Shelomita, seorang gadis kecil tergurai lemah tak berdaya dalam kasur tipisnya, bermukim di rumah liar tiban dengan ukuran 2x2 meter tanpa air, dan penerangan disitulah gadis kecil itu tinggal. Sang ayah, anwar yuadi (29) yang terus membelai putri kecilnya itu hanyalah seorang buruh bangunan upahan dan ibunya, siska (24) tidak berkerja untuk menjaga Shelomita putri keduanya itu. Penyakit yang dialami Shelomita adalah hydrochepallus yang membuat tubuhnya tulang dibalut dengan kulit. Shelomita telah menderita akan penyakit selama 11 bulan sejak ia berusia 1 tahun.
Apa daya sang ayah dan ibu ? Pasangan Anwar dan Siska sudah melakukan beberapa pengobatan di beberapa rumah sakit di kota batam tetapi karena permasalahan biaya yang besar; paspor dan buku nikah sang ayah harus di tahan hingga sang ayah bisa melunasi biaya pengobatan walaupun gadis kecil itu tak juga kunjung sembuh.
Kabar terakhir, hasil pemeriksaan di rumah sakit awal bros melaporkan bahwa penyakit Shelomita ssaat ini sangat sulit untuk disembuhkan. Hasil pemeriksaan ditambah kesulitan ekonomi keluara tentu saja hal ini sangat memberatkan bagi kedua orang tua.
Apa upaya yang bisa dilakukan sang ayah dan ibu di saat mereka tidak mereka memiliki ASKESKIN yang dikarenakan sang ayah tidak mempunyai KTP walaupun sang ayah sudah bertahun-tahun tinggal di kota batam. Tiada bantuan dari sanak keluarga maupun dari pemerintah setempat, tiada kepekaan sekalipun dari pihak pemerintah yang bahwasanya merupakan tanggung jawab terhadap masyarakat yang terpinggirkan.
Beberapa mahasiwa/i yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Batam datang ke pemukiman rumah liar untuk menjenguk gadis kecil yang lahir di palembang itu Kondisi shelomita tentu saja menyentuh hati mahasiswa/i ini dan tidak ada niat untuk mengabaikanya. Setelah melakukan diskusi dengan rekan-rekan di GMKI cabang Batam, para mahasiswa/i ini turun ke jalan melakukan aksi sosial mengumpulkan sumbangan. GMKI cabang Batam berkumpul di sekretariat bertempat di perumahan Duta Mas turun dan menyebar di tiga persimpangan jalan yaitu simpang Jam, Simpang Gelael dan Simpang Kabil pada tanggal 7-8 agustus 2010. Dalam segala upaya mereka mencoba menyentuh hati masyarakat kota batam untuk memberikan sumbangan untuk biaya pengobatan Shelomita. Selain turun ke jalan, para pemuda ini juga ikut mengumpulkan bantuan sembako dari anggota forum senior GMKI Provinsi KEPRI untuk membantu memenuhi kebutuhan Hidup keluarga Shelomita.
Shelomita tidaklah sendiri dalam menanggung deritanya, ribuan masyarakat marginal di kota batam juga memiliki beban yang sama. Tidak semua mereka memiliki ASKESKIN yang sepeti di gegmbor-gemborkan oleh pemerintah. Sulitnya pembuatan KTP dan administrasi menjadi batu sandungan kecil yang sulit bagi kita terima kenyataannya. GMKI Cabang Batam akan terus melakukan kajian akan kasus hambatan fasilitas kesehatan terhadap mereka yang di pinggirkan.
Semoga kegiatan yang dilakukan para mahasiswa/i ini menjadi inspirasi bagi pemerintah masyarakat kota batam yang tengah hidup dalam kegermelapan kota ini, bahwa setiap bencana yang di derita oleh masyarakat terpinggirkan merupakan tanggung jawab kita bersama.
Saya penulis blog ini melihat sisi lain akan kegiatan para mahasiswa ini, bahwa sesungguhnya ada kasih dan mujizat yang terjadi karena hasil dari pengumpulan dana itu ternyata berlebih dari yang saya perhitungkan.
Sebelumnya saya begitu pesimis akan berhasilnya aksi turun ke jalan ini, apakah dengan logo perisai bersalib itu mereka mampu menyentuh para warga yang penuh fanatisme agama yang kental. Ternyata alam dan pos polisi persimpangan menjadi saksi bahwasanya ada kasih yang muncul dalam sumur para pelintas jalan di persimpangan itu. Walaupun ada para tidak mengacuhkan mahasiswa/i itu tetapi dana yang terkumpul Rp 15.963.000,- membuat mata saya terbalalak dan terkejut.
Mahasiswa/i yang ikut terlibat dalam kegiartan ini bukanlah pribadi pribadi yang berpengalaman, dan pengakuan mereka aksi merupakan hal yang pertama tampak dari respon mereka yang sangat nervous harus menjadi pengemis jalanan tapi bukan untuk kepentingan pribadi tapi hanya Shelomita. Doa dan semangat yang mereka jadikan motivasi sehingga tanggalkan harga diri mereka.
Cerita mereka ketika para pengojek jalanan memberikan 1 kardus minuman mineral, para aparat keamanan di setiap pos persimpanagan juga ikut memberikan sumbangan dan menjaga ketertiban. Tidak sekalipun para aparat ini melakukan pungutipan liar seperti dogma masyarakat pikirkan. Saya tersadarkan untuk mencoba segala sesuatu tanpa harus percaya apa yang kita perhitungkan secara logika, karena Tuhan berkerja tidak seperti kita perhitungkan.
Setiap lahan tandus dan kering bukan berarti tidak ada sumber mata air yang jernih yang bisa kita minum bersama jika kita mau menggali lebih dalam. Ada kasih yang tersimpan dan terselubung bagi mereka ciptaan Tuhan, hanya bagaimana kita bisa menggali hati mereka yang paling dalam.
Semoga cepat sembuh adinda shelomita, doa ku serta kan mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar