
Setiap menjelang fajar menyingsing, gadis kecil itu pergi ke pantai. Ia memungut bintang laut yang terdampar di pantai dan melemparnya kembali ke laut. Bintang-bintang laut yang terdampar bertebaran di pantai. Jika bintang-bintang laut itu tidak bisa kembali ke air saat matahari terbit, mereka akan mati.
Gadis kecil itu terus menyusuri pantai, memungut bintang laut yang terdampar, lalu melemparnya ke dalam air. Kaki-kaki kecil gadis itu menciptakan jejak-jejak di pasir. Tapi jejak-jejak itu tidak pernah bertahan lama. Ombak yang datang kemudian akan segera menghapusnya.
Pagi itu, di pantai yang sama, berdiri seorang kakek tua yang berada di senja hidupnya. Ia memandangi ombak yang menghapus jejak di pasir sembari memikirkan apa saja yang sudah ia lakukan sepanjang hidupnya.
Sementara itu, gadis kecil yang memungut dan melempar bintang laut ke air, tiba di dekat kakek tua itu. Keringat telah meleleh di kening dan tepi pipi gadis kecil.
“Pantai ini membentang hingga jauh sekali, dan ada ribuan bintang laut terdampar,” ujar Si Kakek. “Bagaimana yang kau lakukan ini bisa menghasilkan sesuatu yang berarti, Anakku?”
“Akan ada artinya bagi yang satu ini, Kakek,” seru gadis kecil sambil melempar seekor bintang laut di tangannya ke dalam air.
Angin pagi di pantai itu tersenyum pada bintang laut yang berenang-renang, dan membelai lembut untaian rambut gadis kecil yang bergoyang-goyang.
(sumber :kumpulan cerita anak religi karya Wikan Satriati yang berjudul “Gadis Kecil Penjaga Bintang”)
Dalam cerita ini saya merenungkan kembali makna pahlawan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika isu pahlawan nasional menghiasi seluruh stasiun televisi indonesia, dan ketika perdebatan kita sehari hari mencari kelayakan sejumlah tokoh untuk dihargai menjadi pahlawan nasional. Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Apa dan Siapa Pahlawan itu ? Bisakah kita menjadi pahlawan ...?
Apakah gelar pahlawan memerlukan segudang kriteria yang harus diperdebatkan dalam panitia khusus di negara ini ? Ketika tokoh tersebut harus tercetak bsear dalam rubrik media massa dan elektronik ia harus dinyatakan seorang pahlawan ? Ku merenung dalam keheningan sepi tanpa sahabat yang bisa ku ajak berdebat akan perihal ini.
Seorang Ibu harus makan 1x sehari agar keluarganya bisa makan 3x sehari, seorang kuli kapal harus mengangkut beban yang berat di sekitar pelabuhan agar beban keluarganya ringan. Seoarang kakak tidak sekolah agar adik kecilnya bisa sekolah. Seorang hansip berjaga malam menahan kantuk agar perumahan itu aman dari pencurian walau ia tidak mengenal siapa warga perumahan tersebut dan sebaliknya.
Pahlawan adalah tidak jemu tawarkan kebaikan walau ia tidak mengenal siapa yang berikan kebaikan dan terlupakan oleh mereka ia berikan kebaikan. Ia tidak pernah dihargai, dikenal tetapi ia ada untuk setiap mereka yang membutuhkan walau kebaikan itu perkara kecil dan sederhana atau pengorbanan itu besar dan tak terhitung.
Selamat Hari Pahlawan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar