03 September 2009

Ikatlah ilmu dengan menulis!

Pernyataan di atas sekilas hanya klise. Melakukannya tidak semudah mengatakannya. Menuliskan sesuatu yang baru saja kita pelajari mungkin dianggap hanya akan menambah kebingungan kita. Belum lagi kita mengerti benar ilmu dan pengetahuan itu, konsentrasi dan tenaga kita sudah terpecah hanya karena kita berusaha menuliskannya. Namun apakah benar orang yang berpendapat demikian?

Sebenarnya, dan banyak orang sudah membuktikan, aktivitas menulis sama menyenangkannya dengan aktivitas membaca, sejauh kadar keingintahuan seseorang. Anda boleh takjub, di sekitar kita ada orang-orang yang mampu melahap beberapa buku hanya dalam satu hari, bahkan dalam hitungan jam. Anda mungkin lebih takjub lagi bahwa benar ada orang-orang yang mampu menulis satu buku setiap harinya, bahkan sampai beberapa jilid. Kemampuan menulis mereka sebaik kemampuan membacanya. Sebagian mereka berkata, jika anda menulis maka anda setidaknya menjadi harus biasa membaca.


Buat orang yang belum pernah menulis, tentu pertama sekali mencoba menulis rasanya sulit. Namun percayalah, kesulitan yang anda hadapi tidak ada artinya dibanding kemanfaatan yang akan anda peroleh. Bagaimana jika anda bersungguh-sungguh belajar dan berlatih menulis? Anda bukan hanya akan menjadi makin mampu menulis. Anda malah akan mendapatkan keterampilan ekstra lainnya, yaitu membaca berbagai literatur, mengaitkan satu sama lain sembari menyimpulkan, dan menyajikannya ulang dengan ‘menu’ anda sendiri. Sekarang lah saatnya anda mencoba mulai menulis!

Sugesti Otak Kiri


Sebelum anda mulai menulis, terkadang, bahkan mungkin sering, sebagian dari anda akan langsung terbersit pikiran, “saya tidak bisa menulis”. Seolah-olah begitu saja muncul dari diri anda perasaan malu. Anda berkata dalam hati, “tulisan saya jelek”, atau beralasan, “saya malas menulis”. Inilah masalah terbesar yang harus kita atasi lebih dulu.

Justru, kita akan banyak menemukan tulisan yang amburadul itu ditulis oleh orang-orang yang selalu berkata, “saya malu, tulisan saya jelek”. Demikian juga, tulisan-tulisan yang produktif tidak pernah dihasilkan oleh orang-orang yang selalu berdalih, “saya malas menulis”. Ternyata, mereka selalu mengungkapan diri mereka seperti itu sebelum sungguh-sungguh mencobanya, bahkan jauh-jauh hari sebelum memulainya.

Hati-hati, bisa saja pikiran-pikiran anda tadi menjadi semacam doa anda pada diri sendiri. Kata orang-orang psikologi, pikiran anda tadi hanya akan mensugesti diri anda untuk menjadi apa yang anda pikirkan itu. Kalau anda berkata, “saya tidak bisa”, maka sesungguhnya anda sudah tidak bisa lebih dulu pada saat anda mengatakannya. Jika anda berkata, ”saya malu”, maka sebenarnya anda telah menjadi seorang penilai yang mengatakan bahwa diri anda tidak pantas. Dan, kalau anda berkata, “saya malas”, maka pernyataan anda itu telah menunjukkan bahwa anda memang seorang pemalas.

Anda secara tidak langsung telah menjadi diri anda seperti apa yang anda katakan pada saat anda mengatakannya. Begitu juga ungkapan negatif thinking lainnya. Praduga itu telah menjerumuskan banyak orang menjadi terkungkung sebatas hanya pada apa yang ia duga tentang dirinya. Anda yang terus berkata demikian berarti anda telah menyerah sebelum bertempur. Anda sendiri yang memvonis ketidakmampuan itu terjadi pada diri anda. Pertanyaannya adalah, ingin menjadi seperti apakah anda? Banyak orang biasanya spontan memilih sesuatu yang negatif, padahal terbuka peluang juga bagi anda untuk menjadi seseorang yang positif. Tentu saja kita semua tahu bagaimana jawaban orang yang benar-benar percaya diri.

Memang, sugesti negatif sering muncul secara spontan. Bentuk spontanitas dan naluri kita itu terutama dipengaruhi oleh lingkungan. Masalahnya, kita biasa hidup di lingkungan yang ‘kiri’. Maksud saya kiri di sini adalah otak kiri. Aktivitasnya bercirikan linier, keteraturan, formalitas, dan kebiasaan-kebiasaan baku yang memang sering tampak di depan kita. Itu membuat kita hanya merasa bagus, baik, dan memiliki kemampuan, jika dan hanya jika kita dapat menyesuaikan diri dengan apa-apa yang biasanya ada di sekitar kita. Padahal keteraturan sering mematikan kreativitas. Ini justru menghambat potensi diri untuk tampil menjadi pribadi yang unik dan berharga. Sugesti otak kiri hanya akan memalingkan anda dari keinginan untuk mencoba. Padahal hanya dengan mencoba anda dapat belajar. Walaupun mungkin pada awalnya anda gagal, namun anda pasti dapat mencobanya lagi kemudian berusaha lagi dengan lebih baik berdasar pengalaman anda sebelumnya.

‘Peralatan Dapur’ Tulisan Anda

Sebuah tulisan layaknya sebuah hidangan bagi rohani dan pikiran. Sebelum disajikan kepada pembaca, bahan baku tulisan telah diolah terlebih dulu, sehingga ia layak dinikmati. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat demi kalimat disusun menjadi paragraf, dan seterusnya hingga utuh menjadi satu kesatuan tulisan. Walaupun anda ‘memasak’ tulisan menurut cara dan selera anda sendiri, namun kalau hasilnya benar enak, pasti akan tetap nikmat dan diminati banyak orang.

Biasanya, ‘peralatan dapur’ yang digunakan untuk menulis hampir sama antara penulis yang satu dengan yang lain. Selain ‘peralatan dapur’ yang sesuai, resep yang pas akan menentukan cita rasa tulisan. Buat konsumsi pembaca kalangan mahasiswa dan kaum intelektual, maka resep yang kerap dipakai banyak penulis adalah tulisan ilmiah populer. Ini bukanlah resep rahasia yang hanya dimiliki penulis tertentu, namun dapat dicoba dan dimiliki siapa saja.

Tulisan ilmiah populer memiliki cita rasa yang khas, yang membedakannya dengan tulisan yang lain. Benar bahwasanya tulisan ilmiah populer yang nikmat tidak begitu saja dapat dihidangkan. Kunci mengolahnya ada pada resep menulis dan peralatan dapur menulis yang anda miliki. Demikianlah, pada tulisan edisi selanjutnya saya akan coba perkenalkan pada anda beberapa ‘peralatan dapur’ yang biasa dipakai dalam menulis ilmiah populer. Kemudian dengan resep sederhana yang akan saya beberkan nanti, setidaknya anda dapat mulai mencoba berlatih menulis ilmiah populer. Siapkan diri anda!


* Tulisan ini adalah bagian dari sebuah makalah yang disampaikan pada Pelatihan Jurnalistik Ilmiah Populer pada kegiatan Green Technology Fair (GTF) 2002 yang diadakan Entropi Majalah Populer Teknik Kimia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar