Hal-hal tak menyenangkan, seperti duduk di peringkat terbawah di kelas kita, terjadi dalam kehidupan. Hal-hal itu dapat terjadi pada setiap orang. Perbedaan antara orang yang bahagia dengan orang yang yang tertekan hanyalah pada cara mereka bereaksi terhadap kemalangan.
Bayangkanlah kita baru saja mengalami suatu sore yang indah di panatai bersamaseorang teman. Ketika anda kembali ke rumah, kita mendapati gundukan kotoran tepat di depan pintu rumah kita. Ada tiga hal untuk diketahui sehubungan dengan gundukan kotoran ini :
- Kita tidak memesannya. Ini bukan kesalahan kita
- Kita merasa kehabisan akal. Tak ada yang melihat siapa yang menimbun kotoran itu disitu, jadi kita tidak dapat menelpon pelakunya untuk menyikirkan kotoran itu
- Bau kotoran itu memenuhi semerbak seluruh rumah kita. Sungguh tak tertahankan
Pada perumpamaan ini, gundukan kotoran di depan rumah kita melambangkan pengalaman pengalaman traumatik yang menimpa kita dalam kehidupan. Seperti halnya dengan kotoran itu, ada tiga hal untuk di ketahui sehubungan dengan tragedi dalam kehidupan kita.
- Kita tidak memesannya. Kita berkata, "Kenapa saya ?"
- Kita merasa kehabisan akal. Tak seorang pun, sekalipun teman terbaik kita dapat menyingkirkannya
- Tragedi itu sangat menyakitkan, penghancur kebahagian kita dan rasa sakit yang ditimbulkannya menghantui sepanjang hidup kita. Sungguh tidak tertahankan
Ada dua cara untuk merespon timpaan gundukan kotoran itu.
Cara pertama, membawa kotoran itu kemana mana bersama dengan kita. Kita taruh segenggam ke saku kita, sebagian kita taruh dalam tas kita, dan sebagian dalam baju kita. Kita bahkan menaruhkannya di celana panjang kita. Kita dapati, ketika kita membawa kotoran itu kemana mana, kita kehilangan banyak teman ! Bahkan teman-teman terbaik pun tampaknya tak begitu sering lagi dekat dengan kita.
"membawa KOTORAN" kemana - mana adalah perumpamaan untuk keadaan tenggelam dalam depresi, hal hal negatif atau amarah. Itu adalah respon terhadap kemalangan yang lumrah dan dapat kita maklumi. Tetapi kita akan kehilangan banyak teman, karena lumrah dan dapat dimalumi pula jika teman teman kita tidak berada di samping kita jika kita dalam keadaan depresi. Lgipula, dengan cara ini, gundukan kotoran itu sendiri tidak menjadi berkurang, tetapi baunya malah bertambah busuk karena makin matang
cara kedua, kita mulai berkerja - mengambil gerobag dorong, sekop dan garu. Kita garu kotoran ke dalam gerobag dorong dan kita membawanya ke belakang rumah dan menguburnya ke kebun belakng rumah kita. Memang sulit dan melelahkan, tetapi kita tahu tak ada pilihan lain. Kadang kita hanya mampu mengatasi separuh gerobag saja dalam sehari, namun kita melakukan sesuatu yang menyelesaikan masalah, daripada hanya mengeluh saja dan terbenam dalam depredsi. Dari hari ke hari, kita menggaru dan mengubur kotoran itu. Dari hari ke hari gundukannya jadi makin berkurang. Kadang, diperlukan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah tiba juga ketika gundukan kotoran di depan rumah kita sudah tidak berbekas lagi. Selanjutnya keajaiban terjadi di belakang rumah kita. Bunga bunga di kebun kita bermekaran dengan warna warni memenuhi semua sudut. Keharuman menyebar sampai ke jalan, sehingga para tetangga dan orang yang lewat pun tersenyum bahagia kareannya. Lalu pohon buah yang tumbuh di sudut taman hampir rubuh karena begitu tergeluyuti oleh buah-buahnya. Dan buahnya sungguh manis ; kita tak dapat membeli buah seperti, tetapi ada begitu banyak buah sehingga kita harus membagikan dengan para tetangga, bahkan orang orang yang lewat dapat menikmati buah yang ajaib itu.
"Mengubur KOTORAN" adalah perumpamaan untuk menyambut datangnya tragedi sebagai penyubur bagi kehidupan kita. Itu perkerjaan yang harus kita lakukan sendiri ; tak ada yang dapat membantu kita. Namun dengan menguburnya ke taman hati kita, dari hari ke hari, gundukan rasa sakit itu akan makin berkurang. Bisa saja itu membutuhkan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah akan tiba takala kita tidak ada lagi merasa sakit di dalam hidup kita dan di dalam hati kita, sebuah keajaiban telah terjadi. Bunga bunga kebajikan bermekaran memenuhi seluruh tempat dan harumnya menyebar sampai jauh ke para tetangga kita, teman kia dah bahkan sampai juga ke orang orang yang tak kita kenal. Lalu pohon kebijaksanaan yan tumbuh di sudut taman hati kita menjadi tergelayut karena saratnya buah pencerahan akan hakikat kehidupan. Kita dapat membagi bagikan buah buah yang enak itu dengan gratis, bahkan kepada orang yang tidak kita kenal, tanpa sengaja merencanakannya.
Saat kita mengalami hal yang tragis, pelajarilah ... dan tumbuhkan ke taman hati kita. Perluas taman hati kita sehingga kita bisa membutuhkan banyak kotoran untuk menyuburkannya kembali.
cerita ini saya kutip dari 108 kisah dari buku berjudul "Si Cacing dan kotoran Kesayangannya" karangan Ajahn Brahmn berjudul"Gundukan Pupuk Kandang"
Dalam kehidupan saya, saya banyak melihat, mendengar para nabi, raja, pemimpin dan orang sukses yang sangat saya kagumi. Mereka adalah orang orang yang besar karena kebijaksanaannya, saya meyakini mereka memilki banyak truk untuk mengangkut kotoran dalam kehidupannya dan mereka memilki taman hati yang sangat luas untuk di tumbuh kembangkan.
Maka bila ada tragedi atau kotoran di dalam kehidupan kita, cukup katakan, " horeee ada pupuk kandang untuk kebun ku ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar