Pak Jasman, sesepuh di perusahaan ku ini mengingatkan ku untuk mampir di green mart untuk mengangkut barang barang sembako yang sudah disumbangkan segelintir karyawan nasrani untuk sebuah panti asuhan. Aku menganggukan kepala ku, aku sangat lelah saat itu karena perkerjaan yang menumpuk dan tak terselesaikan saat hari itu. Di green mart, kuangkut semua karung beras, botol kecap dan kardus mie instan ke dalam mobil avanza merah. Dalam kelelahan dan kejenuhan aku pergi meluncur di jalan jalan panjang itu. Sahabat ku Ega sudah menunggu di tempat kediaman pak jasman, kami sudah berjanjian untuk ikut berkunjung bersama dalam pemberian "berkat" itu. Dalam suasana gelap karena mentari sudah kembali pulang dalam perkerjaannya, mentari sudah berganti shift dengan bulan disertai bintang-bintang aku tetap saja belum sempatkan istirahat apalagi untuk makan malam padahal saat itu perut ku sudah LAL (low alarm level).
Tidak ada percakapan yang bermakna dalam perjalanan kami hingga kemacetan jalan memperlambat lajunya avanza merah itu. Sekedar diskusi akan kurang banyaknya rekan rekan kerja yang ikut andil dalam kegiatan sumbangan ini dan diskusi itu tak juga menghasilkan kesimpulan.
Dalam kebingungan jalan jalan gelap, akhirnya kami sampai dalam sebuah yayasan yang bernama berkat bangsa, nama yang membuat ku merenung .. apa arti nama itu ?. Gedung Kecil beralamat sumbawa no.14 itu layak pakai sebagai rumah keluarga, bukan rumah panti karena ukurannya yang sangat kecil. Tidak ada mobil beparkir dalam rumah itu dan yang hanya terlihat kumpulan pakaian pakaian yang terjemur beserta mesin cuci yang sangat sederhana. Sapaan "syaloom!!" keluar dari pak jasman dan seketika itu aku melihat puluhan anak dan remaja sedang bersiap menyantap makan malamnya ... dan kami disambut oleh ibu asuh mereka yang belum ku ketahui namanya. Sambil menunggu mereka selesai makan malam, pak jasman dan ega bercakap ringan dengan ibu asuh itu, aku melangkah ke jendela untuk melihat para anak dan remaja itu menyantap makan malam yang sederhana itu, hanya dengan lauk tempe goreng sambal, sayur dan nasi putih secukupnya. Sangat berbeda dengan yang sering aku santap. Mereka duduk dan makan bersama, dan remaja itu juga memnyuapkan makanan kepada para balita yang belum lihai dalam mengatur santapannya. Dalam ruangan yang penuh dengan sepatu dan buku buku sekolah.
Setelah mereka selesai makan, berhamburan mereka keluar dan menyalami saya, ega dan pak jasman. Dari remaja hingga balita berebut menyalami selayaknya aku adalah orang yang terhormat ataupun di idolakan. Saat ku buka bagasi mobil avanza, mereka pun berebut mengambil barang barang sembako tersebut.
Sebelum ibu asuh itu mengajka kami masuk, kuliahat si gadis kecil menyapu ruangan itu bersama dengan lainnya, tanpa perintah maupun teguran dari pengasuh. Setelah gadis kecil itu selesai mengerjakan pembersihannya, si ibu asuh itu mengajak kami untuk masuk dan duduk bersama dalam ruangan itu.
Ega, sahabat ku adalah seorang guru sekolah minggu duduk bersama pak jasman untuk memberikan wejangan bersama adik adik kecil itu. Aku mengambil posisi sudut ruangan agar bisa berdiskusi dengan si ibu asuh itu. Kulihat sekeliling ruangan, terpampang photo photo kebersamaan mereka dalam mengarungi kehidupan yang mereka yang tidak memiliki maupun mengenal orang tua mereka.
Seiring ega dan pak jasman bercerita kepada adik adik kecil itu, aku mengamati satu persatu mereka yang ditinggal sepi oleh dunia sekuler, mereka yang ditinggal pergi oleh orang tua mereka, mereka yang tak kenali siapa orang tua mereka. Aku bercakap cakap dengan ibu asuh siapa saja gerangan mereka ? dan kenapa sang takdir menitipkan mereka di panti asuhan ini dan kenapa mereka terabaikan oleh mereka penguasa penguasa pemberi janji sejahtera.
ibu itu menjawab satu persatu semua tanda tanya ku... sebutlah seorang adik kecil yang berusia 3 tahun bernama cinta eklesia, yang harus ditinggal pergi ibunya yang menjadi TKW di malaysia untuk menembus ayahnya yang dipenjara. Sebut juga jonatan, bocah berdarah palembang dan manado itu, ayahnya pergi dipanggil Tuhan di masa kecilnya dan ibunya menikah lagi dan meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas. Kulihat lagi seorang gadis remaja yang manis itu yang serius mendengarkan wejangan ega dan pak jasman, dia tak mengenal siapa orang kandungnya dan awalnya dia diadopsi oleh keluarga yang tidak memiliki keturunan, seketika telah lahir seorang anak dari dari darah daging keluarga itu, gadis kecil itu diperlakukan buruk dan dan tdak di sekolahkan lagi, hingga akhirnya gadis kecil itu dilarikan tetangganya dan ditampung oleh dinas sosial itu, dan dinas sosial itu menitipkan ke panti ini.
Dan ibu asuh it juga menceritakan kesulitan adik adik kecil dalam mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Mahalnya buku buku paket ynag dijualkan pihak sekolah dan buku itu hanya harus dibeli melalui sekolah, apakah buku paket itu memiliki ilmu pasti dibanding buku buku yang bisa disumbangkan oleh para pemerhati.... memang aneh pendidikan di negeri ini, pantas saja ada slogan "orang miskin dilarang sekolah". Tanpa bantuan biaya kesehatan dari negara, panti ini kesulitan ketika harus melakukan biaya pengobatan karena biaya yang mahal dan tiada dana cash yang dimiliki.
Tidak ada opini dan solusi yang bisa ku utarakan untuk menanggapi pernyataan itu. Kunjungan itu pun di sudahi dengan doa yang dibawakan oleh salah satu adik kecil itu. Dia masih bocah ingusan, tapi rangkaian kata dan kata dalam doanya adalah dari hatinya, dia tidak menolak ketika dia dianjurkan untuk berdoa penutup, padahla rekan rekan kerja ku dan kawan kawan ku agak sukar untuk disuruh membawakan doa.
Sebelum kami memasuki mobil, sekali lagi mereka berebut salam sambil mengucapkan "Tuhan berkati Oom !!", tertegun aku mendengar perkataan itu. Dalam perjalanan pulang ucapan itu terus terngiang dalam telinga ku ....."Tuhan berkati Oom !!"
Sepanjang hidup ku, para sahabat dan keluarga ku selalu menggunakan kata yang trend "GBU" yang lebih singkat dan ngetren pakai bahasa inggris. Tetapi ucapan mereka "Tuhan berkati Oom !!" sambil menyalam dan meletakan ke dahinya, aku merasa perkataan itu keluar dari hati mereka
tiada kata yang bisa diucapkan, tiada rasa yang bisa kunyatakan, tapi ada doa yang bisa kupanjatkan... bertahanlah adik adik ku ....
dalam syukur aku rebahkan badan ku ... dan bertanya kembali " apa arti nama berkat bangsa itu ?" .. ketika mata hendak tertutup menyambut tidur ku ... sekali lagi kudengar dalam telinga ku ...
Tuhan berkati Oom !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar