03 September 2009

UBAH HIDUP LEWAT BUKU

ALKISAH, anak itu berlari-lari pulang ke rumahnya. Tangannya yang mungil memegang sepucuk surat dari guru sekolahnya. Di ambang pintu rumah ia berteriak "Mama... mama, ada surat dari bapak guru." Ibunya, Nancy Elliot, mantan guru, menyambut anak bungsu dari tujuh bersaudara ini dengan ciuman dan pelukan penuh kasih sayang.

"Coba mama lihat," ujarnya sambil membuka amplop surat. Tangannya gemetar saat matanya menyusuri kata demi kata. "Anak ini terlalu bodoh untuk dididik. Kami mengembalikannya kepada anda. Mulai besok tidak perlu datang ke sekolah lagi."

"Ma, mengapa menangis?" tanya si anak, lugu. Dengan cucuran air mata sang ibu meraih tubuh mungil itu, memeluknya sambil berkata, "Thomas, I educated you my self. (Thomas, ibu akan mendidikmu sendiri). Waktu itu si anak berusia 7 tahun, dan baru 3 bulan mengecap pendidikan formal di sekolah. Dan sejak itu, ia tidak pernah masuk sekolah lagi.


Ibunya mengajari membaca. Dengan penuh kesabaran, akhirnya Thomas bisa membaca. Bahkan ia menjadi seorang kutu buku. Ketika usia 12 tahun, Thomas menjadi penjual kue, permen, kacang, dan koran di kereta api. Ia pernah ditampar kondektur, sehingga pendengarannya rusak. Walaupun ia sibuk berjualan dan pendengarannya rusak, ia tak pernah meninggalkan kegemarannya, membaca buku!


SUNGGUH sulit dibayangkan bahwa anak yang "terlalu bodoh," drop out dari sekolah dasar, dan sempat menjadi pedagang asongan itu kemudian mencantumkan namanya dalam deretan ilmuwan paling terkemuka di muka bumi. Tidak kurang dari tiga ribu penemuan yang dicatat atas namanya.

Dialah Thomas Alva Edison. Apa yang membuat Edison menjadi cerdas? Salah satu yang membuatnya cerdas dan berhasil melakukan berbagai penemuan, tiada lain adalah kegemarannya membaca buku. Luar biasa, manfaat dari membaca buku. Dengan membaca buku mampu mengubah kehidupan seseorang.

Pantas jika akhir-akhir ini, ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit demensia atau pikun. Demensia merupakan penyakit yang merusak jaringan otak. Seseorang yang terkena demensia dipastikan akan mengalami kepikunan atau dalam bahasa remajanya disebut tulalit. Dr. C. Edward Coffey, seorang peneliti dari Henry Ford Health System, telah membuktikannya.

Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan termurah adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti rugi perubahan otak. Hal ini dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 - 99 tahun yang tak terkena demensia.

Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi.
Jepang, Amerika, Jerman, dan negara maju lainnya yang masyarakatnya punya tradisi membaca buku, begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi, ketika antre membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, mereka manfaatkan waktu dengan kegiatan produktif yakni membaca buku. Di Indonesia kebiasaan ini belum tampak.

Menumbuhkan kebiasaan membaca harus dimulai dari keluarga. Orang tua berperan penting dalam menumbuhkan kegemaran membaca buku anak-anaknya. Untuk menjadikan anak memiliki kegemaran membaca, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pepatah Inggris mengatakan we first make our habits, then our habits make us. Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, bila orang tua ingin anaknya mempunyai kegemaran membaca buku, maka membaca buku perlu dibiasakan sejak kecil. Disamping perlunya keteladanan dari orang tua sendiri.

Saat ini, biaya pendidikan kian membumbung. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat menikmati pendidikan formal sampai jenjang perguruan tinggi. Bagi mereka yang belum beruntung dari aspek ekonomi, sehingga tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, mestinya tidak berkecil hati. Membaca buku menjadi alternatif untuk bisa menjadi terpelajar layaknya orang yang mengikuti pendidikan formal.


Banyak tokoh dan cendikiawan tak sempat mengenyam pendidikan formal sampai jenjang pergurunan tinggi tapi mereka menggantinya dengan membaca buku. Orang-orang berpengaruh di Indonesia pada masa lalu, ternyata kehidupan nya tak bisa dilepaskan dari peran buku. Adam Malik, misalnya, salah seorang yang perkembangan intelektualnya dibesarkan oleh buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan keliling, tanpa harus mengikuti pendidikan formal. Jadi, tidak ada alasan tidak bisa menjadi orang terpelajar karena tidak bisa mengikuti pendidikan formal.

Tentu akan lebih baik jika dapat menempuh pendidikan formal yang cukup tinggi dan dibarengi dengan kegemaran membaca buku. Kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan formal sampai jenjang perguruan tinggi jika dibarengi dengan kegemaran membaca buku tentu akan menghasilkan out put yang berkualitas. Kelak out put tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.

Sayangnya, kini kita dihadapkan pada kenyataan yang sangat memprihatinkan. Mahasiswa, yang secara formal merupakan makhluk terpelajar, justru dihinggapi penyakit malas membaca. Minat baca buku di kalangan mahasiswa, harus diakui masih rendah. Mereka masih mengandalkan peran dosen dalam menerima ilmu.

Minim sekali mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk memperdalam ilmunya dengan mencari dan membaca langsung buku-buku sumbernya. Budayawan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya "Negeri yang Malam" (Tinta, 2002) buah tangan Agus Ahmad Safei mengatakan, kutu-kutu lebih rajin membaca buku dibanding mahasiswa, juga dosen-dosennya. Perpustakaan bekerja amat santai, bahkan ada hari ketika perpustakaan nganggur sama sekali. Mahasiswa hanya menjadi konsumen komoditas eceran di pasar ilmu. Waktu ke pasar, mereka cukup membawa kantung telinga, otaknya disimpan di dalam almari besi.

Manfaat Membaca :

1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan
orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, orang bisa mengembangakan keluwesan dan kefasihan dalam
bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan
pemahaman.
7. Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan
orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
8. Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat
dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu
dan aplikasinya dalam hidup.
9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan
menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
10. Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari
berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan
kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis
“diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar