
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dibuat dengan bahan baku bahan bergula seperti tebu, nira aren, bahan berpati seperti jagung, dan ubi-ubian, bahan berserat yang berupa limbah pertanian masih dalam taraf pengembangan di negara maju.
Bioetanol bersifat multi-guna karena dicampur dengan bensin pada komposisi berapapun memberikan dampak yang positif. Pencampuran bioetanol absolut sebanyak 10 % dengan bensin (90%), sering disebut Gasohol E-10. Gasohol singkatan dari gasoline (bensin) plus alkohol (bioetanol). Etanol absolut memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara proporsional memiliki ON 92 atau setara Pertamax.
Sumber dari Agroinfo 2005, setiap tahunnya terdapat sekitar 365 ribu ton ethanol yang dihasilkan oleh pabrik gula di seluruh Indonesia. Jumlah ini sudah mendekati 2% dari kebutuhan bensin di Indonesia setiap tahunnya yang berkisar 20 juta kiloliter. Kalau dilihat angka ini, sebenarnya target pemerintah untuk mensubtitusi 2% bioethanol pada tahun 2010 bukanlah pekerjaan yang sulit. Seperti juga bio diesel, seharusnya pemerintah dapat membuat target yang lebih besar lagi agar konsumsi BBM jenis bensin dapat lebih ditekan sehingga impor BBM yang menggerogoti APBN dapat dikurangi
Apa kendala pengembangan industri bioethanol? Saat ini yang menjadi kendala pengembangan bioetanol antara lain ketersediaan lahan, keterbatasan pasar atau penggunanya. Ada pula kemungkinan hambatan sosial dalam pengembangan tanaman sinkong dan tebu yaitu dalam membangun rasa saling percaya antara petani jarak dengan pengusaha sebagai pengolah biji jarak. Meskipun tanaman ubi dan tebu sangat potensial dikembangkan sebagai energi terbarukan dengan harga murah, dapat ditanam di lahan kritis, dan dapat meningkatkan pendapatan petani, tapi belum semua pihak menyadari potensi tersebut.
Kompetisi bahan baku atau peningkatan kesejahteraan petani ? Tanpa dibarengi dengan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, industri bioetanol akan berkompetisi secara langsung dengan pengguna tebu/molases, ubikayu, jagung dan bahan baku lainnya. Pada kondisi kritis ini, industri bioetanol lebih sensitif terhadap peningkatan harga dibandingkan dengan industri pangan, karena biaya produksi 1 liter bioetanol hampir sama dengan harga 1 kg produk industri pangan. Padahal 1 liter etanol memerlukan 2 kg bahan baku setara 2 kg produk industri pangan. Jadi, industri bioetanol pasti akan kalah bersaing dan mencari bahan baku alternatif yang lebih murah
Penggunaan dan komersialiasi bioetanol di Indonesia mungkin tidak dapat dilihat dalam waktu dekat. Hal ini antara lain disebabkan karena belum adanya aturan hukum yang jelas dalam industri ini dan standar penggunaan bahan-bahan untuk biodiesel dan bioetanol sehingga menyulitkan produsen biodiesel dan bioetanol untuk memperoleh pembiayaan dan menjalankan bisnisnya. Selain itu, kurangnya jaringan distribusi dan infrastruktur menyulitkan pemasaran bioetanol di pasar domestik. Sebagai konsekuensi, sebagian besar bioetanol yang diproduksi di Indonesia sekarang digunakan untuk pasar ekspor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar