, kau mungkin benar suatu hari.” Ungkapan itu sangat berkesan untukku, dan sejak saat itu, selama 33 tahun hidupku, aku selalu berkaca setiap pagi dan bertanya pada diriku: “jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku mau melakukan apa yang aku lakukan hari ini?” dan ketika jawabannya adalah “Tidak” dalam banyak hari dihidupku, aku tahu aku harus merubah sesuatu.

Jika mengingat kalau aku akan segera meninggal adalah alat yang paling penting untuk membantuku dalam mengambil keputusan besar dalam hidupku. Karena hampir semuanya − segala harapan orang lain, segala kebanggaan, segala ketakutan merasa malu atau gagal − hal-hal ini bisa menjauh dari kematian, meninggalkan hal-hal yang sungguh penting. Mengingat kalau kita semua akan meninggal adalah cara terbaik untuk menghindari jebakan bahwa kita bisa kehilangan. Kau sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hatimu.
Sekitar setahun yang lalu, aku didiagnosa menderita kanker. Aku menjalani scan pukul 7:30 pagi, dan hasilnya menunjukkan bahwa di pankreasku terdapat tumor. Aku bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Dokter memberitahuku bahwa tumor ini merupakan sejenis kanker yang tak bisa disembuhkan, dan diperkirakan aku tidak akan bisa hidup lebih lama dari tiga sampai enam bulan. Ia menyarankanku untuk pulang kerumah dan menyiapkan segalanya dengan memberitahu keluargaku bahwa aku tidak akan hidup lama lagi dan segalanya sudah terkendali sehingga itu berarti aku mengucapkan salam perpisahan.

Aku hidup dengan diagnosa itu sepanjang hari. Kemudian pada malam harinya aku menjalani biopsi, dimana mereka menaruh endoskop kedalam tenggorokanku, melalui perutku dan memasuki ususku, memasang jarum di pankreasku dan mengambil beberapa sel dari tumorku. Aku merasa tenang, tapi istriku yang berada disana juga, memberitahuku bahwa ketika para dokter mengamati sel tumorku dibawah mikroskop, mereka mulai menangis karena ternyata tumor yang ada di pankreasku adalah jenis yang langka yang bisa disembuhkan melalui operasi. Dan aku telah menjalani operasinya sehingga sekarang aku baik-baik saja.

Kejadian ini yang mendekatkanku untuk menghadapi kematian, dan semoga hal ini bisa membuatku bertahan untuk beberapa dekade lagi. Setelah melewatinya, sekarang aku bisa berkata dengan lebih yakin kepada kalian semua bahwa kematian itu berguna tapi merupakan konsep yang sangat cerdas:

Tidak seorangpun ingin meninggal. Bahkan orang yang ingin pergi ke surgapun tidak ingin meninggal untuk ke sana. Tetapi kematian adalah tujuan akhir kita semua. Tidak ada orang yang bisa melepaskan diri dari itu. Seperti seharusnya, karena kematian adalah satu temuan terbaik dalam kehidupan. Kematian adalah agen perubah kehidupan. Kematian membuat yang tua menjadi baru. Saat ini yang baru itu adalah kalian semua, tapi suatu hari tidak begitu lama lagi dari sekarang, kalian akan menjadi tua dan meninggal. Maaf karena terlalu dramatis, tapi itu memang benar.

Waktu kalian terbatas, jadi jangan menyia-nyiakannya dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terjebak oleh dogma − artinya adalah hidup dengan hasil pikiran orang lain. Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan kata hatimu. Dan hal yang paling penting adalah memiliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu. Entah bagaimana mereka sudah mengetahui apa yang kau inginkan. Yang lain menjadi kurang penting.

Ketika aku masih muda, ada satu publikasi yang sangat bagus berjudul The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu kitab suci pada masaku. Diciptakan oleh seorang teman yang bernama Stewart Brad tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan ia membawakannya dengan sentuhan puitis. Hal ini terjadi pada akhir tahun 1960, sebelum computer pribadi dan desktop menjadi terkenal, sehingga semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting dan kamera polaroid. Mirip dengan Google dalam bentuk buku, 35 tahun sebelum Google ada: idealis, penuh dengan alat-alat rapi dan ide cemerlang.

Stewart dan timnya mengangkat beberapa isu dari The Whole Earth Catalog, dan ketika telah berjalan, mereka membuat isu utama. Pada saat itu pertengahan tahun 1970, aku masih seusiamu. Pada sampul belakang isu utama mereka, ada foto suasana pagi hari di jalanan pedesaan, hal yang akan kau temukan jika mendapatkan tumpangan kalau kau seorang petualang. Dibawahnya terdapat kata-kata: “Tetaplah Lapar. Tetaplah Merasa Bodoh.” Itu adalah pesan perpisahan mereka ketika mereka mundur. Tetaplah Lapar. Tetaplah Merasa Bodoh. Dan aku selalu berharap seperti itu untukku. Dan sekarang, ketika kalian lulus untuk menjadi sesuatu yang baru, aku juga mengharapkan itu pada kalian semua.

STAY HUNGRY, STAY FOOLISH

DUNIA TANPA MINYAK ?



Di seluruh dunia, dengan sedikit pengecualian, terdapat kecenderungan bahwa permasalahan sosial dan ekonomi justru banyak timbul di Negara negara pemilik sumberdaya minyak dan gas serta sumberdaya mineral, yang disebut juga sektor ekstraktif. Pertumbuhan pendapatan di negaranegara “kaya sumber daya alam” ini justru lebih rendah ketimbang di negara-negara “miskin sumberdaya alam”. Selain itu, sektor ekstraktif selalu diasosiasikan dengan indikasi sosial, politik, dan lingkungan yang buruk seperti korupsi, kekerasan, pelanggaran hak azasi manusia, lemahnya penegakan hukum, serta rusaknyalingkungan. Semua ini berdampak sangat buruk pada pertumbuhan pendapatan dan indicator pembangunan berkelanjutan lainnya.

Nigeria, contohnya. Minyak bumi menguasai 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB), 70% dari pendapatan pemerintah, serta 95% ekspor, menjadikannya sangat tergantung terhadap minyak bumi. Pada saat yang sama, menurut Transparency International, sebuah lembaga antikorupsi terkemuka di dunia, Nigeria berada di ranking teratas dari 90 negara dengan pemerintah yang terkorup sedunia. Indonesia, dengan minyak menguasai 10% PDB, 25% pendapatan negara, dan 80% ekspor, berada di urutan ke lima dari pemerintah terkorup di dunia menurut Transparency Internasional.

Seperti dengan air, minyak ternyata tidak dapat bersatu dengan demokrasi. Tidak kurang dari penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia (misalnya oleh Michael Ross, seorang visiting scholar dari Universitas Princeton yang melakukan penelitian di Bank Dunia) memperlihatkan adanya kecenderungan korelasi antara pemerintah yang opresif dengan kekayaan sektor ekstraktifnya. Ross menemukan bahwa di negara-negara kaya minyak, gas, dan mineral, aplikasi pajak yang rendah dan pendapatan yang tinggi, dibarengi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang rendah dan struktur tenaga kerja yang belum terspesialisasi menyebabkan masyarakat kurang menghargai institusi perwakilan rakyat.

Pendapatan negara yang besar memberikan kemampuan kepada pemerintah untuk menghindari tekanan kaum demokrat dan menahan munculnya kelas menengah yang kritis. Chaudri menemukan bahwa pada sekitar tahun 1970-an, program pembangunan di Timur Tengah dilakukan secara eksplisit mendepolitisasi masyarakatnya. “Di semua kasus”, lanjutnya, “Pemerintah di negara-negara ini dengan sengaja menghancurkan lembaga-lembaga madani serta melahirkan lembaga lembaga pemerintah yang memfasilitasi tujuan politis dari negara”. Di negara-negara Afrika dan Timur Tengah, masalah ini juga diperburuk dengan kenyataan bahwa pendapatan yang besar dari sektor ekstraktif ini justru dipergunakan untuk menekan rakyatnya sendiri. Pendapatan dari minyak dipergunakan untuk membangun kekuatan bersenjata untuk memberangus inisiatif apapun yang mengancam pemerintahnya.

Penggunaan energi minyak, gas, dan batubara memang membawa dampak yang serius baik terhadap lingkungan maupun sosial. Minyak, gas, dan sumberdaya mineral seperti mengandung kutukan. “Paradox of plenty”, yang juga dipergunakan sebagai judul buku oleh Terry Lynn Karl , memperlihatkan hubungan antara minyak, gas, dan mineral dengan pembangunan negara. “Seperti tikus mati di lumbung padi”. Apa yang sebenarnya terjadi?

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, keadaannya juga tidak banyak berbeda. Seperti lagu Koes Plus di tahun 70-an, Indonesia memang terlena dengan “kolam susu”, negeri gemah ripah loh jinawi dengan sumberdaya alam yang kaya, di mana “kayu dan batu jadi tanaman”. Ekstraksi minyak dimulai dengan nasionalisasi Royal Dutch Shell, serta Caltex yang saat ini merupakan usaha patungan antara Chevron dan Texaco dengan Pertamina menjadi penanaman modal asing besar berikutnya. Setelah itu, minyak menjadi andalan perekonomian Indonesia. Pada kurun waktu 10 tahun saja dari tahun 1970 ke 1980, penerimaan bersih ekspor migas (ekspor dikurangi impor) meningkat seratus kali lipat dari sekitar $92 juta menjadi sekitar $9 miliar. Padahal, minyak merupakan sumberdaya yang tidak terbarukan. Walaupun Indonesia merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries, OPEC), pangsanya dalam total produksi global hanya 0.6%. Dengan deposit sekitar 10 triliun barrel minyak, kapasitas ekstraksi yang saat ini mencapai 500 juta barrel ber tahun akan menghabiskannya pada jangka waktu 20 tahun. Gas alam memiliki jangka waktu yang panjang, sekitar 30 tahun, sementara batu bara sekitar 50-an tahun.

Transportasi merupakan sektor pengkonsumsi minyak terbesar dengan 40,1% dari total. Sektor industri 36,15%, sementara rumah tangga 23,75%.4 Pembangkit listrik mengkonsumsi 9 persen saja. Sebagai akibat dari meningkatnya pendapatan dan urbanisasi, konsumsi minyak akan meningkat lebih banyak lagi. Meningkatnya permintaan akan minyak juga mengakibatkan dampak lingkungan dan sosial yang besar pada proses ekstraksi dan pembakarannya. Dampak sosialnya — seperti terdokumentasikan pada beberapa kasus di dunia di atas — sangat memprihatinkan. Pada banyak kasus, ekstraksi sumberdaya minyak hampir tidak memperhatikan hak hak masyarakat lokal dan asli, dan justru merusak kerekatan sosial dan kekuatan budaya lokal di daerah itu. Polusi hidrokarbon yang diakibatkan oleh ekstraksi minyak meningkatkan resiko kanker pada masyarakat yang tinggal bertetangga dengan ladang minyak. Sementara itu, penggunaan bahan-bakar fosil pada umumnya menyebabkan banyak permasalahan lingkungan seperti pencemaran udara, hujan asam, serta pemanasan global. Padahal, karena proses ekstraksinya hampir selalu bergantung pada teknologi asing, maka penyerapan tenaga lokal sanga tterbatas adanya. Bersamaan dengan itu, karena produk akhirnya sebagian besar diekspor, maka sangat sedikit manfaat ekonomi yang didapatkan dari minyak secara nasional, apalagi secara lokal. Jalan keluarnya telah banyak diketahui. Secara teknis, dampak lingkungan dan sosial dari proses ekstraksi sebetulnya bisa diminimisasi. “Pengembangan masyarakat” seperti yang didefinisikan oleh industry minyak sendiri dapat membantu meningkatkan penerimaan masyarakat atas adanya industri ekstraktif di daerahnya, walaupun sangat terbatas sekali.

Permintaan akan bahan-bakar fossil jelas harus dikurangi. Penggunaan energi harus jauh lebih efisien dari saat ini, sementara sumber-sumber yang terbarukan harus diperbesar perannya. Pada sektor transportasi, banyak upaya yang dapat dilakukan — dari pengendalian ke pencegahan pencemaran ke penggantian bahan bakar kepada yang lebih bersih. Pendekatan yang lebih sistemik — dari perencanaan kota yang lebih baik dan lebih terintegrasi, penggunaan kendaraan umum, serta penggunaan kendaraan tanpa motor — juga sudah banyak diketahui.

Di samping cara-cara yang teknis, kemauan politik yang diikuti dengan tatapraja yang baik (good governance) ternyata sangat dibutuhkan di Indonesia. Bahan bakar fosil tidak boleh dijadikan tulang punggung pembangunan ekonomi di Indonesia. Masa depan Indonesia justru ditentukan oleh pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber energy yang terbarukan serta sumberdaya manusia yang handal. Masih ada kehidupan sesudah minyak habis, kalau kita membuatnya. Kalau tidak, pada saat minyak habis, habislah kita semua ….

sumber : life after oil - booklet

04 September 2011

KADERISASI KEDAI KOPI

Kedai kopi kini tidak hanya dijadikan sebagai tempat menikmati kopi namun juga mampu menjelma sebagai tempat ajang nongkrong sejumlah kalangan. Anak muda dan dewasa meramaikan sejumlah kedai kopi yang saat ini sedang menjamur di perkotaan. Kedan kopi bahkan bisa menjadi basecamp berbagai komunitas di perkotaan. Inilah yang menjadi kelebihan kedai kopi. Daya tarik untuk mengunjunginya juga menjadi gaya hidup khususnya anak muda atau mahasiswa. KADERISASI Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi atau pendidikan. Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah “sekolah-sekolahan” atau “meeting at class” , melainkan dalam pengertian luas. Salah satu tugas seorang pemimpin sebagai subyek kaderisasi adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya. DISKUSI & SHARING Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih. Biasanya komunikasi antara mereka tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut. Sharing atau berbagi adalah bentuk prilaku yang saling member dan menerima setiap beban dan berkat kepada semua personal yang terlibat dalam lingkaran emosi tersebut. Dalam sharing tercipta ikatan emosi dan batin yang tidak beli maupun di-utangkan, karena ikatan ini adalah ikatan sukarela karena adanya pengorbanan dalam mempertahankan hubungan. NONGKRONG DI KEDAI KOPI Dalam kedai kopi, tidak melibatkan aturan dialog yang formal seperti yang kita ikuti dalam seminar atau pelatihan di kelas. Di kedai kopi, aroma diskusinya adalah persamaan derajat walau subjek dan objek kaderisasi tersebut berasal dari kelas atau jabatan yang berbeda. Diskusi di kedai kopi menelanjangi watak pelaku dan pendengar sehingga terciptanya sharing atau care sesama tanpa ada judgement. Suasana santai terjalin dan kejujuran timbul dalam diskusi tersebut. Sejarah menyatakan, grup lawak WARKOP DKI ( alm. DONO, alm KASINO, dan INDRO) lahir dari sebuah kedai kopi dekat dengan stasiun PRAMPORS FM, ide lawak mereka yang ber-content Intelektual dan Kritis berasal dari bincang bincang kedai Kopi. Sejarah kemerdekaan Indonesia, yang di awali dengan pertemuan “rengas dengklok” adalah sebuah kedai tempat rutin berkumpulnya atau “base camp” para aktifis pemuda indonesia. Dalam diskusi ciptakan bentuk mediasi, kedai kopi menyediakan suasana yang rileks dan sharing meng-eratkan ikatan batin. Ketiga faktor tersebut membidani sejumlah ide dan kreatifitas komunitas.

02 September 2011

MENAMBANG BENSIN DARI MIKROALGA







Andai cadangan minyak bumi dari makin menipis, lalu bagaimana dengan nasib bumi kita ? Itu sebabnya banyak Negara saling berpacu untuk menemukan BBM terbarukan. Biosolar dari tanaman jarak pagar boleh menjadi yang paling muktakhir. Dibelakangnya, mikroalga atau ganging mikro siap masuk gelanggang.

Mikrolga, kalau anda belum pernah mendengar namanya, adalah isitilah umm bagi organism fotosintetik akuatik bersel satu, alias mikroskopis. Dia memang tidak berdaun atau berakar, namun keberadaanya krusial di muka bumi ini. Walau kecil, dia berjasa menghasilkan setengah dari oksigen di atmosfer dari hasil olahannya terhadap gas rumah kaca, seperti karbomonoksida. Wajib kita berterima kasih kepadanya.

Bukan Cuma itu, si hijau kecil ini juga diketahui menjadi baham pembuatan obat dan suplemen seperti spirulina. Kandungan Omega-3 yang terdapat pada ikan salmon juga berasal dari mikroalga yang jadi santapan siang ikan salmon. Kelak perannya di bumi bakal bertambah, yakni sebagai bahan bakar kenderaan.

Studi soal mikroalga sudah dimulai sejak 1970-an di amerika serikat. Tepatnya oleh departemen Energi AS lewat Aquatic Species Program yang mencari species perairan yang berpotensi menghasilkan minyak pengganti BBM dari fossil. Maklum saja, ketika itu harga minyak bumi sedang melambung dan pasokannya langka.

Para peneliti dalam program tersebut melirik mikroalga. Usut punya usut, ternyata si hijau kecil ini bisa memproduksi dan meyimpan minyak 50% lebih dari massa tubuhnya. Dan bila di-reaksikan dengan alcohol seperti etanol dan methanol, ia mampu menghasilkan zat yang mirip dengan diesel (petrosolar). Karena solar yang satu ini berasal dari makhluk hidup maka dinamakanlah biosolar.

Memang ada beberapa tumbuhan lain yang mampu menghasilkan minyak, tapi biaya dan waktu yang dibutuhkan akan lebih besar dan lebih lama. Sedangkan mikroalga “bandel”, ia bisa tumbuh di jenis perairan apa pun, baik tawar ataupun tidak. Makanannya pun mudah, hanya zat-zat hara, limbah, dan gas karbondioksida. Makin banyak CO2 yang diserap, makin cepat ia mengonversi limbah.

Hebatnya lagi, makin banyak limbah yang dikonversi menjadi biomassa, makin banyak pula kandungan minyak pad alga itu. Saking efisiennya, tercatat bahwa mikroalga mampu menghasilkan minyak 10-30 kali lebih banyak dari pada tanaman berat.

DIBUAT KELAPARAN

Apa boleh buat, kenyataan sering berbicara lain. Solar yang dipakai sekarang tetap hasil sintetis dari bahan bakar fosil dan bukan sepenuhnya dari mikroalga. Penyebabnya, biaya produksi solar berbahan mikroalga jauh lebih tinggi.

Mikroalga yan ingin dipergunakan di industry, ternyata tidak bisa ditumbuhkan di perairan terbuka. Ia akan kalah bersaing dengan mikroorganisme liar lain dan rentan terhadap virus. Paling cocok ditumbuhkan dalam fotobioreaktor, reactor berbentuk tabung yang digunakan mereaksikan organism dengan bantuan cahaya.


Dengan sistem tertutup seperti itu, maka produksinya juga harus dikendalikan secara penuh. Pemberian makanan – seperti nitrogen tereduksi misalnya – juga harus terjamin kualitas dan kuantitasnya. Kita juga tidak boleh memberikan limbah yang tidak memenuhi syarat.

Pemberian nitrogen – tereduksi sebenarnya juga tidak murah. Masalahnya, nitrogen-tereduksi dapat ditemukan dari pupuk kimia yang proses pembuatannya sangat memakan energy. Apalagi sisa pupuk yang kalau teroksidasi oleh udara bebas bisa menjadi oksida nitrat (N2O) yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.

Agar si mikroalga bisa memproduksi minyak dalam jumlah tinggi, ia harus dibuat kelaparan terlebih dahulu, karena saat itulah sebagian biomassanya akan berubah menjadi minyak. Tetapi pada saat yang bersamaan pertumbuhannya akan berhenti. Gambarannya seperti kita mengambil uang pokok tabungan di bank dan bukan bunganya.

Sekitar pertengahan decade 1990-an, penelitian mikroalga dihentikan karena harga minyak bumi kembali normal. Tetapi belakangan ia kembali dilirik lantaran isu-isu lingkungan kembali di santer terdengar seperti pemanasan global dan konflik geopolitik yang sekarang sedang memanas.

Para peneliti kembali menyisingkan lengan baju, salah satunya, Prof. James Liao dan tim dari Univ California Los Angeles (UCLA). AS. Sejak 2008, James bersama tim-nya telah melakukan penelitian kembali dan dalam laporan penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Biotechnology, 6 maret 2011, ia menjabarkan tentang mengubah protein dari mikroalga menjadi bensin. Juga tentang cara mengembangbiakan mikroalga tanpa asupan pupuk.

Isu ini sangat menarik, karena sejauh ini belum ada satupun skema Industri BBM terbarukan yang mampu menggunakan bahan baku protein. Biasanya, bakteri yang diberi makan protein tidak akan mendegradasi protein itu menjadi BBM, melainkan menjadi protein tubuhnya sendiri.

TUMBUH CEPAT

Bakteri yang bisa mensintesis bensin sebenarnya sudah berhasil dibuat sejak tiga tahun silam oleh kelompok peneliti yang sama. Dengan memanfaatkan kemajuan bioteknologi, mereka berhasil merekayasa jalur metabolism bakteri E. Coli hingga bakteri tersebut mampu mensekresi alcohol seperti Isobutanol, 2 metil-1-butanol dan 3-metil-1-butanol.

Ketiga alcohol itu memiliki sifat yang sangat menyerupai bensin, sehingga dapat dipakai dalam mesin kendaraan tanpa perlu dicampur dengan petrobensin, dan tidak akan mengganggu performa mesin. Ini berbeda jauh dengan bioethanol (bensin dari alcohol) yang terbuksi korosif dan kandungan energinya 30% dari petrobensin.

Masalahnya, E Coli yang telah termutasi itu membutuhkan asupan makanan. Ada 3 kelompok besar makanan baginya yaitu : kalbohidrat, lipid dan protein. Kalau member makan bakteri tersebut menggunakan kalbohidrat atau lemak, maka ia akan rebutan dengan manusia dan timbul krisis pangan di bumi. Berbeda kalau makananya protein. Alam bunya sumber protein yang tidak kita konsumsi yakni mikoralga.

Hampir setengah badan is hijau kecil ini memang merupakan protein. Sebagian besar protein ini bertindak sebagai “mesin –mesin” fotosinstesis intraseluler. Karena tumbuhnya sangat cepat ( dua kali lipat dalam 24 jam) produktivitas sintesi proteinnya juga lebih tinggi dari tumbuhan dan hewan. Apalagi kalau diinduksi untuk menghasilkan minyak, maka mereka akan terus tumbuh tak terhingga dan memproduksi semakin banyak protein. Seperti ledakan penduduk saja.

Strategi inilah yang dipakai kelompok James dan tim. Mikroalga akan dipanen dan kandungan biomassanya (pati, gula sederhana, lemak dan protein) akan dihidrolisis. Hidrolisat –hidrolisat atau saripati akan diberikan kepada si E. Coli agar dicerna untuk berbagai kepentingan sel, termasuk pembuatan bio-bensin

Sayangnya, ketika sari protein diberikan, E Coli justru mengubahnya menjadi asam amino yang berguna untuk protein tubuhnya sendiri. Melihat hal ini James dan tim-nya segera memutar akal mencoba menghilangkan gen pengkode enzim dalam bakteri tersebut. Dengan cara itu akhirnya sang bakteri takluk dan memproduksi biobensin.

SIAP UNTUK DIKEMBANGKAN

Untuk pengembangan skala industry, factor biaya sangatlah sensitive. Dan setidaknya ada dua hal yang masih berpotensi membengkakkan biaya di level industry. Pertama adalah masalah kultivasi dan pemanenan mikroalga skala besar. Kedua adalah masalah ekstraksi dan purifikasi biobensin dari medium.

SUMBER : MAJALAH INTISARI EDISI SEPTEMBER 2011

20 Agustus 2011

Ilmuwan Indonesia tersia-siakan


Jakarta, Kompas - Tiadanya grand strategy pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, disusul lemahnya pengawalan program jangka panjang pengembangan sumber daya manusia, mengakibatkan peran ribuan ilmuwan Indonesia yang pernah dibiayai pemerintah maupun hibah asing hilang sia-sia.

Padahal, keahlian mereka potensial berperan mempercepat kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang berpangkal pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Saya prihatin sekali dengan kondisi ini, dan tidak fair jika mata rantai pertama, yaitu proses pengiriman para ilmuwan atau tenaga ahli itu, yang dinilai gagal. Mata rantai kedua adalah institusi dan perangkat teknologi yang akan menyongsong mereka ketika mereka kembali, sedangkan mata rantai ketiga adalah linkage dengan departemen, atau strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara nasional. Maka, benar kalau ada kesan keahlian ilmuwan kita muspro (sia-sia) di negeri sendiri," kata Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, Senin (3/4), ketika dimintai tanggapannya perihal buntunya peran ilmuwan dan sumbangan teknologi baru untuk segera melepaskan Indonesia dari keterpurukan di berbagai bidang.

Tanggapan senada datang dari Ir Yusman SD, mantan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Bandung, Prof Dr Ir Dodi Nandika MS, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), serta Nadirah MSc, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (Pusdiklat BPPT). Wardiman menjelaskan, tahun 1985, setidaknya 2.000 pelajar dan mahasiswa Indonesia dikirim lewat program pendidikan S1, S2, dan S3 ke luar negeri melalui hibah maupun pinjaman dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan JBIC (Bank Jepang), dengan nilai hibah 600 juta dollar AS selama delapan tahun. Tetapi, tahun 1989, program itu diambil alih Bappenas dan selanjutnya tak jelas lagi kelanjutannya.

Muncul suara beberapa menteri, buat apa mendidik orang Indonesia kalau menganggur. "Selalu saya counter. Tugas kami mendidik SDM dan harus terus maju. Tugas departemen lain, seperti industri, ekonomi, dan keuangan, untuk membuka lapangan kerja sehingga orang yang sudah kita didik bisa fully used, sepenuhnya termanfaatkan," kata Wardiman, yang kini Ketua Yayasan Pengembangan SDM The Habibie Centre di Jakarta.

Namun, sepulang studi umumnya para ilmuwan frustrasi karena pekerjaan mereka tidak ditopang peralatan dan orientasi ke depan. "Saya yang menangani enam lembaga pemerintah nondepartemen, seperti BPS, Bakorsurtanal, LIPI, BATAN, LAPAN, dan BPPT. Di tempat mereka, kerja fasilitas kurang dan tidak ada dana. Kasihan mereka," katanya.

Wardiman mengemukakan, tahun lalu saja anggaran China untuk mengembangkan bidang iptek mencapai 2 persen dari anggaran nasional mereka, sedangkan Indonesia hanya 0,5 persen. "Jangan tanya Jepang dan Korea, mereka di atas 2 persen."

Wardiman mengakui, ada faktor eksternal, yaitu berubahnya tata ekonomi dunia. Di Jerman, negara dengan mutu pendidikan yang luar biasa, toh tingkat penganggurannya mencapai 12 persen, 4,5 juta dari 80 juta penduduk. Di antara mereka, 500.000 orang adalah sarjana dan doktor. "Jadi, terang gamblanglah. Persoalan di Indonesia adalah lapangan kerja," tuturnya.

Sekjen Depdiknas Dodi Nandika menilai pengiriman calon ilmuwan dan ilmuwan yang sudah jadi ke luar negeri sangat strategis dalam upaya mendongkrak daya saing bangsa sehingga kelak menjadi motor penggerak dan inovator di berbagai bidang. "Namun, ilmu yang diperoleh anak bangsa di luar negeri itu tidak ada artinya jika mereka tidak diberi kesempatan berperan dalam masyarakat," katanya.

Dodi mengakui ada segelintir ilmuwan yang kecewa dengan iklim penelitian di dalam negeri sehingga mereka lebih tertarik untuk tinggal dan bekerja di luar negeri. "Tetapi, itu hanya sebagian kecil. Pada sisi lain, hal itu juga memungkinkan bagi anak bangsa terbaik untuk mengharumkan nama negeri kita di luar negeri. Toh, diam-diam mereka tetap menjalin komunikasi dengan sesama ilmuwan di dalam negeri dan memungkinkan transformasi teknologi," kata Dodi.

Adapun Ir Yusman SD melihat, persoalan serius di Indonesia adalah bagaimana ilmuwan-ilmuwan high tech tetap bisa terus meningkatkan kualitas dan kompetensi keilmuan mereka. "Kalau laboratorium saja tidak ada, apa dia harus membangun lab dengan duit sendiri? Jarang sekali universitas dan lembaga kita yang memiliki lab dengan pendanaan terprogram."

Sebab itu, ilmuwan dan mereka yang memiliki keahlian khusus lebih suka bekerja dan mengabdikan diri bagi negara lain. "BPPT dulu terkait dengan industri strategis senjata untuk sistem dirgantara, teknologi perkapalan, energi, maupun tenaga surya, dan biodiesel. Tetapi, risetnya sendiri tak ada. Makanya, meski mereka terpakai, tetapi tak sesuai kapasitas mereka."

"Sekarang pemerintah dan BPPT cenderung mengabaikan iptek. Mungkin karena mereka menganggap teknologi ini gampang dibeli. Padahal, kapasitas mereka mampu membangun kemandirian. Saya sangat menyayangkan karena yang paling sulit itu investasi SDM. Pendidikan SDM dengan industrialisasi butuh waktu 5-10 tahun, tetapi mengirim sekolah S2 dan S3 menempatkan ilmuwan langsung pada ujung tantangan baru, new frontier," kata Yusman SD.

Yusman masih ingat karena "posisi Indonesia" yang terhormat dan baik ketika itu, ilmuwan Indonesia bahkan diperkenankan bergabung pada program-program classified, yaitu program prestisius dan sebagian rahasia. Misalnya di Amerika, calon doktor Indonesia boleh ikut riset roket Galileo. Di Jerman diikutkan pada riset mesin paling maju, atau desain komputer dan aerodinamik, serta riset tenaga surya. "Menurut saya, mesti dikembalikan lagi agenda-agenda pengembangan teknologi dan SDM itu. Menristek, Kepala BPPT, dan LPND, seperti Lapan, Batan, LIPI atau Puspiptek, harus punya inisiatif dan program untuk merangsang gairah ilmuwan berkarya mengabdikan ilmunya di Indonesia," kata Chairman Matsushita-Gobel Foundation itu. Ia mencatat, masih ada 150-an ahli mesin Indonesia di Jerman dan masing-masing 40 ahli aeronautika dan energi surya di Brasil. Mereka itu adalah ilmuwan berkat beasiswa hibah dari negara Jepang, Inggris, Amerika, Jerman, dan Perancis. "Kebijakan kita dulu, sekarang yang mengekor Malaysia dan China. Kita stop, tetapi mereka punya program jelas," kata Yusman.

Nadirah MSc, Kepala Pusdiklat BPPT, menyatakan, pihaknya tengah menyusun kembali database, status pelajar yang memperoleh beasiswa. setidaknya, data peserta dua program yang telah lewat bisa terdeteksi. Program dimaksud ialah beasiswa lulusan SMA bidang Ilmu Pengetahuan Alam oleh Overseas Fellowship Program (OFP, 1985-1992) didanai Bank Dunia dan Program STAID oleh Bank Dunia dan Jepang (1990-2004).

"Program ini akan dihidupkan lagi, paling tidak di kalangan BPPT, untuk mengantisipasi kelangkaan tenaga ahli berpendidikan S2 dan S3 tahun 2010," kata Nadirah. (Nar/Yun/HRD)

02 Juli 2011

PERANGKAP TIKUS

Sepasang suami dan istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??" Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, " Ada perangkap tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."

Ia mendatangi ayam dan berteriak "ada perangkap tikus" Sang ayam berkata, "Tuan tikus..., aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku." Sang tikus lalu pergi menemui seekor kambing sambil berteriak. Sang kambing pun berkata "Aku turut bersimpati, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan."

Tikus lalu menemui sapi. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali."

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Sang ular berkata, "Ahhh...perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku."

Akhirnya sang tikus kembali ke rumah dengan pasrah, mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi, menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Ekor ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan. Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.

Ia lalu minta dibuatkan sop cakar ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop cakar ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cakarnya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda.

Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan...sang tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

...SUATU HARI..KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA... PIKIRKANLAH SEKALI LAGI.

29 Juni 2011

Ozonisasi Limbah Medis


Ironis! Itulah mungkin kata yang pas untuk lembaga yang bernama rumah sakit (RS). Ternyata salah satu tempat penyembuhan orang sakit ini justru menjadi sumber penyakit. Hal ini berkaitan dengan limbah yang dihasilkannya tidak ditangani dengan benar. Harian Koran Tempo ( 2/9/04) memberitakan kebanyakan limbah cair rumah sakit di DKI Jakarta tidak diolah terlebih dahulu tapi langsung dibuang ke sungai. Begitupun Pikiran Rakyat (2/12/04) memuat berita pengelolaan limbah medis, terutama di Jawa Barat, masih jauh di bawah standar.

Memang harus diakui, rumah sakit merupakan salah satu sumber penghasil limbah berbahaya, baik limbah padat maupun limbah cair. Pada artikel ini penulis hanya akan memfokuskan pada penanganan limbah cair.

Limbah cair yang dihasilkan dari sebuah rumah sakit umumnya banyak mengandung bakteri, virus, senyawa kimia, dan obat-obatan yang dapat membahayakan bagi kesehatan masyarakat sekitar rumah sakit tersebut. Dari sekian banyak sumber limbah di rumah sakit, limbah dari laboratorium paling perlu diwaspadai. Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses uji laboratorium tidak bisa diurai hanya dengan aerasi atau activated sludge. Bahan-bahan itu mengandung logam berat dan inveksikus, sehingga harus disterilisasi atau dinormalkan sebelum "dilempar" menjadi limbah tak berbahaya. Untuk foto rontgen misalnya, ada cairan tertentu yang mengandung radioaktif yang cukup berbahaya. Setelah bahan ini digunakan. limbahnya dibuang (Republika, 20/7/04).

Penulis sangat percaya, banyak pihak yang menyadari tentang bahaya ini. Namun, lemahnya peraturan pemerintah tentang pengelolaan limbah rumah sakit mengakibatkan hingga saat ini hanya sedikit rumah sakit yang memiliki IPAL khusus pengolahan limbah cairnya (Suara Pembaruan, 6/11/03).

Teknologi pengolahan limbah

Teknologi pengolahan limbah medis yang sekarang jamak dioperasikan hanya berkisar antara masalah tangki septik dan insinerator. Keduanya sekarang terbukti memiliki nilai negatif besar. Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan air dari tangki yang dikhawatirkan dapat mencemari tanah. Terkadang ada beberapa rumah sakit yang membuang hasil akhir dari tangki septik tersebut langsung ke sungai-sungai, sehingga dapat dipastikan sungai tersebut mulai mengandung zat medis.

Sedangkan insinerator, yang menerapkan teknik pembakaran pada sampah medis, juga bukan berarti tanpa cacat. Badan Perlindungan Lingkungan AS menemukan teknik insenerasi merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat beracun. Penelitian terakhir menunjukkan zat dioksin inilah yang menjadi pemicu tumbuhnya kanker pada tubuh (Sinar Harapan, 2003).

Yang sangat menarik dari permasalahan ini adalah ditemukaannya teknologi pengolahan limbah dengan metode ozonisasi. Salah satu metode sterilisasi limbah cair rumah sakit yang direkomendasikan United States Environmental Protection Agency (U.S.EPA) tahun 1999. Teknologi ini sebenarnya dapat juga diterapkan untuk mengelola limbah pabrik tekstil, cat, kulit, dan lain-lain.

Ozonisasi

Proses ozonisasi telah dikenal lebih dari seratus tahun yang lalu. Proses ozonisasi atau proses dengan menggunakan ozon pertama kali diperkenalkan Nies dari Prancis sebagai metode sterilisasi pada air minum pada tahun 1906. Penggunaan proses ozonisasi kemudian berkembang sangat pesat. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun terdapat kurang lebih 300 lokasi pengolahan air minum menggunakan ozonisasi untuk proses sterilisasinya di Amerika.

Dewasa ini, metode ozonisasi mulai banyak dipergunakan untuk sterilisasi bahan makanan, pencucian peralatan kedokteran, hingga sterilisasi udara pada ruangan kerja di perkantoran. Luasnya penggunaan ozon ini tidak terlepas dari sifat ozon yang dikenal memiliki sifat radikal (mudah bereaksi dengan senyawa disekitarnya) serta memiliki oksidasi potential 2.07 V. Selain itu, ozon telah dapat dengan mudah dibuat dengan menggunakan plasma seperti corona discharge.

Melalui proses oksidasinya pula ozon mampu membunuh berbagai macam mikroorganisma seperti bakteri Escherichia coli, Salmonella enteriditis, Hepatitis A Virus serta berbagai mikroorganisma patogen lainnya (Crites, 1998). Melalui proses oksidasi langsung ozon akan merusak dinding bagian luar sel mikroorganisma (cell lysis) sekaligus membunuhnya. Juga melalui proses oksidasi oleh radikal bebas seperti hydrogen peroxy (HO2) dan hydroxyl radical (OH) yang terbentuk ketika ozon terurai dalam air. Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini ozon mulai banyak diaplikasikan dalam mengolah limbah cair domestik dan industri.

Ozonisasi limbah cair rumah sakit

Proses pengolahan limbah dengan metode ozonisasi adalah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Limbah cair yang berasal dari berbagai kegiatan laboratorium, dapur, laundry, toilet, dan lain sebagainya dikumpulkan pada sebuah kolam equalisasi lalu dipompakan ke tangki reaktor untuk dicampurkan dengan gas ozon. Gas ozon yang masuk dalam tangki reaktor bereaksi mengoksidasi senyawa organik dan membunuh bakteri patogen pada limbah cair.

Limbah cair yang sudah teroksidasi kemudian dialirkan ke tangki koagulasi untuk dicampurkan koagulan. Lantas proses sedimentasi pada tangki berikutnya. Pada proses ini, polutan mikro, logam berat dan lain-lain sisa hasil proses oksidasi dalam tangki reaktor dapat diendapkan.

Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi. Pada tangki ini terjadi proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat pollutan yang terlewatkan pada proses koagulasi. Zat-zat polutan akan dihilangkan permukaan karbon aktif. Apabila seluruh permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, atau tidak mampu lagi menyerap maka proses penyerapan akan berhenti, dan pada saat ini karbon aktif harus diganti dengan karbon aktif baru atau didaur ulang dengan cara dicuci. Air yang keluar dari filter karbon aktif untuk selanjutnya dapat dibuang dengan aman ke sungai.

Ozon akan larut dalam air untuk menghasilkan hidroksil radikal (-OH), sebuah radikal bebas yang memiliki potential oksidasi yang sangat tinggi (2.8 V), jauh melebihi ozon (1.7 V) dan chlorine (1.36 V). Hidroksil radikal adalah bahan oksidator yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa organik (fenol, pestisida, atrazine, TNT, dan sebagainya). Sebagai contoh, fenol yang teroksidasi oleh hidroksil radikal akan berubah menjadi hydroquinone, resorcinol, cathecol untuk kemudian teroksidasi kembali menjadi asam oxalic dan asam formic, senyawa organik asam yang lebih kecil yang mudah teroksidasi dengan kandungan oksigen yang di sekitarnya. Sebagai hasil akhir dari proses oksidasi hanya akan didapatkan karbon dioksida dan air.

Hidroksil radikal berkekuatan untuk mengoksidasi senyawa organik juga dapat dipergunakan dalam proses sterilisasi berbagai jenis mikroorganisma, menghilangkan bau, dan menghilangkan warna pada limbah cair. Dengan demikian akan dapat mengoksidasi senyawa organik serta membunuh bakteri patogen, yang banyak terkandung dalam limbah cair rumah sakit.

Pada saringan karbon aktif akan terjadi proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat yang akan diserap oleh permukaan karbon aktif. Apabila seluruh permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, proses penyerapan akan berhenti. Maka, karbon aktif harus diganti baru atau didaur ulang dengan cara dicuci.

Dalam aplikasi sistem ozonisasi sering dikombinasikan dengan lampu ultraviolet atau hidrogen peroksida. Dengan melakukan kombinasi ini akan didapatkan dengan mudah hidroksil radikal dalam air yang sangat dibutuhkan dalam proses oksidasi senyawa organik. Teknologi oksidasi ini tidak hanya dapat menguraikan senyawa kimia beracun yang berada dalam air, tapi juga sekaligus menghilangkannya sehingga limbah padat (sludge) dapat diminimalisasi hingga mendekati 100%. Dengan pemanfaatan sistem ozonisasi ini dapat pihak rumah sakit tidak hanya dapat mengolah limbahnya tapi juga akan dapat menggunakan kembali air limbah yang telah terproses (daur ulang). Teknologi ini, selain efisiensi waktu juga cukup ekonomis, karena tidak memerlukan tempat instalasi yang luas.***

Sumber : Pikiran Rakyat (3 Maret 2005)
Penulis : Anto Tri Sugiarto, Ph.D. (KIM LIPI) dan Suherman, M.Si. (BIT LIPI).

Utilitas Pabrik


Sebuah pabrik mempunyai dua sistem proses utama, yaitu sistem pereaksian dan sistem proses pemisahan & pemurnian. Kedua sistem tersebut membutuhkan kondisi operasi pada suhu dan tekanan tertentu. Utilitas pabrik menproduksi penunjang proses tersebut yaitu media pemanas, media pendingin (penyerap panas), media pencuci, pengolah limbah buangan, penyedia listrik dan udara bertekanan. Dalam pabrik, panas biasanya ‘disimpan’ dalam fluida yang dijaga pada suhu dan tekanan tertentu. Fluida yang paling umum digunakan adalah air panas dan uap air karena alasan murah dan memiliki kapasitas panas tinggi. Fluida lain biasanya digunakan untuk kondisi pertukaran panas pada suhu di atas 100 oC pada tekanan atmosfer. Air atau uap air bertekanan (dinamakan kukus atau steam) mendapatkan panas dari ketel uap (boiler).

Sistem pemindahan panas bertugas memberikan panas dan menyerap panas. Misalnya, menyerap panas dari sistem proses yang menghasilkan energi seperti sistem proses yang melibatkan reaksi eksotermik atau menyerap panas agar kondisi sistem di bawah suhu ruang atau suhu sekitar. Untuk penyerap panas agar suhu di bawah suhu ruang biasanya pabrik menggunakan refrigerant (fluida pendingin), bahan yang sama dengan yang bekerja pada lemari es. Penggunaan air sebagai media pendingin juga dibatasi sifat fisiknya, yaitu titik didih dan titik beku. Suhu air pendingin perlu dikembalikan ke suhu sekitar atau suhu ruang agar bisa difungsikan kembali sebagi pendingin. Sistem pemroses yang melakukan ini adalah cooling tower.

Cooling tower, boiler dan tungku pembakaran (dapur / furnace) merupakan sistem sistem pemroses untuk sistem penyedia panas dan sistem pembuang panas. Kedua sistem proses ini bersama-sama dengan sistem penyedia udara bertekanan, sistem penyedia listrik (power plant) dan air bersih (water treatment) untuk kebutuhan produksi merupakan sistem penunjang berlangsungnya sistem proses utama yang dinamakan sistem utilitas. Kebutuhan sistem utilitas dan kinerjanya tergantung pada seberapa baik sistem utilitas tersebut mampu ‘melayani’ kebutuhan sistem proses utama dan tergantung pada efisiensi penggunaan bahan baku dan bahan bakar.

Pabrik tidak harus mempunyai sistem pemroses utilitas sendiri.Listrik misalnya, pabrik bisa membelinya dari PLN jika kapasitas PLN setempat mencukupi atau membeli dari pabrik tetangga. Demikian pula untuk unit pengolahan limbah, unit penyedia uap air & air pendingin dan unit penyedia udara bertekanan

07 Juni 2011

Menulis Dengan Pena

Pada malam ini, aku tidak bisa mengakhiri hari ini dengan tidur yang lelap, rasa kantuk mengetuk ragaku tapi tidak pikiranku yang menginginkan jiwaku tetap terbangun. Dalam masa ini, aku mencoba menoleh kebelakang dan menerawang ke depan. Adakah jejak tertinggal di belakangku dan adakah petunjuk untuk jalan ke depan ? Dan aku masih sendiri dalan sebuah halte persimpangan jalan menunggu yang tak pasti datang atau aku harus memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Kubuka kembali buku hitamku, melihat kembali 2 lembar kalender yang telah terlewati di pulau ini. aku masih menangis melihat masa masa itu ... itulah aku yang tertuang dalam ukiran pena hitam dan tebal. Banyak cerita haru yang tertera dalam catatan kertas kumal itu, tetapi banyak penghiburan setelah aku melaluinya. Bapa menyediakan segala sesuatu yang aku perlukan dalam menjalani hidup dan meperlengkapi aku dalam melawan tantangan hidup. Kusadari jiwaku sangat rapuh dan semangatku seperti api terduduk dalam batang lilin yang seketika akan mati jika ada hembusan angin ringan. Sebegitu lemahnya aku menghadapi batu kecil perjalananku. Dalam pena hitam dan kertas putih kumal, kutuliskan kembali ratapan itu setapak demi setapak dan sedikitpun tidak terlewati oleh lamunanku. Semua sudah tertulis begitu saja tanpa kurangkai aksara yang indah dan syahdu hingga menyentuh para pembacanya. Tidak ! aku menulis karena aku menangis bukan narsis atau egois tapi aku sedang dalam kondisi kritis. Tak perlu kalian baca dan komentari apa yang kutulis saat ini, karena aku ingin melepaskanya dalam prosa. Kubuta tutup penaku, dan kubiarkan pena itu bersandar dalam tangan kiriku. Dan aku kembali menulis dalam lembaran lembaran kertas putih bergaris. Kususun kembali rencana itu dan kupungut kembali remah semangat yang masih tersisa, kucoba ku sulut kembali dalam doa. Kurajut lagi kata kata yang tak berkamus, kukutip ide kreatifku dan buah inspirasi itu. Aku bisa menulis kembali, dan aku menangis dan tertawa kembali... ternyata aku bisa menulis dan bisa membuat tulisan lagi. Kutulis lagi rencana itu dan aku berdoa agar tuntunNya agar aku bisa melakukannya. Dan kutulis lagi aku apa yang telah aku lakukan dan kutulis semua kesalahanku. Aku belajar untuk menulis rencanaku, melakukannya dan mengevaluasinya .... aku menyediakan kertas, tinta dan pikiranku... Bapa sediakan ruang, waktu dan ide untuk belajar menulis. aku menulis rancangan hidupku, dan aku menulis dengan pena tinta yang sukar kuhapus kembali, manusia tidak luput akan kesalahan. Bapa menyempurnakan tulisanku tanpa aku bisa melihat dalam ratusan lembaran sampai aku menyadarinya ketika aku membacanya kembali. Menulis rangkaian hidup dalam lembaran kertas adalah bagian melakukan rehat dalam perjalanan untuk merenung. Jika ratusan lembar telah kupungut kembali hingga engkau membacanya. Lihatlah, tulisanku sangat sempurna karena Bapa mengoreksinya kembali.
I am Author Of My Life, But I am writting with my pen, So I cannot erase my mistakes

18 Mei 2011

mengubur KOTORAN

Hal-hal tak menyenangkan, seperti duduk di peringkat terbawah di kelas kita, terjadi dalam kehidupan. Hal-hal itu dapat terjadi pada setiap orang. Perbedaan antara orang yang bahagia dengan orang yang yang tertekan hanyalah pada cara mereka bereaksi terhadap kemalangan. Bayangkanlah kita baru saja mengalami suatu sore yang indah di panatai bersamaseorang teman. Ketika anda kembali ke rumah, kita mendapati gundukan kotoran tepat di depan pintu rumah kita. Ada tiga hal untuk diketahui sehubungan dengan gundukan kotoran ini :
  1. Kita tidak memesannya. Ini bukan kesalahan kita
  2. Kita merasa kehabisan akal. Tak ada yang melihat siapa yang menimbun kotoran itu disitu, jadi kita tidak dapat menelpon pelakunya untuk menyikirkan kotoran itu
  3. Bau kotoran itu memenuhi semerbak seluruh rumah kita. Sungguh tak tertahankan
Pada perumpamaan ini, gundukan kotoran di depan rumah kita melambangkan pengalaman pengalaman traumatik yang menimpa kita dalam kehidupan. Seperti halnya dengan kotoran itu, ada tiga hal untuk di ketahui sehubungan dengan tragedi dalam kehidupan kita.
  1. Kita tidak memesannya. Kita berkata, "Kenapa saya ?"
  2. Kita merasa kehabisan akal. Tak seorang pun, sekalipun teman terbaik kita dapat menyingkirkannya
  3. Tragedi itu sangat menyakitkan, penghancur kebahagian kita dan rasa sakit yang ditimbulkannya menghantui sepanjang hidup kita. Sungguh tidak tertahankan
Ada dua cara untuk merespon timpaan gundukan kotoran itu. Cara pertama, membawa kotoran itu kemana mana bersama dengan kita. Kita taruh segenggam ke saku kita, sebagian kita taruh dalam tas kita, dan sebagian dalam baju kita. Kita bahkan menaruhkannya di celana panjang kita. Kita dapati, ketika kita membawa kotoran itu kemana mana, kita kehilangan banyak teman ! Bahkan teman-teman terbaik pun tampaknya tak begitu sering lagi dekat dengan kita. "membawa KOTORAN" kemana - mana adalah perumpamaan untuk keadaan tenggelam dalam depresi, hal hal negatif atau amarah. Itu adalah respon terhadap kemalangan yang lumrah dan dapat kita maklumi. Tetapi kita akan kehilangan banyak teman, karena lumrah dan dapat dimalumi pula jika teman teman kita tidak berada di samping kita jika kita dalam keadaan depresi. Lgipula, dengan cara ini, gundukan kotoran itu sendiri tidak menjadi berkurang, tetapi baunya malah bertambah busuk karena makin matang cara kedua, kita mulai berkerja - mengambil gerobag dorong, sekop dan garu. Kita garu kotoran ke dalam gerobag dorong dan kita membawanya ke belakang rumah dan menguburnya ke kebun belakng rumah kita. Memang sulit dan melelahkan, tetapi kita tahu tak ada pilihan lain. Kadang kita hanya mampu mengatasi separuh gerobag saja dalam sehari, namun kita melakukan sesuatu yang menyelesaikan masalah, daripada hanya mengeluh saja dan terbenam dalam depredsi. Dari hari ke hari, kita menggaru dan mengubur kotoran itu. Dari hari ke hari gundukannya jadi makin berkurang. Kadang, diperlukan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah tiba juga ketika gundukan kotoran di depan rumah kita sudah tidak berbekas lagi. Selanjutnya keajaiban terjadi di belakang rumah kita. Bunga bunga di kebun kita bermekaran dengan warna warni memenuhi semua sudut. Keharuman menyebar sampai ke jalan, sehingga para tetangga dan orang yang lewat pun tersenyum bahagia kareannya. Lalu pohon buah yang tumbuh di sudut taman hampir rubuh karena begitu tergeluyuti oleh buah-buahnya. Dan buahnya sungguh manis ; kita tak dapat membeli buah seperti, tetapi ada begitu banyak buah sehingga kita harus membagikan dengan para tetangga, bahkan orang orang yang lewat dapat menikmati buah yang ajaib itu. "Mengubur KOTORAN" adalah perumpamaan untuk menyambut datangnya tragedi sebagai penyubur bagi kehidupan kita. Itu perkerjaan yang harus kita lakukan sendiri ; tak ada yang dapat membantu kita. Namun dengan menguburnya ke taman hati kita, dari hari ke hari, gundukan rasa sakit itu akan makin berkurang. Bisa saja itu membutuhkan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah akan tiba takala kita tidak ada lagi merasa sakit di dalam hidup kita dan di dalam hati kita, sebuah keajaiban telah terjadi. Bunga bunga kebajikan bermekaran memenuhi seluruh tempat dan harumnya menyebar sampai jauh ke para tetangga kita, teman kia dah bahkan sampai juga ke orang orang yang tak kita kenal. Lalu pohon kebijaksanaan yan tumbuh di sudut taman hati kita menjadi tergelayut karena saratnya buah pencerahan akan hakikat kehidupan. Kita dapat membagi bagikan buah buah yang enak itu dengan gratis, bahkan kepada orang yang tidak kita kenal, tanpa sengaja merencanakannya. Saat kita mengalami hal yang tragis, pelajarilah ... dan tumbuhkan ke taman hati kita. Perluas taman hati kita sehingga kita bisa membutuhkan banyak kotoran untuk menyuburkannya kembali. cerita ini saya kutip dari 108 kisah dari buku berjudul "Si Cacing dan kotoran Kesayangannya" karangan Ajahn Brahmn berjudul"Gundukan Pupuk Kandang" Dalam kehidupan saya, saya banyak melihat, mendengar para nabi, raja, pemimpin dan orang sukses yang sangat saya kagumi. Mereka adalah orang orang yang besar karena kebijaksanaannya, saya meyakini mereka memilki banyak truk untuk mengangkut kotoran dalam kehidupannya dan mereka memilki taman hati yang sangat luas untuk di tumbuh kembangkan.
Maka bila ada tragedi atau kotoran di dalam kehidupan kita, cukup katakan, " horeee ada pupuk kandang untuk kebun ku ..."

merancang Pabrik Kimia (part 3)



Suatu pabrik dirancang dan dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan nilai guna barang. Bahan baku yang awalnya memiliki nilai guna rendah jika diolah dalam pabrik akan menghasilkan suatu produk, baik produk akhir maupun produk intermediate, yang nilai gunanya lebih tinggi. Dengan mengubah nilai guna suatu bahan maka nilai jualnya juga berubah. Nilai jual yang tinggi tentu saja sangat diharapkan oleh semua pabrik karena dari situ perusahaan pengolah mendapatkan laba (profit).

