
Pada malam ini, aku tidak bisa mengakhiri hari ini dengan tidur yang lelap, rasa kantuk mengetuk ragaku tapi tidak pikiranku yang menginginkan jiwaku tetap terbangun. Dalam masa ini, aku mencoba menoleh kebelakang dan menerawang ke depan. Adakah jejak tertinggal di belakangku dan adakah petunjuk untuk jalan ke depan ? Dan aku masih sendiri dalan sebuah halte persimpangan jalan menunggu yang tak pasti datang atau aku harus memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Kubuka kembali buku hitamku, melihat kembali 2 lembar kalender yang telah terlewati di pulau ini. aku masih menangis melihat masa masa itu ... itulah aku yang tertuang dalam ukiran pena hitam dan tebal. Banyak cerita haru yang tertera dalam catatan kertas kumal itu, tetapi banyak penghiburan setelah aku melaluinya. Bapa menyediakan segala sesuatu yang aku perlukan dalam menjalani hidup dan meperlengkapi aku dalam melawan tantangan hidup.
Kusadari jiwaku sangat rapuh dan semangatku seperti api terduduk dalam batang lilin yang seketika akan mati jika ada hembusan angin ringan. Sebegitu lemahnya aku menghadapi batu kecil perjalananku. Dalam pena hitam dan kertas putih kumal, kutuliskan kembali ratapan itu setapak demi setapak dan sedikitpun tidak terlewati oleh lamunanku. Semua sudah tertulis begitu saja tanpa kurangkai aksara yang indah dan syahdu hingga menyentuh para pembacanya. Tidak ! aku menulis karena aku menangis bukan narsis atau egois tapi aku sedang dalam kondisi kritis. Tak perlu kalian baca dan komentari apa yang kutulis saat ini, karena aku ingin melepaskanya dalam prosa.
Kubuta tutup penaku, dan kubiarkan pena itu bersandar dalam tangan kiriku. Dan aku kembali menulis dalam lembaran lembaran kertas putih bergaris. Kususun kembali rencana itu dan kupungut kembali remah semangat yang masih tersisa, kucoba ku sulut kembali dalam doa. Kurajut lagi kata kata yang tak berkamus, kukutip ide kreatifku dan buah inspirasi itu. Aku bisa menulis kembali, dan aku menangis dan tertawa kembali... ternyata aku bisa menulis dan bisa membuat tulisan lagi.
Kutulis lagi rencana itu dan aku berdoa agar tuntunNya agar aku bisa melakukannya. Dan kutulis lagi aku apa yang telah aku lakukan dan kutulis semua kesalahanku. Aku belajar untuk menulis rencanaku, melakukannya dan mengevaluasinya .... aku menyediakan kertas, tinta dan pikiranku... Bapa sediakan ruang, waktu dan ide untuk belajar menulis.
aku menulis rancangan hidupku, dan aku menulis dengan pena tinta yang sukar kuhapus kembali, manusia tidak luput akan kesalahan. Bapa menyempurnakan tulisanku tanpa aku bisa melihat dalam ratusan lembaran sampai aku menyadarinya ketika aku membacanya kembali.
Menulis rangkaian hidup dalam lembaran kertas adalah bagian melakukan rehat dalam perjalanan untuk merenung. Jika ratusan lembar telah kupungut kembali hingga engkau membacanya. Lihatlah, tulisanku sangat sempurna karena Bapa mengoreksinya kembali.
I am Author Of My Life, But I am writting with my pen, So I cannot erase my mistakes
Tidak ada komentar:
Posting Komentar