Sistem Pengendalian
Untuk mendapatkan laba yang banyak maka barang yang dihasilkan tentulah harus mempunyai kualitas yang bagus. Kondisi selama proses produksi sangat mempengaruhi kualitas produk. Suatu proses akan berjalan dengan baik jika dioperasikan pada kondisi optimumnya. Oleh karena itu dibutuhkan suatu alat pengendali (controller).
Tugas controller adalah mereduksi signal kesalahan yaitu perbedaan antara signal setting dengan signal aktual. Hal ini sesuai dengan tujuan sistem pengendalian adalah mendapatkan signal aktual (yang diinginkan) sama dengan signal setting. Semakin cepat reaksi sistem mengikuti signal aktual dan semakin kecil kesalahan yang terjadi maka semakin baik kinerja sistem pengendali yang diterapkan.
Jika perbedaan antara nilai setting dengan nilai keluaran relatif besar maka controller yang baik seharusnya mampu mengamati perbedaan ini untuk segera menghasilkan signal keluaran untuk mempengaruhi proses. Dengan demikian sistem secara cepat mengubah keluaran proses sampai diperoleh selisih antara setting dengan keluaran yang diatur sekecil mungkin.
Jenis controller ada beberapa macam. Pertama proportional controller (P) yang memiliki keluaran yang sebanding dengan besarnya kesalahan signal (selisih antara besaran yang diinginkan dengan harga aktualnya). Keluaran proportional controller merupakan perkalian antara konstanta-konstanta proporsional dengan masukannya. Perubahan pada signal masukan akan segera menyebabkan sistem secara langsung mengubah keluarannya sebesar konstanta pengalinya. Apabila nilai konstanta proporsionalnya kecil, proportional controller hanya mampu melakukan koreksi kesalahan yang kecil sehingga akan menghasilkan respon sistem yang lambat. Jika nilai konstanta proporsional dinaikkan, respon sistem menunjukkan semakin cepat mencapai keadaan tunaknya. Akan tetapi jika nilai tersebut diperbesar sehingga mencapai harga yang berlebihan, akan mengakibatkan sistem bekerja tidak stabil atau respon sistem akan berosilasi. Jenis proportional controller biasanya digunakan untuk mengendalikan ketinggian cairan dalam tangki.
Kedua adalah integral controller yang berfungsi menghasilkan respon sistem yang memiliki kesalahan keadaan tunak . Kalau sebuah pabrik tidak memiliki unsur integrator (1/s), proportional controller tidak akan mampu menjamin keluaran sistem dengan kesalahan kondisi tunaknya nol. Integral controller memiliki karakteristik seperti halnya sebuah integral. Keluaran controller sangat dipengaruhi oleh perubahan yang sebanding dengan nilai signal kesalahan. Keluaran controller ini merupakan jumlahan yang terus menerus dari perubahan, keluaran akan menjaga keadaan seperti sebelumnya terjadi perubahan masukan. Dalam pemakaiannya biasanya proportional controller digabungkan dengan integral controller menjadi proportional integral controller (PI). Hasilnya berupa kurva berbentuk gelombang. Controller jenis ini biasanya digunakan untuk mengendalikan tekanan.
Ketiga adalah differential controller yang memiliki sifat seperti halnya suatu operasi derivatif. Perubahan yang mendadak pada masukan controller akan mengakibatkan perubahan yang sangat besar dan cepat. Ketika masukannya tidak mengalami perubahan, keluaran controller juga tidak mengalami perubahan. Differential controller umumnya dipakai untuk mempercepat respon awal suatu sistem, tetapi tidak memperkecil kesalahan pada kondisi tunak. Kerja differential controller hanya efektif pada lingkup yang sempit yaitu pada periode peralihan. Oleh karena itu differential controller tidak pernah digunakan tanpa ada controller lain dalam sebuah sistem.
Setiap kekurangan dan kelebihan dari masing-masing proportional controller, integral dan diferensial dapat saling menutupi dengan menggabungkan ketiganya secara paralel menjadi proportional integral differential controller (controller PID). Elemen-elemen proportional controller, integral dan diferensial masing-masing secara keseluruhan bertujuan untuk mempercepat reaksi sebuah sistem, menghilangkan offset dan menghasilkan perubahan awal yang besar. Controller jenis ini biasanya digunakan untuk mengendalikan suhu dan laju alir dalam sebuah reaktor.

Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia
Guna menjalankan suatu proses di pabrik tidak hanya dibutuhkan teknologi yang canggih dan instrumentasi yang terkendali. Tetapi juga sumber daya manusia sebagai perancang, pelaksana dan pengendali proses. Secara fungsional suatu perusahaan dipimpin oleh seorang direktur utama yang bertugas menjalankan kepemimpinan perusahaan, menetapkan sistem dan tata kerja perusahaan dan menentukan kebijaksanaan perusahaan. Direktur utama memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan.
Seorang direktur utama dibantu oleh beberapa direktur, kepala bagian, kepala seksi dan koordinator shift. Jumlah karyawan dari tingkat operator ke tingkatan lebih tinggi akan membentuk sebuah piramida. Artinya semakin ke atas jumlahnya semakin kecil.
Untuk pabrik-pabrik yang menggunakan sistem Continue (24 jam sehari dan 330 hari dalam setahun), karyawannya dibedakan menjadi 2 macam. Pertama karyawan regular yang mempunyai jam kerja tetap. Mereka bekerja setiap hari kerja dan libur pada hari Sabtu, Minggu dan hari besar. Kedua adalah karyawan shift yang terbagi dalam 4 regu dan dalam sehari terdapat 3 regu shift sedangkan 1 regu shift libur. Pembagian shift diatur sedemikian rupa sehingga sehabis shift malam, karyawan mendapat libur 2 hari. Biasanya dalam 1 kelompok shift terdapat seksi proses, utilitas, logistik, listrik dan instrumentasi, bengkel, safety dan keselamatan kerja. Ini biasanya berlaku pada pabrik-pabrik besar, seperti pabrik pembuatan keramik, atau pabrik-pabrik kimia lainnya.
Sedangkan untuk pabrik yang menggunakan sistem Batch, seperti pabrik-pabrik pembuatan makanan (tempe, tahu), tidak diberlakukan karyawan shift, artinya karyawan bekerja secara regular setiap hari.

Uji Kelayakan Ekonomi
Suatu pabrik layak didirikan jika telah memenuhi beberapa syarat antara lain safety-nya terjamin dan tentu saja dapat mendatangkan profit. Dalam hal ini kita akan memfokuskan pada kelayakan secara ekonomi saja. Untuk mendirikan suatu pabrik diperlukan modal yang cukup besar. Modal ini bisa berasal dari investor maupun dari pinjaman bank. Modal yang digunakan ada 2 macam yaitu modal tetap dan modal kerja. Modal tetap meliputi pembelian alat-alat, instalasi, pemipaan, instrumentasi, isolasi (jika perlu), listrik, utilitas, bangunan, tanah, engineering and construction, contractor’s fee dan contingency. Modal kerja besarnya tergantung pada jenis pabrik dan kapasitasnya. Modal kerja ini meliputi raw material inventory, in process inventory, product inventory, extended credit dan available cash.
Kedua modal di atas digunakan untuk biaya produksi yang terbagi menjadi 3 macam yaitu biaya produksi langsung, biaya produksi tidak langsung dan biaya tetap. Biaya produksi langsung adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk pembiayaan langsung suatu proses, seperti bahan baku, buruh dan supervisor, perawatan, plant supplies, paten dan royalty dan utilitas. Biaya produksi tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendanai hal-hal yang secara tidak langsung membantu proses produksi, antara lain payroll overhead (seperti rekreasi karyawan), laboratorium, plant overhead, packing dan pengapalan. Biaya tetap adalah biaya yang tetap dikeluarkan baik pada saat pabrik berproduksi maupun tidak. Biaya ini mencakup depresiasi, pajak dan asuransi. Selain itu ada juga biaya umum yang meliputi administrasi, sales expenses, penelitian dan finance. Laba atau profit diperoleh dari hasil pengurangan harga jual dengan biaya produksi.
Selain berorientasi pada perolehan profit, perusahaan juga harus bisa mengembalikan modal apalagi jika modal itu berasal dari pinjaman. Waktu untuk pengembalian modal dinyatakan dengan persentase Return On Investment (ROI) yang dirumuskan sebagai perbandingan laba dengan modal tetap. Bisa juga dinyatakan dalan Pay Out Time (POT). Besarnya Return On Investment dan Pay Out Time berbeda untuk tiap jenis pabrik tergantung dari resiko yang ditimbulkan oleh proses dalam pabrik .
Uji kelayakan ekonomi juga dinyatakan dalam bentuk grafik hubungan kapasitas produksi dan biaya yang harus dikeluarkan. Akan terbentuk 2 buah titik yaitu Shut Down Point dan Break Even Point. Shut Down Point adalah suatu titik di mana pada kondisi itu jika proses dijalankan maka perusahaan tidak akan mendapatkan laba tetapi juga tidak menimbulkan kerugian. Jika pabrik beroperasi pada kapasitas di bawah titik Shut Down Point maka pabrik akan mendapatkan rugi. Titik Break Even Point adalah keadaan yang timbul jika pabrik beroperasi pada kapasitas penuh. Nilai Break Even Point yang baik untuk pabrik kimia biasanya berkisar antara 40% – 60%.
Dengan memperhatikan semua unsur, dari pemilihan lokasi, pemilihan teknologi, kapasitas, teknologi proses dan pemroses serta ditunjang dengan pengendalian proses dan sistem manajemen sumber daya manusia yang baik, maka dapat diperoleh laba yang optimum.

sumber : situs kimia indonesia

15 Mei 2011

Ramalan Perpecahan NKRI 2015



Djuyoto Memprediksi Tahun 2015 Indonesia Pecah. Beragam reaksi dan tanggapan muncul ketika prediksi tentang masa depan Indonesia, yang juga dijadikan judul buku oleh Djuyoto Suntani, itu muncul dalam acara Dialog Kebangsaan yang berjudul Indonesia: Kemarin, Kini dan Esok sekaligus peluncuran buku tersebut. Komentar bernada pesimis, optimis, hingga rasa tidak percaya silih berganti diberikan oleh berbagai pihak yang hadir di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial kemarin. Mungkinkah Indonesia benar-benar akan ‘pecah’ pada tahun 2015?

Djuyoto Suntani, sang penulis buku, menyatakan dalam bukunya paling tidak ada tujuh faktor utama yang akan menyebabkan Indonesia “pecah” menjadi 17 kepingan negeri-negeri kecil di tahun 2015. Kepingan negeri-negeri kecil itu sendiri menurutnya didirikan berdasarkan atas:
  1. Kepentingan rimordial (kesamaan etnis),
  2. Ikatan ekonomis (kepentingan bisnis),
  3. Ikatan kultur (kesamaan budaya),
  4. Ikatan ideologis (kepentingan politik), dan
  5. Ikatan regilius (membangun negara berdasar agama).
Penyebab pertama adalah siklus tujuh abad atau 70 tahun. Dalam bukunya ia menuliskan;
“Seperti kita ketahui, semua yang terjadi di alam ini mengikuti suatu siklus tertentu. Eksistensi suatu bangsa dan negara juga termasuk dalam suatu siklus yang berjalan sesuai dengan ketentuan hukum alam. Dia mengambil contoh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa pada abad 6-7 M di mana waktu itu rakyat di kawasan Nusantara bersatu di bawah kepemimpinannya. Memasuki usia ke-70 tahun kerajaan itu mulai buyar dan muncul banyak kerajaan kecil yang mandiri berdaulat. Alhasil, di awal abad ke-9 nama Kerajaan Sriwijaya hanya tinggal sejarah. Tujuh abad kemudian (abad 13-14 M) lahir Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur sekarang. Kerajaan besar itu berhasil menyatukan kembali penduduk Nusantara. Namun, kerajaan ini pun bernasib sama dengan Sriwijaya. Memasuki usia ke-70 pengaruhnya mulai hilang dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Nama Majapahit pun hilang ditelan bumi. Tujuh abad pasca-jatuhnya Majapahit, di tahun 1945 (abad 20) rakyat Nusantara kembali bersatu dalam suatu ikatan negara bangsa bernama Republik Indonesia (abad 20-21). Tahun 2015 akan bertepatan RI merayakan HUT-nya yang ke-70″.


Dia pun menyatakan,
“Selama ini saya selalu optimis, tapi melihat perkembangan di lapangan, apa yang terjadi pada sesama anak bangsa, sungguh mengenaskan. Irama perpolitikan nasional dewasa ini mengisyaratkan hitungan siklus bersatu dan bubar dalam tujuh abad, 70 tahun tampaknya kembali terulang. Berbagai fenomena alam yang menguat ke arah bukti kebenaran siklus sudah banyak kita saksikan. Pertengkaran sesama anak bangsa, terutama elite politik, tidak kunjung selesai, tulis Djuyoto. Penyebab kedua, Indonesia telah kehilangan figur pemersatu bangsa. Setelah Ir Soekarno dan HM Soeharto, tidak ada tokoh nasional yang benar-benar bisa mempersatukan bangsa ini. Masing-masing anak bangsa selalu merasa paling hebat, paling mampu, paling pintar, dan paling benar sendiri. Para tokoh nasional yang memimpin negeri ini belum menunjukkan berbagai sosok negarawan karena dalam memimpin lebih mengutamakan kepentingan politik golongan/kelompok daripada kepentingan bangsa (rakyat) secara luas. Kehilangan figur tokoh pemersatu adalah ancaman paling signifikan yang membawa negeri ini ke jurang perpecahan”. Katanya tegas.

Pertengkaran sesama anak bangsa yang sama-sama merasa jago dan hebat, masing-masing punya kendaraan partai, punya jaringan internasional, punya dana/uang mandiri, punya akses, merasa punya kemampuan jadi Presiden; merupakan penyebab ketiga Indonesia akan pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil. Masing-masing tokoh ingin menjadi nomor satu di suatu negara. Fenomena ini sudah menguat sejak era reformasi yang dimulai dengan diterapkannya UU Otonomi Daerah.

Salah satu penyebab Indonesia akan pecah di tahun 2015 karena adanya konspirasi global. Ada grand strategy global untuk menghancurkankeutuhan Indonesia. Ada skenario tingkat tinggi yang ingin menghancurkan Indonesia atau bahkan menghilangkan nama Indonesia sebagai negara bangsa, tegasnya. Konspirasi global ini, Djuyoto Suntani melihat, terus bergerak dan bekerja secara cerdas dengan menggunakan kekuatan canggih melalui penetrasi budaya, penyesatan opini, arus investasi, berbagai tema kampanye indah seperti demokratisasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, modernisasi, kebebasan pers, kemakmuran, kesejahteraan, sampai pada mimpi-mimpi indah lewat bisnis obat-obatan terlarang dengan segmen generasi muda.

Penyebab utama kelima Indonesia akan”‘pecah” dalam penilaiannya adalah faktor nama. Apa yang salah dengan nama? Ternyata, nama Indonesia sesungguhnya berasal dari warisan kolonial Belanda yakni East-India atau India Timur alias Hindia Belanda. Kalangan tokoh politik Belanda tingkat atas malah sering menyebut Indonesia dengan singkatan: In-corporate Do/e-Netherland in-Asia atau kalau diartikan secara bebas nama Indonesia sama dengan singkatan Perusahaan Belanda yang berada di Asia. Pemberian nama Indonesia oleh Belanda memang memiliki agenda politik tersembunyi sebab Belanda tidak rela Indonesia menjadi bangsa dan negara yang besar. Nama orisinil kawasan negeri ini yang benar adalah Nusantara, yang berasal dari kata Bahasa Sansekerta Nusa (pulau) dan Antara. Artinya, negara yang terletak di antara pulau-pulau terbesar dan terbanyak di dunia sebab negara kita merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Bila para anak bangsa tahun 2015 mampu menyelamatkan keutuhan negeri ini sebagai satu bangsa, salah satu opsi adalah dengan penggantian nama dari Indonesia menjadi Nusantara. Nama Nusantara lebih relevan, orisinil, berasal dari jiwa bumi sendiri dan lebih membawa keberuntungan, pesan Djuyoto. Namun, karena perpecahan sudah di ujung tanduk, salah satu agenda dalam membangun komitmen baru sebagai bangsa dalam pandangannya adalah dengan cara (perlu direnungkan) mengganti nama Indonesia menjadi Nusantara. Karena, nama memiliki arti serta memberi berkah tersendiri. Tidak hanya nama Indonesia yang bisa menjadi penyebab negeri ini pecah, nama Jakarta pun ternyata ikut berpengaruh terhadap keutuhan republik ini.

Nama Jakarta, Djuyoto mengungkapkan, memiliki konotasi negatif bagi sebagian besar masyarakat. Bila kita ingin menyelamatkan Indonesia dari ancaman perpecahan serta punya komitmen bersama untuk membawa negara ini menjadi negara besar yang dihormati dunia internasional, maka nama ibukota negara seyogianya dikembalikan kepada nama awalnya yaitu Jayakarta. Nama Jayakarta lebih tepat sebagai roh spirit Ke-Jaya-an Ibukota negara daripada nama Jakarta, sarannya.

Penyebab terakhir pecahnya Indonesia adalah gonjang ganjing pemilihan Presiden tahun 2014. Dia menyatakan dalam Pilpres 2009 bisa saja sejumlah tokoh yang kalah masih mampu mengendalikan diri tapi gejolak massa akar rumput yang berasal dari massa pendukung tidak mau menerima kekalahan jago pilihannya. Mereka lalu mempersiapkan diri untuk maju bertarung lagi pada Pilpres 2014. Pilpres 2014 adalah puncak ledakan dashyat gunung es yang benar-benar membahayakan integrasi Indonesia. Menurut Djuyoto dari informasi yang ia peroleh di seluruh penjuru Tanah-Air, indikasi karena gengsi kalah bersaing dalam Pilpres Indonesia lantas mengambil keputusan radikal dengan mendeklarasikan negara baru bukanlah sekedar omong kosong tapi akan terbukti. Pergolakan alam negeri ini seperti gunung es yang tampak tenang di permukaan namun setiap saat pasti meletus dengan dashyat.

Djuyoto Suntani menjelaskan, pada Pilpres 2014 bakal bermunculan figur dari berbagai daerah yang mulai berani bertarung memperebutkan kursi RI-1 untuk bersaing dengan tokoh nasional di Jakarta. Para tokoh daerah sudah dibekali modal setara dengan para tokoh nasional di Jakarta. Jika mereka kalah dalam Pilpres 2014, karena desakan massa pendukung, opsi lain adalah mendirikan negara baru, melepaskan diri dari Jakarta. Gonjang ganjing Indonesia sebagai bangsa akan mencapai titik didih terpanas pada Pilpres 2014. Jika kita tidak mampu mengendalikan keutuhan negeri ini, tahun 2015 Indonesia benar-benar pecah. Para Capres Indonesia 2014 yang gagal ramai-ramai akan pulang kampung untuk mendeklarasikan negara baru. Mereka merasa punya kemampuan, punya harga diri, punya uang, punya jaringan dan punya massa/rakyat pendukung. Perubahan dan pergolakan politik nasional pada tahun 2014 diperkirakan bisa lebih dashyat karena tidak ada lagi figur tokoh pemersatu yang dihormati dan diterima oleh seluruh bangsa.

Agar Indonesia tidak pecah, dia menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bersatu. Dia berharap seluruh bangsa menyadari ancaman yang ada di depan mata dan kemudian saling bergandengan tangan bersatu untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa. Djuyoto bilang buku ini ditulis sebagai peringatan dini, sebagai salah satu wujud untuk berupaya menyelamatkan Indonesia dari ancaman kehancuran. Dengan adanya buku ini diharapkan semoga anak-anak bangsa mulai menyadari bahwa hantu Indonesia pecah sudah berada di depan mata. Kalau sudah paham, diharapkan mulai tumbuh kesadaran dari dalam hati lalu secara bersama-sama mengambil langkah untuk mencegah.

ke 18 negara itu antara lain.
  1. Naggroe Atjeh Darrusallam : Banda Atjeh
  2. Sumatra Utara : Medan
  3. Sumatra Selatan : Lampung
  4. Sunda Kecil : Jakarta
  5. Jamar (Jawa Madura) : Surakarta
  6. Yogyakarta : Yogyakarta
  7. Kalimantan Barat : Pontianak
  8. Kalimantan Timur : Samarinda
  9. Ternate Tidore : Ternate
  10. Sulawesi Selatan : Makassar
  11. Sulawesi Utara : Manado
  12. Nusa Tenggara : Mataram
  13. Flobamora & Sumba: Kupang
  14. Timor Leste : Dili
  15. Maluku Selatan : Ambon
  16. Maluku Tenggara : Tual
  17. Papua Barat : Jayapura
  18. Negara Riau Merdeka
Sumber : MILIS